
Selasa, 10 Juni 2008 | 01:14 WIB
Pemandangan Memalukan di Gerbang Masuk Tol
Setiap pagi para pengguna Jalan Tol Jagorawi/tol dalam kota disuguhi pemandangan yang memalukan dan memprihatinkan. Sementara ribuan kendaraan dari arah Bogor dan Pondok Indah berusaha mengantre membayar tol secara tertib dan santun, salah satu pejabat negara dengan kendaraan mobil (Nomor: RI 15) dan pengawalnya seenaknya memotong antrean dan langsung ke gerbang tol. Hebatnya lagi, rombongan pejabat tersebut tidak membayar tol.
Saya tidak mengerti, apa urgensinya hingga rombongan pejabat tersebut merasa punya hak untuk seenaknya melanggar peraturan lalu lintas dan tata tertib? Buru-buru ke kantor? Saya yakin para pengguna jalan tol lainnya juga buru-buru hendak ke kantor, tetapi semua berusaha tertib dan bersabar.
Bisa dimengerti jika sang pejabat tersebut terburu-buru kalau, misalnya, ada rapat dengan Presiden. Akan tetapi, yang saya perhatikan, tindakan tersebut dilakukan rombongan pejabat tersebut setiap pagi. Rasanya tidak mungkin setiap pagi terburu-buru karena rapat dengan Presiden.
Ironis, sang pejabat yang seharusnya menjadi panutan dan suri teladan bagi rakyat tanpa malu-malu malah memperlihatkan contoh yang buruk. Perilaku demikian bukan hanya dilakukan oleh rombongan pejabat RI 15. Hampir semua pejabat tinggi, mulai dari tingkat menteri, pejabat militer, petinggi DPR, dan lainnya menggunakan rombongan pengawal yang merasa punya hak melanggar peraturan lalu lintas dan tata tertib demi kelancaran kendaraan rombongan pejabat tersebut.
Coba perhatikan, bukan main arogannya sikap pengawal mereka. Pernah suatu hari saya melihat pengawal mobil dinas RI 11 yang sedang melintas di Jalan Letjen Suprapto, Jakarta Pusat, berusaha memukul pengendara sepeda motor yang dianggap memperlambat laju kendaraan sang pejabat yang sangat terhormat tersebut.
Lagi pula, apa urgensinya pejabat setingkat menteri dan ke bawah memiliki rombongan pengawal? Apakah karena macet? Kalau tidak mau terkena macet, berangkatlah lebih pagi. Jika alasan keamanan, apakah sudah demikian gawatnya situasi keamanan di negara kita? Terlalu berlebihan kalau semua pejabat merasa punya hak mendapatkan pengawalan, belum lagi hal tersebut adalah pemborosan uang negara.
Febri Saleh Jalan Cilandak Permai, Jakarta Selatan
Uang di ATM BRI Bermasalah
Saya melakukan penarikan tunai di ATM BRI Capem Ciledug, Tangerang, di depan Carrefour CBD Ciledug tanggal 26 Februari 2008 sekitar pukul 18.00. Penarikan pertama dan kedua berhasil sebesar Rp 1.000.000. Penarikan ketiga sebesar Rp 250.000 juga berhasil dan penarikan keempat sebesar Rp 200.000 gagal, tetapi struk keluar menyatakan berhasil, sedangkan saya tidak menerima uang tersebut. Saya cek saldo dan memang telah terdebit terakhir sebesar Rp 200.000.
Saat itu saya langsung telepon ke Pusat Pemanggilan BRI 14017 (diberi tahu anggota Satpam BRI agar segera telepon ke pusat pemanggilan). Dari pusat pemanggilan akan ditindaklanjuti dengan mengirimkan faksimile ke BRI Capem Ciledug dengan kode B 6875 mengenai kegagalan transaksi. Selang tiga hari kerja (29/2) saya telepon ke Capem Ciledug, menanyakan faksimile yang dikirim dari pusat pemanggilan. Dijanjikan akan dicari faksimile tersebut dan diproses, hasil proses selama tiga minggu dan saya akan dihubungi.
Pada saat ditentukan saya kembali menghubungi BRI Ciledug (19/3), katanya butuh proses selama satu bulan untuk mengidentifikasi kasus tersebut dan juga dijanjikan akan dihubungi. Sedemikian pelikkah kasus saya itu?
Pada tanggal 24 April 2008 saya kembali telepon ke BRI Ciledug dan dijanjikan sore hari akan dihubungi kembali. Akan tetapi, sampai saat ini tidak ada respons sama sekali. Padahal, kesalahan bukan pada nasabah.
