
![]() |
Kamartamuku
sejak pintu meranti
secoklat cat tahan api
lalu puzzle ubin susu 9 m
lukisan abstrak, kaku dan sepi
rotan melingkar di tiga kursi
bukan kekasih, ia menanti
sampai mati.
tak ada apa tanpa siapa
tak ada siapa tanpa sapa
tiada tuan tanpa tamu yang sopan
tiada katakata kecuali lupa,
maka meranti pintu berderik
di lewat larut jangkerik mengerik.
bila kau datang
utusan tujuh langit,
mereguk kopi dan sebutir kurma
penghuni yang karma,
maka ketuklah pintu tak perlu
di kubus remang itu rindu melulu.
kau bertuan
aku bertamu
begitu
selalu.
Toiletku
sesungguhnya ia persis di tengah
seperti ia menadah tumpah
semua sampah kenikmatan tengah.
dengan porselen putih
kran hitam yang letih
dua-tiga datang sehari
membuang semua yang tak dimaui
tapi, ia memeliharanya
mengubah dan menghidupkannya
selaik asal-usulnya
yang memberi sedap di lidah
harum di cium
atau ketololan
di kelaminnya.
tolong tutup tirai itu,
ada yang sedang mengejan
perasaan busuk dan hati lapuk
perkawinan kecut dan terpuruk
dan dengar jatuhnya,
kuat, berat, tenggelam seketika.
kuhela O hingga atap terbuka
aahh...
langit kotak senyumnya tawa
kepalaku bening hati hampa
“istriku... istriku..."
mataku menghujam kangen
berabad menunggu
(tapi wajahnya datar
saat keluar
dengan handuk berkibar)
Dapurku
kini ciumlah segera
bukan asap pembakaran
cabe busuk di keranjang
atau serapah belanja yang kurang,
tapi ritus lucu tiap hari
tiga perut kosong lelaki
melingkar mahoni hitam berkaki.
piring berdentang tak bunyi
bagai harapan dingin dan sunyi
bukan soal rizki
atau segantang nasi,
bukan hidup yang dicari
atau diri yang diisi
bukan juga Kau karena memberi
atau Kau menjelma kami
tapi kuah sup pahit ini
seteguk air kali
dan senyum setubuh istri,
melempar lapar
memisau risau
dan sembah sajadah
tiga lelaki menjatuhkan hati
di mahoni dengan 4 kaki.
maka bila kau singgah
lewati tengah tanpa jengah
ke ruang berasap ini,
karena kami sanak menanti
siapa yang hilang diri
dan ingin sebutir nasi.
Kantorku
cuma 1 X 1,5 m saja
terhimpit almari dan jendela
tumpukan kertas, alat tulis,
bukubuku, rasa cemas,
mesin ketik, kretek, dan kopi
hingga larut pagi.
tak perlu cari apa di sini
melulu keringat katakata
beberapa data segudang fantasi
sedikit slogan selebihnya dusta.
tak ada musik bila kaumau
desah malam plus jantung terengah
jadi melodi
hidup yang gerak, dalam diam
hidup mesin di otak, di hati bungkam.
keranjang sampah di kaki
terlalu sempit untuk bukubuku.
dan derit subuh yang mengendap
jadi alarm sepimati.
segala sirna, tinggal cahaya
di embun ufuk pertama.
dan sebelum subuh ditabuh
kantorku pulas jiwa tiada
kecuali @ku.
Lotengku
jangan coba memanjat!
tak ada tangga juga pijakan
lotengku mengeram di semua ruang
aku, cuma aku silakan datang
tak tetirah bukan bertandang
tapi menyimpan diriku
dalam sudutsudut remang
gelantar kayu keropos
atau di selempit debu tebal
sejarah manusia bebal.
jangan berharap masuk, sobat
pengap, gelap, bakteri,
tikus, rayap, atau
hantu kampungan itu
tidaklah mengganggu.
hanya tubuhku yang pecah
jadi semua itu
jadi loteng itu
yang mesti kau anggap perlu.
apa kau berani, duduk di situ
bersamaku bersama malam selalu?
ruang piramid ajaib ini
selalu menghisap
segala terang yang nyata di bawahnya
seperti kepalamu
menyedot semua yang di bawahnya.
jadi jangan berdiam di situ
termangu sebaja paku
atau mau kau ditelan lotengku? atau mau kau bikin lotengmu
(dalam lotengku)?
Lautmati Tidurku
dia kotak segiempat biasa
tapi diisi, penuh, dan
dibentuk segitiga:
lemari, rak buku kecil,
dan kasur tipis di lantai.
bila berada di tengahnya
atau tergolek di kasurnya
segitiga lekas menelan
membawamu ke mana
ketiganya memiliki maksud:
lemari, buku, kasur.
lalu kita lupa akal alpa rasa
tubuh genap melenyap
segitiga membuka pintu
dimensi keempat kita melontar
berkelana, ke padang pasir bersalju
memerahu kali di pucukpucuk menara
menunggang singa berkepala ayahnya
atau menenggak susu dalam hatinya.
diri-keempat
membuat rumah baru di kelingkingnya
mencari istri di leleh benaknya
menemukan terang di gelap
menjadi gelap yang bercahaya
masuk-masyuk-merasuk
Aku mengamu
kamu meng-Aku.
hingga kesadaran mengganggu
perasaan bernafsu
dan tubuh di tinju subuh.
lalu dapatkan dirimu
dengan selimut terbuka
dan mulut berliur
bagai usai diguncang samudra
tanpa tenggelam
tanpa tenggelam.
maka senanglah aku
lalu menyebutmu
penuh rindu
: lautmatiku.
Laluaku
lelaki bersumur hitam di matanya
lengan cacat, urat biografis
berpeta liat di jidatnya,
itulah ayahmu.
dan perempuan dengan bibir
di seantero wajahnya
bertukarkatup dengan selangkangnya,
itu ibumu juga.
lalu lihat lihatlah
air terjun sunyi, di mana
kenanganmu mencuci diri
berhulu di katup mata
berwajah tanpa pasi itu,
sebenarnya kandungmu.
anak... anakku,
mobil mainan yang meluncur
jatuh mengambang di kali itu
yang jadi perenang sejati itu,
ternyata dirimu.
siapa di antara itu
sesungguhnya aku?
Segala Cukup bagi Segala
bila kau panahkan
waktu di matamu
pada embun di lidahku
hingga habis semua mau
aku takkan berpaling
bila hari memipih
menjadi garis dan
lenyap di tapal hati
lalu masa teraduk, berembuk
di roti sarapan terakhir
aku bergeming
bila dunia memberiku
kerjakerjakerja
dan perut primitifku
menghisap pundi, puji, posisi
aku tunaikan hajatku
lalu pergi memanen sepi
bila dengan keledai troja
kau datang mengerling untukku
hingga rumput lembab dengan nafsu
lampu pesta sirap di tutup kelambu
dan kau menjelma dewi
membawaku tertawa abadi
aku bilang: cukup.
menitku 60 saja
langkahku tak sedepa mimpimu
dan segelas air sehisap udara
di detik 61
telah memberiku segala
seperti burung kecil ababil
dengan siul yang berkabar
“kekasihku,
aku bahagia."
Radhar Panca Dahana lahir di Jakarta, 26 Maret 1965. Kumpulan puisinya adalah Lalu Waktu (1994) dan Lalu Batu (2003). Selain menulis puisi, cerpen, lakon, dan esai, ia aktif mengelola Bale Sastra Kecapi dan Federasi Teater Indonesia.