Minggu, 05 Juli 2009
Berbagi Pengetahuan

Minggu, 8 Juni 2008 | 01:01 WIB

 

 

 

Komariah tidak sungkan membagi pengetahuan dan pengalamannya. Racikan bumbu yang oleh sebagian pengusaha makanan sangat dirahasiakan, justru ia sebarluaskan kepada siapa saja yang membutuhkan.

Ia yakin, kualitas rasa tidak diperoleh dari proses instan, tetapi melalui pencarian, penelitian, dan uji coba terus-menerus. Dengan keyakinan itu, ia tidak khawatir membagi resep.

Usai pelatihan pembuatan abon tahun 2000, tak banyak peserta yang mencoba usaha itu. Dari 20-an peserta, hanya beberapa orang yang tetap membuat abon di rumah, termasuk Kokom, panggilan Komariah. Sebagian besar ”tumbang” karena kesulitan modal dan memasarkan abon.

Ketika usaha yang digeluti Kokom membuahkan hasil, beberapa mantan peserta pelatihan tertarik kembali membuat abon ikan. Sebagian di antaranya belajar lagi kepada Kokom.

Kini telah terbentuk dua kelompok binaan, yaitu Kelompok Anggrek I di Kampung Tegabuah dan Anggrek II di Kampung Serpis, Desa Jatimekar. Semua anggota berjumlah 20-an orang. ”Mereka siap membuat kapan pun dibutuhkan,” jelas dia.

Memang, selain di rumah Komariah, sebagian mesin bantuan Dinas Pertanian, Dinas Perikanan, serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Purwakarta tersebar di Kelompok Anggrek I dan Anggrek II.

Para anggota juga terlibat dalam pemasaran. Mereka menjual abon ikan nila dalam beragam ukuran kemasan ke pedagang-pedagang di sekitar obyek wisata Waduk Jatiluhur serta instansi Pemerintah Kabupaten Purwakarta.

Sayangnya, pemasaran abon ikan nila terpengaruh daya beli masyarakat yang menurun akhir-akhir ini. Menurut Kokom, sulit menjual abon dengan harga Rp 75.000 per kilogram. Karena itu, ia mengemas abon dengan ukuran 20 ons dan dijual dengan harga Rp 15.000 hingga Rp 20.000 per kemasan. (MKN)

Share on Facebook
A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: