
![]() |

Pemain film Alyssa Soebandono sering memeriksa payudaranya saat mandi. Walaupun ia tidak tahu persis bagian mana yang harus ditekan, menurut dia, itu salah satu tindakan deteksi dini kanker payudara yang bisa dilakukan sendiri.
”Aku kan juga belajar biologi, jadi tahu dikit-dikit deh,” kata perempuan yang lahir di Jakarta, 25 Desember 1991, ini.
Icha, panggilannya, hadir dalam acara ”Think Smart, Prevent Early, Always Care for Breast Cancer” di Jakarta Selatan, akhir pekan lalu. Acara ini diadakan Yayasan Kesehatan Payudara.
Kehadiran Icha dalam acara ini di antaranya untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang penyakit kanker yang bisa menyerang siapa saja, tanpa pandang usia.
”Untung selama ini belum ada teman atau saudara aku yang kena (kanker) itu. Tapi, kita kan tetap perlu mengupayakan pencegahan,” kata Icha yang sedang shooting sinetron Upik Abu dan Laura ini.
Menurut Icha, salah satu upaya pencegahan kanker adalah dengan bergaya hidup sehat, di antaranya dengan berolahraga teratur dan mengonsumsi makanan yang sehat.
”Kalau aku sih enggak pernah sakit parah. Pernah juga sih dioperasi usus buntu,” kata gadis yang suka olahraga kebugaran ini. (EDN)
Salah seorang pemain film yang terjun dalam bursa pencalonan legislatif atau caleg pada Pemilu 2009 adalah Wulan Guritno (27). Dia masuk dalam pencalegan lewat Partai Amanat Nasional. Ia menjadi caleg nomor urut satu untuk daerah pemilihan Jawa Tengah III (Pati, Blora, Grobogan, dan Rembang).
Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional Soetrisno Bachir dalam acara peringatan hari ulang tahun ke-10 partai tersebut di Bandar Lampung, akhir pekan lalu, menegaskan, para artis harus turun ke lapangan menjangkau masyarakat, terutama di daerah pemilihannya.
Bagaimana dengan Wulan?
”Rencananya saya akan bersilaturahmi (bersilaturahim) kepada para kiai. Setidaknya di dua daerah pemilihan saya itu, kan basisnya NU (Nahdlatul Ulama),” kata ibu satu anak yang akan turun menjangkau konstituen sepulangnya dari Inggris.
”Tanggal 1 September nanti saya mau ke Inggris untuk urusan keluarga. Setelah itu baru saya turun ke daerah pemilihan. Saya usahakan turun di bulan September, sebab ini kan bulan puasa yang tentunya juga hari baik,” kata Wulan yang menandatangani surat pernyataan bersedia digantikan bila tak memperoleh suara sebagaimana disyaratkan.
Untuk daerah pemilihannya, Wulan harus mendapatkan minimal 95.143 suara. Jika tak berhasil, caleg lain dengan suara terbanyak akan menggantikan posisinya.(HLN/SEM)
Ketua Mahkamah Konstitusi atau MK yang baru terpilih tanggal 19 Agustus lalu, Mahfud MD, punya pengalaman ”aneh” setiap kali ia akan memangku jabatan di pemerintahan.
Lelaki kelahiran Sampang, Madura, Jawa Timur, 13 Mei 1957, itu bercerita, dia didatangi orang misterius yang menyampaikan kabar bahwa ia akan menduduki posisi dalam pemerintahan. Itu dialaminya pertama kali tahun 1999 ketika menjabat sebagai Pembantu Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.
”Waktu itu saya didatangi orang yang bilang kalau saya akan jadi orang penting dan tidak kembali ke Yogya lagi. Tak berapa lama kemudian, saya dipanggil ke Jakarta menjadi staf ahli Menteri Negara Urusan HAM sampai menjadi Menteri Pertahanan. Sejak itu saya jarang pulang ke Yogya,” katanya.
Pengalaman itu terulang saat ia akan menjadi Ketua MK. ”Dua hari sebelum terpilih, saya bertemu orang misterius lagi. Dia bilang saya akan menduduki posisi penting,” ujarnya.
Meski begitu, Mahfud mengaku semua kejadian itu tak lantas membuatnya percaya pada ramal-meramal. Ia menganggapnya sebagai pengalaman unik belaka.
Lantas, kalau ada orang misterius yang muncul lagi dan bilang Mahfud akan menjadi presiden bagaimana? ”Ah, itu terlalu ’tinggi’,” ujarnya sambil tertawa. (ENG)
Di mata musisi jazz Idang Rasjidi (50), Solo adalah kota yang berbudaya. Karena itu, saat MedcoGreen Energy Jazz menggelar konser di kampus-kampus, Institut Seni Indonesia Surakarta menjadi salah satu pilihan.
”Solo itu penghasil musisi jazz, salah satunya almarhum Embong Raharjo. Dia asli, besar, dan berkembang dari Solo,” ujarnya. Idang tampil pada Konser Jazz di Kampus ISI Surakarta, Senin (25/8) malam.
Idang bercerita, ia sering tampil di sebuah hotel di Solo. Karena itu, ia merasa prihatin dengan perkembangan jazz di Solo, padahal tak sedikit komunitas jazz di kota ini.
Oleh karena itu, ketika Idang dan The Syndicate tampil, ia memberi kesempatan bagi dua grup jazz dari Solo, Med Season dan Sipakatau, untuk naik panggung. Malam itu, Idang juga berduet dengan penyanyi jazz pendatang baru, Mattew Sayers (20) dan Sierra (24).
Lewat pertunjukan ini, Idang dan The Syndicate juga mengampanyekan upaya menjaga kelestarian lingkungan. Lagu-lagu yang dibawakan sarat pesan lingkungan.
”Banyak orang bicara tentang lingkungan, tetapi kesadaran yang ditunjukkan tidak sesuai dengan yang diomongin,” kata pria yang doyan makan gudeg ceker ini. (SON)