Jumat, 21 November 2008
Proses
Garasi Tak Henti Mencari
ARUM TRESNANINGTYAS DAYUPUTRI / Kompas Images
Minggu, 1 Juni 2008 | 03:00 WIB

Teater Garasi selalu mengusung spirit mencari yang tak pernah berhenti. Sejak didirikan tahun 1993, kelompok ini tak pernah berafiliasi pada gaya tertentu. Mereka memang berniat terus menjelajah; dan itu terlihat dalam kreativitasnya dari pentas ke pentas.

Pentas pertama, Wah (tahun 1995), memperlihatkan pertunjukan teater yang lebih visual, tanpa tokoh, dan semua orang berada dalam kerumunan. Pentas berikutnya, Atau Siapa Saja (tahun 1995), mengandalkan idiom tubuh dan imaji. Beda lagi dengan Panji Koming (1996) yang lebih komikal, karikatural.

Repertoar Hujan (2001) menekankan eksplorasi tubuh, tanpa kata. Waktu Baktu #3 (2006) memperlihatkan kolase bentuk dan gaya pada satu panggung, dengan memberi ruang yang luas pada bahasa visual. The King’s Witch (2006) menekankan kekuatan visual dan tari, sedangkan Je.ja.l.an (2008) mengembangkan bentuk teater tari dan imaji.

Tahun 2001, kelompok ini menyebut proses kreatif mereka sebagai laboratorium. Artinya, kerja teater dilihat sebagai disiplin ilmiah sehingga setiap pentas membutuhkan riset yang matang. Apa yang sebenarnya dicari Teater Garasi?

”Kami menjelajah demi menciptakan teater yang terus segar secara bentuk dan dialektis secara tema,” kata Yudi Ahmad Tajudin, sutradara dan direktur artistik Teater Garasi.

Apa itu kesegaran bentuk? ”Ketika gaya menjadi rutin, padahal tema berganti-ganti, maka komunikasi jadi problem. Nah, kami berusaha mengganggu bentuk agar tak jadi rutin,” katanya.

Lalu, dialektis secara tema itu bagaimana? ”Kami berusaha menawarkan alternatif pikiran, tafsir lain yang kritis, atau isu yang beda sehingga penonton memperoleh pantulan pemikiran atau dialog. Jika pentas jadi peristiwa bersama, dialog jadi lebih intim dan bergema dalam pikiran penonton.”

”Teater selalu berada dalam momen di sini dan kini, berbeda dengan televisi dan film yang menayangkan rekaman. Teater baru terasa kehadirannya kalau mampu menciptakan peristiwa yang kuat bentuk dan dialognya.”

Apa sebenarnya fungsi teater dalam kehidupan ini?

”Teater menawarkan momen refleksi yang memberi jarak dari kenyataan hidup sehari-hari. Setelah balik lagi, mungkin saja kita telah memperoleh kesadaran atau perspektif yang berbeda untuk memahami kenyataan.”

Apa pentingnya refleksi semacam itu di tengah zaman sekarang?

”Refleksi mendorong kita untuk bisa tetap jernih dan bertenggang rasa di tengah rutinitas hidup yang mendesak-desak. Refleksi bisa menajamkan penghayatan akan hidup sehingga kita tak terjebak pada proses dehumanisasi,” papar Yudi. (iam)

 

A A A
BERITA TERPOPULER

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort