Jumat, 21 November 2008
Mencari Format Baru BBJ
Kamis, 5 Juni 2008 | 13:18 WIB

Oleh: Herry W Sulaksono

Mulai tahun 2007 Bupati Jember Ir MZA Djalal membuat terobosan baru, merancang dan melaksanakan acara Bulan Berkunjung ke Jember atau BBJ. Pelaksanaannya antara bulan Juli-Agustus, hampir bersamaan dengan perayaan tujuhbelasan. Kegiatan ini membuat perayaan Kemerdekaan Indonesia di Jember berbeda dengan sebelumnya. Lebih semarak, lebih meriah, dan lebih mewah.

Hampir setiap hari masyarakat Jember disuguhi acara mulai arak- arakan sepeda motor, lomba gapura, dan karnaval busana (Jember Fashion Carnaval). Karnaval kota (Jember City Carnaval), pertandingan aneka cabang olahraga sampai lomba memanjat ratusan pohon pinang di alun-alun kota.

Banyak kalangan, terutama akademisi, menilai program Djalal ini hanya mendompleng acara tujuhbelasan yang selalu dilaksanakan masyarakat setiap tahun. Dirangkum jadi satu ditambahi sedikit acara dan diberi label BBJ. Kegiatan ini dinilai hanya sekadar pesta dan tidak ada penambahan nilai (added value) baik dari segi intelektualitas maupun ekonomis.

Tidak ada kegiatan yang menambah wawasan keilmuan, baik itu seminar atau kajian ilmu. Pendek kata, acara BBJ hanya menghambur- hamburkan uang rakyat dan mengajak rakyat bermimpi. Setelah pesta usai masyarakat kembali kepada kesulitan masing-masing. Tidak memperoleh apa-apa.

Pendapat tersebut ada benarnya. Beberapa agenda acara memang sudah ada sebelumnya. Bahkan, berjalan puluhan tahun seperti Gerak Jalan Tanggul Jember Tradisional. JFC yang digagas perancang busana Dinand Fariz juga telah berjalan enam tahun. Jember City Carnaval (JCC) adalah metamorfosa dari karnaval umum. Acara yang baru bisa dihitung dengan jari, seperti pertandingan kasti dan lomba panjat ratusan pohon pinang serta pesta diskon puluhan toko. Acara ini jelas tidak ada nilai tambah dalam prestasi.

Namun, di lain sisi, ide dasar Djalal mengadakan acara ini adalah dalam kerangka meningkatkan taraf ekonomi masyarakat Jember. Dalam jangka panjang BBJ akan mengundang investor menanam uangnya di Jember. Pada akhirnya bermuara pada meningkatnya pendapatan masyarakat. Itu harapannya. Ia membayangkan BBJ akan mengundang ribuan orang dari daerah lain mengunjungi daerah sentra tembakau ini.

Sesuatu yang baru dari BBJ tahun ini adalah peresmian lampu penerang jalan senilai Rp 81 miliar. Nantinya Djalal berharap saat BBJ berlangsung jalanan di Kota Jember akan terang benderang. Lampu terang benderang ini jelas tidak matching dengan upaya mengundang orang mengunjungi Jember. Apakah wisatawan akan mengunjungi Jember lantaran kotanya terang benderang?

Turus berduit

Penulis teringat ketika pada tahun 1990 melakukan wawancara eksklusif dengan Joop Ave, Menparpostel saat itu. Saat itu Joop sedang melakukan pemeriksaan terhadap beberapa hotel besar yang sedang dibangun di Bali. Penulis menanyakan apakah pembangunan hotel besar tidak mengundang kapitalisme dan menggusur rakyat kecil sehingga semakin miskin? Mengapa tidak dikembangkan saja hotel-hotel kecil sehingga langsung menyentuh rakyat banyak?

Dari dua pertanyaan itu Joop menjelaskan panjang lebar. "You harus tahu kita membangun ini untuk mengundang orang berduit. Jika mengembangkan hotel kecil, yang banyak datang adalah backpackers (turis yang menggendong ransel). Mereka tidak ada duitnya!" ucap Joop saat itu.

Ia pun menjelaskan, dengan banyaknya turis berduit yang datang ke Bali, makin banyak pula uang yang dibelanjakan. Makin banyak uang yang beredar. "Pengusaha hotel akan untung, travel agent akan hidup, bandara semakin ramai, perajin akan berkembang, masyarakat akan mendapatkan lapangan kerja di semua sektor pariwisata. Pada akhirnya pendapatan masyarakat akan meningkat," tuturnya.

Kegiatan BBJ erat kaitannya dengan kegiatan komunikasi. Komunikatornya adalah Pemerintah Kabupaten Jember sebagai penggagas dan pelaksana kegiatan. Komunikannya adalah wisatawan dari luar Kota Jember. Pesan yang disampaikan adalah ajakan mengunjungi Jember karena di Jember ada event. Posisi masyarakat Jember di mana? Ya pelaku event itu. Masyarakat Jember bukan komunikan atau orang yang menerima pesan. Mereka adalah obyek yang menjadi daya tarik kunjungan orang dari daerah lain. Tidak tepat jika pesan ditujukan kepada orang Jember sendiri. Lucu jika orang Jember disuguhi pesan agar berkunjung ke Jember layaknya jeruk minum jeruk.

Ada beberapa event yang sebenarnya bisa mendatangkan wisatawan sekaligus mendatangkan uang seperti lomba burung berkicau, lomba aduan burung dara, dan pameran/kontes tanaman hias. Lomba aduan burung dara menjadi pro dan kontra (lebih banyak kontra) karena pasti ada taruhannya. Pameran/kontes tanaman hias sejak berpindah tempat ke kawasan GOR menjadi hilang daya tariknya. Tinggallah lomba burung berkicau yang bisa mendatangkan orang.

Sambil menonton pawai Jember Fashion Carnawal, di Jalan Gajah Mada, awal Agustus tahun lalu, penulis bertanya kepada beberapa orang. Pertanyaannya singkat, datang dari mana? Jawabannya macam- macam. Ada yang dari Jember, Kalisat, Kencong, Ambulu, Tanggul, dan lain-lain. Wah banyak yang dari luar kota! Tetapi daerah itu masih wilayah Kabupaten Jember. Ternyata orang Jember (kecamatan) berkunjung ke Jember (kota).

Alangkah senangnya jika yang ditanya berasal dari Jakarta, Malang, Surabaya, Semarang, atau kota-kota lain. Eh jangan-jangan ketika ditanya memang mereka datang dari kota-kota itu, tapi buntutnya, saya sudah lama tinggal di Jember! Wah gagal maning gagal maning. Herry W Sulaksono Wartawan tinggal di Jember

 

 

A A A
BERITA TERPOPULER

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort