Senin, 8 September 2008
Sajak-sajak Radhar Panca Dahana
Minggu, 25 Mei 2008 | 01:16 WIB

Kamartamuku

sejak pintu meranti

secoklat cat tahan api

lalu puzzle ubin susu 9 m

lukisan abstrak, kaku dan sepi

rotan melingkar di tiga kursi

bukan kekasih, ia menanti

sampai mati.

tak ada apa tanpa siapa

tak ada siapa tanpa sapa

tiada tuan tanpa tamu yang sopan

tiada katakata kecuali lupa,

maka meranti pintu berderik

di lewat larut jangkerik mengerik.

bila kau datang

utusan tujuh langit,

mereguk kopi dan sebutir kurma

penghuni yang karma,

maka ketuklah pintu tak perlu

di kubus remang itu rindu melulu.

kau bertuan

aku bertamu

begitu

selalu.

Toiletku

sesungguhnya ia persis di tengah

seperti ia menadah tumpah

semua sampah kenikmatan tengah.

dengan porselen putih

kran hitam yang letih

dua-tiga datang sehari

membuang semua yang tak dimaui

tapi, ia memeliharanya

mengubah dan menghidupkannya

selaik asal-usulnya

yang memberi sedap di lidah

harum di cium

atau ketololan

di kelaminnya.

tolong tutup tirai itu,

ada yang sedang mengejan

perasaan busuk dan hati lapuk

perkawinan kecut dan terpuruk

dan dengar jatuhnya,

kuat, berat, tenggelam seketika.

kuhela O hingga atap terbuka

aahh...

langit kotak senyumnya tawa

kepalaku bening hati hampa

“istriku... istriku..."

mataku menghujam kangen

berabad menunggu

(tapi wajahnya datar

saat keluar

dengan handuk berkibar)

Dapurku

kini ciumlah segera

bukan asap pembakaran

cabe busuk di keranjang

atau serapah belanja yang kurang,

tapi ritus lucu tiap hari

tiga perut kosong lelaki

melingkar mahoni hitam berkaki.

piring berdentang tak bunyi

bagai harapan dingin dan sunyi

bukan soal rizki

atau segantang nasi,

bukan hidup yang dicari

atau diri yang diisi

bukan juga Kau karena memberi

atau Kau menjelma kami

tapi kuah sup pahit ini

seteguk air kali

dan senyum setubuh istri,

melempar lapar

memisau risau

dan sembah sajadah

tiga lelaki menjatuhkan hati

di mahoni dengan 4 kaki.

maka bila kau singgah

lewati tengah tanpa jengah

ke ruang berasap ini,

karena kami sanak menanti

siapa yang hilang diri

dan ingin sebutir nasi.

Kantorku

cuma 1 X 1,5 m saja

terhimpit almari dan jendela

tumpukan kertas, alat tulis,

bukubuku, rasa cemas,

mesin ketik, kretek, dan kopi

hingga larut pagi.

tak perlu cari apa di sini

melulu keringat katakata

beberapa data segudang fantasi

sedikit slogan selebihnya dusta.

tak ada musik bila kaumau

desah malam plus jantung terengah

jadi melodi

hidup yang gerak, dalam diam

hidup mesin di otak, di hati bungkam.

keranjang sampah di kaki

terlalu sempit untuk bukubuku.

dan derit subuh yang mengendap

jadi alarm sepimati.

segala sirna, tinggal cahaya

di embun ufuk pertama.

dan sebelum subuh ditabuh

kantorku pulas jiwa tiada

kecuali @ku.

