Minggu, 05 Juli 2009
JOGJA GALLERY
Karya Prasetia Fauzani, Kebersamaan, Photography, outdoor print, 90 x 135 cm, 2008
Sajak Sajak

Minggu, 1 Juni 2008 | 03:00 WIB

Nersalya Renata

Rumah

ibu selalu menjadikan dirinya

rumah bagi ayah

rumah yang sekelilingnya dipagari

rumah yang diubah-ubah ayah warna dindingnya

rumah yang dipaku dindingnya untuk dipasangi lukisan, foto keluarga, jam dinding, dan tanggalan

rumah yang bagian-bagiannya dihancurkan untuk dibangun kembali

rumah yang diam

rumah yang tak ke mana-mana

rumah yang ditinggalkan ayah dengan kisah-kisah abu-abu

dan rumah yang selalu menanti ayah kembali dengan doa membiru

begitulah ibu

selalu menjadikan dirinya rumah bagi ayah

rumah yang terus-menerus

ditinggalkan untuk dimasuki kembali

oleh ayah

Jakarta, 2008

Nersalya Renata

Malam yang Lambat

malam yang lambat

membentangkan sunyi tanpa batas

di tepi jendela

aku melihat awan-awan melintasi bulan

dan teman-teman jadi bintang-bintang

menggenangkan percakapan-percakapan

diselingi tawa dan makian

setiap kali melihat bintang-bintang

aku selalu mencipta percakapan-percakapan baru

dalam kepalaku

percakapan tentang apa saja

yang meledakkan tawa sekeras-kerasnya

yang memuntahkan makian sekasar-kasarnya

setelah percakapan-percakapan selesai

tawa menghilang dan makian berhenti

aku menutup jendela

tak ada siapa-siapa

jarum jam bergerak malas

radio terus meracau

teman-teman menari-nari dalam kepalaku

aku tak bisa tidur

malam semakin lambat

Jakarta, 2007

Nersalya Renata

Lima Gambar di Langit-langit Kamar

Gambar 1

seorang lelaki dengan hati yang berisi 3 kuntum bunga: mawar putih, anggrek bulan ungu, dan krisan kuning.

Gambar 2

ibu mencium seekor katak yang takkan pernah berubah menjadi pangeran

Gambar 3

sebuah kanvas kosong

Gambar 4

seorang perempuan yang terus-menerus berbicara dalam kepala seorang laki-laki

Gambar 5

mayat seorang perempuan

dengan selembar pesan di tangan: aku tak butuh puisi-puisi dan cintamu yang fiksi

Jakarta, 2008

Nersalya Renata

Mati

jika aku mati

apakah kau

akan mengawetkanku

dalam puisi

Jakarta, 2008

Nenden Lilis A

Pulang

”kau yang pulang

adalah kau yang mengerti kerinduanku”

namun, bagaimanakah aku pulang

aku telah menggulung kenangan akan ibu

dan rumah masa lalu

seperti menggulung geribik bekas menjemur padi tadi siang

di sore hari, dalam kesenyapan dan kekelaman gudang belakang

sebab sungguh pedih menatap tubuh ringkih

dan mata yang pernah mengobarkan duka lara

pohon-pohon cengkih yang dibakar

(telah silam kuhirup harum cengkih

yang dipetik dan disiram keringat letih)

sebab nasib sekesat getah manggis muda

yang kutemukan pada tirus wajah bapa

(pipi hitamnya secekung daun kedondong

pandangnya kehilangan keriangan daun-daun kastuba)

setelah sirna kebun dan lumpur sawah

dan semangat kerja menetesi setiap bulir gabah

adikku menapi hari-hari pilu

seolah memisah beras dari pasir dan batu

(aku gamang

tak mengerti lagi arti pulang)

2007-2008

Nenden Lilis A

Catatan September

aku ingin menemukan dirimu untukku

seperti engkau menemukan kenangan akan seorang perempuan

dan kasih sayang masa kecil

pada kursi jati antik dan meja marmer

kutangkup ujung cangkirmu dengan bibirku

agar kutemukan dan kurasakan jejak dan getar

bibirmu yang tertinggal di sana

ingatkah, ketika pagi menghunuskan pedang-pedang dingin

seseorang mendekap dadanya sendiri

: dada tipis dengan tulang bergaris-garis

dalam langkah terhuyung

ia seperti batang dan bulu-bulu bunga lavender

yang kau tanam tapi kau biarkan kering

(pada purnama, ranjang menggigil

dan malam seperti pengemis tak mendapat belas kasih)

siang dan senja tak kusongsong

tapi gorden enggan kututup

aku akan menunggumu hingga dapat kuraba rambutmu

meski dalam bayang

(sampai rambutku sendiri seperti rumput musim kemarau)

hingga dapat kusentuh lengan dan jari-jarimu

walau dalam kepergianmu

2007-2008

Nenden Lilis A

Epitaf

seperti rambut dalam masakan

seperti butiran gabah dalam nasi

seperti biji kapuk dalam bantal

selalu ada yang mengganjal

menyekat kerongkongan

banjir membenam kota

lumpur panas menenggelamkan desa-desa

itulah perih air mata

dan dukacita begitu kepala batu tak mau berlalu

sekepala batu penduduk tukang tawuran

dan harapan tinggal bagai kapal-kapal terbakar dan karam

kereta-kereta melenceng dari rel

atau jeritan-jeritan perempuan menggendong anak

dalam antrian beras murahan

lihatlah porak poranda kota oleh gempa

kampung yang disapu gelombang

bukankah itu hati kita

ah, bagaimanakah kita hapus epitaf

yang tergores dalam

di nisan hitam batin kita?

2007-2008

Nenden Lilis A lahir di Malangbong, Garut, Jawa Barat, 26 September 1971. Puisinya, antara lain, terkumpul dalam antologi Negeri Sihir. Cerpennya terkumpul dalam antologi Ruang Belakang, yang mendapat Penghargaan Pusat Bahasa 2005. Ia mengajar di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS UPI Bandung.

Nersalya Renata menyiarkan puisi-puisinya di sejumlah koran di Jakarta dan Lampung. Ia adalah aktris Teater Satu Bandar Lampung. Kini tinggal di Jakarta.

Share on Facebook
A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: