Rabu, 10 Februari 2010
Gaya Hidup
Mitos Superior dan Mental Inlander

Minggu, 4 Mei 2008 | 01:55 WIB

 

 

Kakawin Arjunawiwaha Pupuh 3 memberi gambaran tentang tubuh perempuan: ”Tubuhnya langsing, payudaranya besar, pinggangnya kecil, dan warna kulitnya kekuning-kuningan.” Di bagian lain digambarkan, ”Kulitnya gelap kehitam-hitaman, ia tidak suka tertawa. Jika tertawa ia selalu berusaha menutupi mulutnya.”

Betapapun, karya Empu Kanwa itu adalah kearifan lokal tentang idealisme kecantikan perempuan. Terkait dengan keragaman budaya di Nusantara, setiap etnik niscaya punya tradisi dan pemahaman nilai yang berbeda tentang kecantikan warna kulit.

Akan tetapi, dalam arus globalisasi sekarang ini, ukuran ideal menurut nilai-nilai lokal itu terpinggirkan oleh pencitraan yang dilakukan secara masif oleh iklan-iklan kosmetik komersial. Masyarakat tanpa sadar digiring pada ukuran ideal yang dicitrakan, yaitu citra Indo-Eropa, baik dalam warna kulit, postur maupun garis wajah.

Kaum perempuan di Asia, termasuk Indonesia, berlomba-lomba mengonsumsi produk pemutih kulit (whitening) untuk melahirkan identitas baru sebagai perempuan modern dan kosmopolit.

”Modernitas dan globalisasi membentuk masyarakat jadi makin seragam, homogen, dengan sistem standardisasi melalui teknologi dan hal-hal yang bersifat komersial,” papar Vissia Ita Yulianto, penulis buku Pesona Barat (Analisa Kritis Historis tentang Kesadaran Warna Kulit di Indonesia) dalam diskusi yang menyertai Temu Koreografer Wanita Ke-6 di Solo, Jawa tengah, Selasa (29/4).

Vissia mengemukakan, di bawah panji globalisasi, negara-negara kolonial telah melakukan pemaksaan melalui mekanisme pasar. Kapitalisme media membentuk cara pandang kita terhadap dunia; kesadaran kita terhadap masalah kelas, identitas, citra diri, hingga nilai-nilai hidup: apa yang dianggap baik atau buruk, bermoral atau jahat.

Penayangan produk-produk budaya komersial dari Barat–Hollywood, London, atau Paris—dengan segala atributnya yang prestisius telah menciptakan gap-gap terhadap lokalitas di negara-negara yang mengonsumsinya.

”Karena kita tidak melek media dan kita juga tidak punya tradisi berpikir dialektis, maka saat politik budaya beralih rupa menjadi kapitalisme dan feodalisme global, lagi-lagi kita menjadi obyek,” ujarnya sambil menambahkan, banyak kaum perempuan yang tanpa sadar terjebak pada kepentingan dan kompensasi sesaat; seperti kompensasi atas kesadaran warna kulit ini.

Tingkat konsumsi masyarakat terhadap produk pemutih kulit di Indonesia meningkat secara signifikan. Jenis produk pemutih pun bertambah hingga mencapai 47 jenis. Mengutip data AC Nielsen, pada kurun waktu Januari 2002-Desember 2003, produk pemutih Ponds White Beauty-Skin Lightening di Indonesia meningkat drastis hingga 110 persen, dari Rp 46 miliar menjadi Rp 97 miliar.

Mengapa kita mudah termakan oleh iklan-iklan bahwa yang berbau Barat itu mesti lebih baik, bahkan superior? Jawab Vissia, ”Pemujaan terhadap nilai-nilai asing, khususnya perilaku perempuan Indonesia, itu terjadi karena ketidakberdayaan masyarakat untuk menyikap laju Westernisasi, yang amat cepat dan menyilaukan. Ketidaksiapan itu disebabkan karena mereka menderita rasa rendah diri, yaitu mentalitas inlander.”

Mitos bahwa Barat itu lebih superior dibanding yang melekat pada bangsa sendiri itu tidak datang serta-merta. Perasaan itu muncul dari rembesan pengalaman sejarah yang secara turun-menurun diwariskan oleh para pendahulu ke dalam tradisi kehidupan rakyat Indonesia hingga saat ini. (asa)

Share on Facebook
Nilai 4 A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: