
Minggu, 11 Mei 2008 | 23:52 WIB
Medan, Kompas - ”Aku dan Batak” menjadi tema pameran lukis Mangatas Pasaribu, perupa Medan yang juga dosen Universitas Negeri Medan di Galeri Tondi, Medan, hingga akhir Mei ini. Mangatas menampilkan 15 lukisannya yang dibuat sejak tahun 1995 hingga 2008.
Menurut Mangatas, tema ”Aku dan Batak” diambil karena siapa saja bisa menjadi aku yang merefleksikan Batak. Secara pribadi, pameran ini merupakan refleksi Mangatas tentang dunia Batak.
Tema lukisan realis Mangatas beraneka ragam yang merupakan simbolisasi Batak dalam gambar dan satu karya seni instalasi. Mangatas tidak hanya menampilkan warna merah, putih, dan hitam, warna khas Batak, tetapi juga menampilkan warna hijau yang diartikannya sama dengan merah, yaitu kesuburan.
Lukisan yang muncul, antara lain, menampilkan Pohon Hayat yang merupakan pohon kehidupan warga Batak, Pusuh Buhit yang merupakan tempat yang dipercaya warga Batak sebagai tempat munculnya manusia dan gambaran hewan-hewan dalam mitologi Batak, seperti kuda, gajah, kerbau, dan cicak.
Adapun seni instalasi yang ditampilkan Mangatas berupa lantai yang dipenuhi semacam abu yang dilukis di atasnya. Di tengah hamparan abu itu berdiri kaki tiga dari rotan yang digantungi semacam alat penunjuk ke arah cermin di bawahnya.
Tiga piring warna hitam, merah, dan putih berada di sudut hamparan abu berisi telepon seluler, kunci, dan pisang.
Daulat Saragih, ahli filsafat dan simbol Batak Universitas Negeri Medan, mengatakan, tema-tema yang muncul dalam lukisan Mangatas adalah tema kosmologi Batak dan simbolisasi Batak yang merupakan spirit Batak lama, khususnya sebelum masuknya agama-agama besar ke Tanah Batak. (WSI)