Lotengku

jangan coba memanjat!

tak ada tangga juga pijakan

lotengku mengeram di semua ruang

aku, cuma aku silakan datang

tak tetirah bukan bertandang

tapi menyimpan diriku

dalam sudutsudut remang

gelantar kayu keropos

atau di selempit debu tebal

sejarah manusia bebal.

jangan berharap masuk, sobat

pengap, gelap, bakteri,

tikus, rayap, atau

hantu kampungan itu

tidaklah mengganggu.

hanya tubuhku yang pecah

jadi semua itu

jadi loteng itu

yang mesti kau anggap perlu.

apa kau berani, duduk di situ

bersamaku bersama malam selalu?

ruang piramid ajaib ini

selalu menghisap

segala terang yang nyata di bawahnya

seperti kepalamu

menyedot semua yang di bawahnya.

jadi jangan berdiam di situ

termangu sebaja paku

atau mau kau ditelan lotengku? atau mau kau bikin lotengmu

(dalam lotengku)?

Lautmati Tidurku

dia kotak segiempat biasa

tapi diisi, penuh, dan

dibentuk segitiga:

lemari, rak buku kecil,

dan kasur tipis di lantai.

bila berada di tengahnya

atau tergolek di kasurnya

segitiga lekas menelan

membawamu ke mana

ketiganya memiliki maksud:

lemari, buku, kasur.

lalu kita lupa akal alpa rasa

tubuh genap melenyap

segitiga membuka pintu

dimensi keempat kita melontar

berkelana, ke padang pasir bersalju

memerahu kali di pucukpucuk menara

menunggang singa berkepala ayahnya

atau menenggak susu dalam hatinya.

diri-keempat

membuat rumah baru di kelingkingnya

mencari istri di leleh benaknya

menemukan terang di gelap

menjadi gelap yang bercahaya

masuk-masyuk-merasuk

Aku mengamu

kamu meng-Aku.

hingga kesadaran mengganggu

perasaan bernafsu

dan tubuh di tinju subuh.

lalu dapatkan dirimu

dengan selimut terbuka

dan mulut berliur

bagai usai diguncang samudra

tanpa tenggelam

tanpa tenggelam.

maka senanglah aku

lalu menyebutmu

penuh rindu

: lautmatiku.

Laluaku

lelaki bersumur hitam di matanya

lengan cacat, urat biografis

berpeta liat di jidatnya,

itulah ayahmu.

dan perempuan dengan bibir

di seantero wajahnya

bertukarkatup dengan selangkangnya,

itu ibumu juga.

lalu lihat lihatlah

air terjun sunyi, di mana

kenanganmu mencuci diri

berhulu di katup mata

berwajah tanpa pasi itu,

sebenarnya kandungmu.

anak... anakku,

mobil mainan yang meluncur

jatuh mengambang di kali itu

yang jadi perenang sejati itu,

ternyata dirimu.

siapa di antara itu

sesungguhnya aku?

Segala Cukup bagi Segala

bila kau panahkan

waktu di matamu

pada embun di lidahku

hingga habis semua mau

aku takkan berpaling

bila hari memipih

menjadi garis dan

lenyap di tapal hati

lalu masa teraduk, berembuk

di roti sarapan terakhir

aku bergeming

bila dunia memberiku

kerjakerjakerja

dan perut primitifku

menghisap pundi, puji, posisi

aku tunaikan hajatku

lalu pergi memanen sepi

bila dengan keledai troja

kau datang mengerling untukku

hingga rumput lembab dengan nafsu

lampu pesta sirap di tutup kelambu

dan kau menjelma dewi

membawaku tertawa abadi

aku bilang: cukup.

menitku 60 saja

langkahku tak sedepa mimpimu

dan segelas air sehisap udara

di detik 61

telah memberiku segala

seperti burung kecil ababil

dengan siul yang berkabar

“kekasihku,

aku bahagia."

Radhar Panca Dahana lahir di Jakarta, 26 Maret 1965. Kumpulan puisinya adalah Lalu Waktu (1994) dan Lalu Batu (2003). Selain menulis puisi, cerpen, lakon, dan esai, ia aktif mengelola Bale Sastra Kecapi dan Federasi Teater Indonesia.

A A A
BERITA TERPOPULER

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort