
Sabtu, 31 Mei 2008 | 00:25 WIB
Jakarta, Kompas - Sistem kelistrikan Jawa-Bali akan terus mengalami krisis sampai pertengahan tahun 2009. Pemadaman tidak bisa dihindari karena kapasitas pembangkit PLN tidak bertambah secara signifikan. Dengan pertumbuhan konsumsi listrik di atas 6 persen, cadangan daya pun terus tergerus.
Wakil Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Rudiantara mengemukakan hal itu dalam penjelasan pers bersama PT PLN dan PT Pertamina, Jumat (30/5) di Kantor Pusat PT Pertamina, Jakarta.
Rata-rata pertumbuhan pemakaian listrik pada kuartal I-2008 mencapai 6,8 persen, sementara target pertumbuhan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2008 hanya 1,9 persen. Dengan menggunakan patokan pertumbuhan itu pula, pemerintah menetapkan kuota bahan bakar minyak (BBM) untuk PLN sebanyak 9,1 juta kiloliter. Sementara itu, realisasi pemakaian BBM sampai April 2008 sudah mencapai 3,651 juta kiloliter atau 42,24 persen dari kuota.
Cadangan daya tergerus menjadi 25 persen dari batas yang seharusnya 40 persen. Rudiantara menjanjikan kondisi kelistrikan mulai membaik setelah beberapa proyek 10.000 megawatt (MW) mulai masuk pada pertengahan 2009.
Sejak Senin lalu, sistem kelistrikan Jawa-Bali mengalami defisit 800-900 MW, yang mengakibatkan pemadaman bergilir di wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Bali.
Defisit disebabkan aneka hal, antara lain penurunan daya di sejumlah pembangkit PLN dan swasta, kenaikan beban pemakaian listrik di Jawa-Bali, serta ketidaklancaran pasokan BBM ke pembangkit PLN.
Sistem Jawa-Bali mulai pulih Jumat malam dengan masuknya PLTU Paiton Unit 8 yang dioperasikan oleh swasta. Sistem ditargetkan sudah normal kembali Senin pekan depan. Direktur PLN untuk Jawa, Madura, dan Bali Murtaqi Syamsuddin mengatakan, pemadaman tiba-tiba seperti yang terjadi Senin lalu bisa terjadi karena beban puncak lebih besar dari yang diperkirakan. PLN sudah menyampaikan kondisi kelistrikan kepada konsumen-konsumen besar, termasuk konsumen industri. ”Kami akan juga bicara dengan asosiasi pertekstilan dan serat sintetik,” kata Murtaqi.
Tak terimbangi
Selain karena adanya pertumbuhan konsumsi yang tidak bisa diimbangi dengan penambahan daya, PLN menyatakan kesulitan untuk menghemat biaya bahan bakar karena perkembangan harga energi yang sudah jauh melampaui asumsi APBN. Kebutuhan biaya bahan bakar semula dihitung dengan asumsi harga minyak mentah Indonesia 95 dollar AS per barrel dan harga batu bara 50 dollar AS per ton.
Menurut Murtaqi, kuota BBM PLN pasti akan terlampaui. Sesuai dengan kesepakatan dengan Pertamina, kelebihan itu akan dibeli dengan harga komersial. Pertamina dan PLN juga membentuk tim monitoring pasokan BBM untuk memastikan keterlambatan pasokan BBM tak terjadi lagi. Melalui tim koordinasi ini, PLN akan menyampaikan kebutuhan tambahan BBM selambat-lambatnya sepekan sebelumnya.
Pemadaman 14 jam
Terkait dengan defisit pasokan listrik, pengurangan pasokan listrik di area pelayanan jaringan Banten yang cenderung bertambah membuat listrik di sejumlah daerah padam selama 14 jam bergiliran. Kalangan industri diimbau mengantisipasi pengurangan beban listrik dengan menggunakan pembangkit sendiri.
Berdasarkan data PT PLN Area Pelayanan dan Jaringan (APJ) Banten, pengurangan pasokan listrik pada Kamis lalu berkisar 117,2 MW-208 MW. Padahal, hari sebelumnya, pasokan listrik hanya berkurang 153 MW.
Pada Jumat pagi, pengurangan pasokan listrik mencapai 205,1 MW dan diperkirakan turun menjadi 161,3 MW pada malam hari. Akibatnya, aliran listrik di sejumlah daerah, terutama di pusat Kota Serang dan sekitarnya, padam sejak pagi.
Menurut Kepala Humas PT PLN APJ Banten Bambang Susilarto, pihaknya terpaksa memberlakukan pemadaman bergilir di sejumlah wilayah. Aliran listrik di daerah cakupan sepuluh gardu induk (GI) dipadamkan pukul 07.00-14.00, yakni GI Asahimas, GI Cikande, GI Serang, GI Cilegon Baru, GI Kopo, GI Krakatau Steel, GI Rangkasbitung, GI Saketi, GI Salira, dan GI Suralaya.
Adapun aliran listrik di wilayah sekitar lima GI, yakni GI Pucam, GI Serang, GI Krakatau Steel, GI Cikande, dan GI Cilegon Baru, dipadamkan pukul 14.00-21.00.
Hingga kemarin, PLN belum bisa memastikan sampai kapan pasokan listrik akan dikurangi. Besarnya pengurangan pasokan pun tidak bisa diprediksi karena masih turun-naik disesuaikan dengan kondisi sistem Jawa-Bali.
Pemadaman bergilir dikeluhkan pelaku usaha di Banten, terutama pemilik usaha konveksi rumahan di Kelurahan Trondol, Kecamatan Serang. Mereka terpaksa kehilangan pendapatan Rp 2 juta-Rp 5 juta karena seharian tak berproduksi.
Di Purwakarta, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kabupaten Purwakarta akan melayangkan keberatan kepada PT PLN atas pemadaman listrik secara bergilir sejak Senin lalu. Kerugian akibat pemadaman itu diperkirakan mencapai lebih dari Rp 2 miliar. (dot/nta/mkn)