
![]() |
|
|
JOGJA GALLERY / Kompas Images
Karya Prasetia Fauzani, Kebersamaan, Photography, outdoor print, 90 x 135 cm, 2008 |
Nersalya Renata
Rumah
ibu selalu menjadikan dirinya
rumah bagi ayah
rumah yang sekelilingnya dipagari
rumah yang diubah-ubah ayah warna dindingnya
rumah yang dipaku dindingnya untuk dipasangi lukisan, foto keluarga, jam dinding, dan tanggalan
rumah yang bagian-bagiannya dihancurkan untuk dibangun kembali
rumah yang diam
rumah yang tak ke mana-mana
rumah yang ditinggalkan ayah dengan kisah-kisah abu-abu
dan rumah yang selalu menanti ayah kembali dengan doa membiru
begitulah ibu
selalu menjadikan dirinya rumah bagi ayah
rumah yang terus-menerus
ditinggalkan untuk dimasuki kembali
oleh ayah
Jakarta, 2008
Nersalya Renata
Malam yang Lambat
malam yang lambat
membentangkan sunyi tanpa batas
di tepi jendela
aku melihat awan-awan melintasi bulan
dan teman-teman jadi bintang-bintang
menggenangkan percakapan-percakapan
diselingi tawa dan makian
setiap kali melihat bintang-bintang
aku selalu mencipta percakapan-percakapan baru
dalam kepalaku
percakapan tentang apa saja
yang meledakkan tawa sekeras-kerasnya
yang memuntahkan makian sekasar-kasarnya
setelah percakapan-percakapan selesai
tawa menghilang dan makian berhenti
aku menutup jendela
tak ada siapa-siapa
jarum jam bergerak malas
radio terus meracau
teman-teman menari-nari dalam kepalaku
aku tak bisa tidur
malam semakin lambat
Jakarta, 2007
Nersalya Renata
Lima Gambar di Langit-langit Kamar
Gambar 1
seorang lelaki dengan hati yang berisi 3 kuntum bunga: mawar putih, anggrek bulan ungu, dan krisan kuning.
Gambar 2
ibu mencium seekor katak yang takkan pernah berubah menjadi pangeran
Gambar 3
sebuah kanvas kosong
Gambar 4
seorang perempuan yang terus-menerus berbicara dalam kepala seorang laki-laki
Gambar 5
mayat seorang perempuan
dengan selembar pesan di tangan: aku tak butuh puisi-puisi dan cintamu yang fiksi
Jakarta, 2008
Nersalya Renata
Mati
jika aku mati
apakah kau
akan mengawetkanku
dalam puisi
Jakarta, 2008
Nenden Lilis A
Pulang
”kau yang pulang
adalah kau yang mengerti kerinduanku”
namun, bagaimanakah aku pulang
aku telah menggulung kenangan akan ibu
dan rumah masa lalu
seperti menggulung geribik bekas menjemur padi tadi siang
di sore hari, dalam kesenyapan dan kekelaman gudang belakang
sebab sungguh pedih menatap tubuh ringkih
dan mata yang pernah mengobarkan duka lara
pohon-pohon cengkih yang dibakar
(telah silam kuhirup harum cengkih
yang dipetik dan disiram keringat letih)
sebab nasib sekesat getah manggis muda
yang kutemukan pada tirus wajah bapa
(pipi hitamnya secekung daun kedondong
pandangnya kehilangan keriangan daun-daun kastuba)
setelah sirna kebun dan lumpur sawah
dan semangat kerja menetesi setiap bulir gabah
adikku menapi hari-hari pilu
seolah memisah beras dari pasir dan batu
(aku gamang
tak mengerti lagi arti pulang)
2007-2008
Nenden Lilis A
Catatan September
aku ingin menemukan dirimu untukku
seperti engkau menemukan kenangan akan seorang perempuan
dan kasih sayang masa kecil
pada kursi jati antik dan meja marmer
kutangkup ujung cangkirmu dengan bibirku
agar kutemukan dan kurasakan jejak dan getar
bibirmu yang tertinggal di sana
ingatkah, ketika pagi menghunuskan pedang-pedang dingin
seseorang mendekap dadanya sendiri
: dada tipis dengan tulang bergaris-garis
dalam langkah terhuyung
ia seperti batang dan bulu-bulu bunga lavender
yang kau tanam tapi kau biarkan kering
(pada purnama, ranjang menggigil
dan malam seperti pengemis tak mendapat belas kasih)
siang dan senja tak kusongsong
tapi gorden enggan kututup
aku akan menunggumu hingga dapat kuraba rambutmu
meski dalam bayang
(sampai rambutku sendiri seperti rumput musim kemarau)
hingga dapat kusentuh lengan dan jari-jarimu
walau dalam kepergianmu
2007-2008
Nenden Lilis A
Epitaf
seperti rambut dalam masakan
seperti butiran gabah dalam nasi
seperti biji kapuk dalam bantal
selalu ada yang mengganjal
menyekat kerongkongan
banjir membenam kota
lumpur panas menenggelamkan desa-desa
itulah perih air mata
dan dukacita begitu kepala batu tak mau berlalu
sekepala batu penduduk tukang tawuran
dan harapan tinggal bagai kapal-kapal terbakar dan karam
kereta-kereta melenceng dari rel
atau jeritan-jeritan perempuan menggendong anak
dalam antrian beras murahan
lihatlah porak poranda kota oleh gempa
kampung yang disapu gelombang
bukankah itu hati kita
ah, bagaimanakah kita hapus epitaf
yang tergores dalam
di nisan hitam batin kita?
2007-2008
Nenden Lilis A lahir di Malangbong, Garut, Jawa Barat, 26 September 1971. Puisinya, antara lain, terkumpul dalam antologi Negeri Sihir. Cerpennya terkumpul dalam antologi Ruang Belakang, yang mendapat Penghargaan Pusat Bahasa 2005. Ia mengajar di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS UPI Bandung.
Nersalya Renata menyiarkan puisi-puisinya di sejumlah koran di Jakarta dan Lampung. Ia adalah aktris Teater Satu Bandar Lampung. Kini tinggal di Jakarta.