Prima Mukti Jalan Asyirot Nomor 29, Kebun Jeruk, Jakarta Barat
Cicilan Kartu Kredit BII
Saya pemegang kartu kredit Visa BII (Nomor: 4423 7301 2856 70xx). Pada tanggal 29 Desember 2006 BII menyetujui penyelesaian penutupan kartu kredit saya dengan cicilan selama satu tahun sebesar Rp 283.000 per bulan dengan jangka waktu Januari-Desember 2007.
Saya telah menyelesaikan cicilan hingga Desember 2007. Namun, hingga Mei 2008 saya masih menerima tagihan rutin setiap bulan yang tentu saja membengkak hingga menjadi Rp 470.000 disebabkan oleh denda keterlambatan dan bunga, sedangkan kartu sudah ditutup. Surat dari BII tertanggal 29 Desember 2006 mengenai persetujuan pembayaran tersebut masih saya simpan dan sudah saya faksimile ke nomor (021) 6122808.
Setiap menerima tagihan, saya harus menelepon ke Pusat Pemanggilan BII yang seperti biasa akan meminta saya menelepon ke berbagai nomor, dan pada akhirnya mereka berjanji akan menelepon balik, tetapi hal itu tidak pernah dilakukan. Berapa biaya dan waktu yang telah terbuang selama lima bulan ini hanya untuk menelepon ke sana kemari tanpa ada penyelesaian?
Nuryanti Amiruddin Jalan Jati V, Panakukang, Makassar
Susu Nutrilon Isi Lama
Sejak Desember 2007 anak saya mengonsumsi susu Nutrilon Royal 1. Bulan Februari 2008 saya membeli susu kaleng Nutrilon Royal 1 dan setelah dibuka, saya agak kaget melihat perubahan isi susu tersebut. Secara fisik warnanya lebih putih, tekstur lebih halus, lembab, padat, dan warna sendok menjadi bening (sebelumnya berwarna biru).
Karena khawatir susu tersebut palsu, saya menghubungi Nutricia Care Line Bebas Pulsa. Layanan Pelanggan Nutricia menjelaskan, memang benar ada perubahan susu Nutrilon Royal untuk meningkatkan kualitas produk. Menurut pihak Nutricia, susu yang baru disertai surat pemberitahuan di dalam kemasan. Akan tetapi, saya membeli susu kaleng tanpa surat tersebut.
Sampai saat ini ternyata susu Nutrilon Royal yang lama tidak ditarik dari pasaran. Beberapa kali saya membeli susu yang masih lama. Dan beberapa kali pula saya terpaksa harus mengganti susu kaleng yang masih utuh ke hipermarket tempat pembelian semula karena anak saya tidak mau lagi minum susu yang lama. Biasanya saya membeli susu empat-enam kaleng sekaligus.
Karena pengalaman itu, saya menjadi lebih berhati-hati jika membeli susu Nutrilon Royal. Saya hanya membeli Nutrilon Royal dengan tanggal produksi Februari 2008 dan tanggal kedaluwarsa Februari 2010. Awal bulan Mei 2008 saya membeli Nutrilon Royal 1 sebanyak tiga kaleng dan Nutrilon Royal 2 satu kaleng dengan tanggal produksi Maret 2008 dan tanggal kedaluwarsa Maret 2010. Saat itu Nutrilon Royal produksi Februari 2008 sedang kosong.
Setelah kaleng dibuka, saya sangat kaget melihat isinya masih susu yang lama. Warna lebih kuning, tekstur lebih kasar, kering, dan sendok berwarna biru. Karena tidak ada pilihan, akhirnya saya memberikan susu tersebut kepada anak saya. Besoknya anak saya diare. Pemberian susu langsung saya hentikan.
Saya mencari dan membeli lagi Nutrilon Royal dengan tanggal produksi Februari 2008. Saya berikan ke anak saya, dan dua hari kemudian anak saya tidak diare lagi. Bagaimana Nutricia masih mengeluarkan susu yang lama, tetapi memakai kemasan kaleng baru dengan tanggal produksi yang terbaru?
Alma Naibaho Bukit Golf, Riverside A1/3A, Gunung Putri, Bogor
Pencairan Deposito Bank Lippo
Saya mencairkan deposito mata uang rupiah pada tanggal 26 Mei 2008 di Bank Lippo Kantor Cabang Pembantu Senen, Jakarta Pusat, lewat layanan nasabah, Ibu Nurul, yang menjelaskan harus masuk ke tabungan dulu. Padahal, saya mau langsung transfer dengan slip transfer sehingga tidak kena saldo minimum Rp 50.000.
Saat itu, menurut layanan nasabah, tidak dipotong dan diterima sesuai dengan nilai dari deposito. Ternyata di kasir dipotong dengan saldo minimum Rp 50.000. Saya protes dengan mengatakan bahwa deposito dan tabungan adalah hal yang berbeda. Deposito saat cair terserah nasabah mau langsung tarik tunai/transfer tanpa harus masuk dulu ke tabungan.
Setahu saya, bank lain tidak begitu, tetapi kepala kasir di sana mengatakan bahwa itu ketentuan Bank Lippo, baik mau tarik tunai/transfer harus masuk dulu ke tabungan. Dalam hal ini, saya sangat dirugikan sebagai nasabah karena pencairan deposito dikenai biaya saldo minimum tabungan di luar biaya transfer dan meterai. Bahkan, saya langsung mengecek ke dua bank lain setelah kejadian itu, tapi tidak seperti Bank Lippo.
Tjhin Clara Angelina Jalan Samiaji RT 016 RW 005, Tanah Tinggi, Jakarta
Premi AIG Life Dihanguskan
Saya pemilik polis AIG life produk Rezeki (Nomor: 17506501) sejak tahun 2003 dengan metode pembayaran per bulan. Saya mengetahui polis akan dibatalkan bila terlambat melakukan pembayaran lebih dari 24 bulan. Bulan Juni 2006 saya datang menemui representasi AIG di Lippo Tebet, Jakarta, dan bertemu dengan agen AIG (Bapak Husni) yang memberi tahu bahwa saya telah terlambat membayar dua bulan. Saya pulang dan tidak ada pemberitahuan apa pun.
Pada bulan Juni 2007 saya datang menemui representasi AIG di Lippo Tebet, Jakarta, lagi untuk melakukan pemulihan periode Juni 2006-Juni 2007. Oleh agen AIG dibuatkan surat pemulihan polis dan diminta membayar sejumlah Rp 3.360.000 (14 bulan) untuk semua kekurangan yang ada. Beberapa hari setelah kedatangan saya ada telepon dari agen AIG yang mengatakan bahwa saya masih memiliki kekurangan pembayaran. Saya tidak mengenal agen itu. Beberapa kali agen itu menawarkan ingin mengambil uang di rumah, tetapi saya tidak tanggapi.
Menakutkan jika ada orang yang tidak dikenal mengambil uang premi, sedangkan saya merasa polis sudah diaktifkan. Pada bulan Mei 2008 saya menerima surat pemberitahuan bahwa polis sudah tidak aktif. Karena ingin melakukan pemulihan, saya menelepon pusat pemanggilan 54218777, tetapi sangat sulit dihubungi. Saya sangat terkejut diberi tahu bahwa polis telah dibatalkan karena belum membayar dari bulan Maret 2006-Mei 2008 (lebih dari 24 bulan).
Akibatnya, seluruh premi saya tahun pertama sekitar 30 persen plus premi tahun berikutnya akan dihanguskan.
Titie Dian Jalan Pondok Kopi K1, Jakarta
Hadiah Royal Mediterania Garden
Tanggal 21 Maret 2008 saya melakukan pemesanan untuk pembelian satu unit apartemen Royal Mediterania Garden (RMG) Tower Marigold, Jakarta. Tertulis jelas di spanduk promosi dan janji marketing (Saudari Dixi Pratiwi) akan mendapatkan hadiah langsung hand phone CDMA untuk pembelian unit apartemen. Hal ini ditegaskan kembali oleh Saudara Munadji, sales supervisor, bahwa hadiah hand phone hanya untuk pembelian unit dengan pembayaran tunai keras.
Oleh karena itu, saya melakukan transaksi pelunasan tertanggal 27 Maret 2008 dengan harapan mendapatkan hadiah dimaksud. Namun, setiap kali ditagih, begitu banyak alasan. Belum dapat tanda tangan dari pimpinan, bagian keuangan belum mengeluarkan hadiah, sedang ada pergantian pimpinan sehingga pemberian hadiah tertunda, dan lain-lain. Sudah lewat dua bulan, tetapi masih saja jawaban ”sabar” yang saya terima.
Sebenarnya bukan masalah hand phone CDMA yang harganya tidak seberapa, tetapi janji dan komitmen yang saya tuntut. Saya sarankan bagi calon pembeli RMG memastikan apakah memang ada hadiah langsung atau akal-akalan pengembang untuk menarik minat calon pembeli.
Bagaimana ini PT Tiara Metropolitan Jaya (Agung Podomoro Group), berapa bulan lagi saya harus bersabar untuk menunggu hadiah langsung?
Richky Wibowo Puri Kembangan RT 005 RW 008, Kembangan, Jakarta