
Senin, 26 Mei 2008 | 03:00 WIB
Sangat jarang melihat Wakil Presiden Jusuf Kalla sulit menjawab saat berdialog dengan rakyat. Namun, kondisi itu terjadi di Kantor Pos Sumur Batu di Jalan Biduri Bulan I Nomor 14, Jakarta, Sabtu (24/5), saat ia bertemu langsung dengan penerima bantuan langsung tunai atau BLT. BLT dibagikan setelah pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi, yaitu premium, solar, dan minyak, tanah rata-rata 28,7 persen.
Mengawali dialog, Kalla menjelaskan singkat kenapa harga BBM dinaikkan. Ia mengatakan, murahnya harga BBM selama ini banyak dinikmati orang kaya. Ada ketidakadilan dan pemerintah ingin menegakkan keadilan dengan subsidi langsung itu.
Kalla ingin penerima BLT, yang mencapai 19,1 juta keluarga atau 76,4 juta jiwa, mengimbangi wacana menolak kenaikan harga BBM yang banyak disampaikan di jalanan. ”Bilangin yang marah-marah itu, lebih enak begini daripada BBM murah,” ujarnya.
Dalam hitungan Kalla, harga BBM naik lebih enak karena rakyat miskin mendapat ”uang lebih” Rp 50.000. BLT yang dibagikan itu hanya akan terpakai sekitar Rp 50.000 untuk membayari sejumlah kenaikan ikutan, seperti transportasi dan kebutuhan pokok. ”Bagi masyarakat miskin yang sudah pakai gas, kenaikan harga BBM justru tidak punya dampak apa-apa,” ujar Kalla.
Namun, dalam dialog itu Kalla mendapati, kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok mendahului kenaikan harga BBM. Harga beras untuk rakyat miskin (raskin) dari pemerintah Rp 1.500 per kilogram (kg), di lapangan harus dibayar rakyat Rp 2.000 per kg. ”Kenapa bisa Rp 2.000?” tanya Kalla sambil mengarahkan pandangan ke Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo yang menyertainya.
Dijelaskan oleh warga yang ditemuinya, harga dinaikkan aparat pembagi jatah karena raskin tidak jatuh dari langit, tetapi melalui proses panjang dari pejabat tertinggi hingga ke rukun tetangga. Setiap proses membutuhkan biaya.
Setelah terperangah mendapati kenaikan harga kebutuhan pokok, Kalla juga menemukan kenaikan biaya transportasi yang harus dipikul rakyat. Ia bertanya mengenai ongkos naik ojek kepada tukang ojek yang ditemuinya. ”Tergantung jaraknya, Pak,” kata tukang ojek itu.
”Iya, kalau 1 kilometer berapa bayarnya?” tanya Kalla. ”Kalau dari Sumur Batu ke Sudirman (sekitar 10 kilometer), ya sekitar Rp 20.000,” jawabnya.
”Wah, mahal banget. Kan, tidak jauh itu?” kejar Kalla lagi. ”Iya, Pak, tetapi macet,” kilah tukang ojek itu.
Ternyata kenaikan harga kebutuhan lebih kencang.... (INU)