
![]() |
Mimang Ismail
Sejak formasi-formasi sosial, ekonomi, dan budaya kontemporer berubah secara radikal, ditandai dengan meriahnya anasir modernitas, seketika formulasi kehidupan manusia pun berubah dengan ragam ekspresi dan penghayatan di kesehariannya. Peralihan kultural itu bahkan tidak hanya menunjukkan suatu peralihan dari masyarakat tradisional ke modern, tetapi juga kini memasuki tahapan masyarakat pos-sekuler (post-secular society). Takdir historis-dialektis ini terus-menerus bergulir melabrak garis batas tradisi dan habitus yang sebelumnya menjadi modus otentik manusia. Garis batas itu tampak melebur ketika tahap kehidupan masyarakat modern memasuki momen kreasi dirinya dalam kultur masyarakat urban.
Urbanitas sendiri dalam konteks sosial ekonomi dan budaya tidak hanya merefleksikan sebuah formasi diskursif tatanan dunia kehidupan sosial politis, tapi juga perubahan paradigmatik di dalamnya, di mana nilai-nilai mengalami universalisasi di satu pihak, dan fragmentasi di pihak lain. Itu ditandai oleh capaian teknik, industri, gaya hidup, dan pertukaran budaya di dalamnya meski selalu terselip anomali-anomali di dalamnya. Bahkan, secara sistematik industri kebudayaan yang menandai kultur urban masyarakat itu telah melahirkan marginalisasi, kapitalisasi, dan eksploitasi.
Dalam konteks itulah proses urbanisasi yang meniscayakan pertukaran budaya (cultural share), persilangan, dan persenyawaan budaya selalu menarik untuk dilihat terkait dengan bergesernya modus individu dan masyarakat yang ingar-bingar tampil dalam kota-kota besar sebagai hasil dari proyeksi modernitas.
Meleburnya identitas
Konsep megapolitanisme kota, meleburnya identitas, bertemunya manusia lintas kultur dan bahasa, teknologisasi atas tubuh serta gaya hidup yang tampil, merupakan titik kulminasi dari capaian modernitas, yang dalam arti tertentu juga melahirkan keterasingan diri subyek atau individu dalam modernitas.
Megahnya etalase kota, mal, dan pusat-pusat ”Agora” baru dengan gaya arsitektur modern yang dicangkokkan dari rahim modernisme itu sekaligus menandai suatu universalitas nilai kosmopolit dalam masyarakat mutakhir meski selalu terselip keganjilan di dalamnya.
Titik universalitas nilai itu tampak ketika manusia konkret dan partikular itu melebur dalam batasan etnik, kultur, dan bahasa menjadi satuan anasir tak terbilang oleh identitas politik maupun ideologi. Tingkat polarisasi dan gejala konsumtivisme menjadi suatu penanda di mana batasan atau pemilahan ideologi itu telah melebur dalam bentuk universalisme modernitas meski tak dapat ditampik selalu ada unsur fragmentasi di dalamnya, terutama dalam bentuk-bentuk baru, seperti meleburnya batasan ideologi dan politik ke wilayah pertukaran hobi dan minat yang sama dari setiap individu di dalamnya.
Modernitas pun dalam arti tertentu telah meringkus dan meringkas manusia dalam dekapan ruang dan waktu. Di situ temporalitas menjadi keniscayaan dari semangat kebaruan yang tampil dalam masyarakat urban. Bahkan, pilihan dan ruang itu secara implisit diisyaratkan atau bahkan direpresi oleh kepentingan industri, baik itu diintrodusir oleh iklan maupun pencitraan komoditas yang tampil sehingga melahirkan bentuk atau karakter fetish (berhala) dari komoditas.
Tubuh-tubuh manusia dalam kultur urban kini tengah menjadi medan pertempuran teknik dan industri. Teknologisasi atasnya telah membentuk dan merepresi tubuh dalam sebongkah situs dan ekstensifikasinya yang melampaui hingga tubuh-tubuh seksis dan estetis pun seketika berubah menjadi tampilan yang erotis.
Pancaran ekstensifikasi tubuh itu tampak tidak hanya dalam keluasan ekonomi yang dimilikinya sehingga melahirkan kesadaran akan hak kepemilikan, tetapi sekaligus eksploitasi atasnya ketika kapitalisasi itu melampaui bentuk aktualisasi dari tubuh sebagai hak individual. Maraknya teknik dalam bentuk salon, klinik, dan aneka teknologi pendisiplinan tubuh adalah cerminan dari universalisasi atas tubuh sekaligus subversi atas tubuh. Melalui medium itu tubuh hendak dicitrakan sekaligus dikapitalisasi sehingga melahirkan eksploitasi dan tendensi fasistis atas tubuh dalam industri kebudayaan.
Tubuh dan pencitraan diri
Di jalanan, di pusat-pusat pembelanjaan, dan di klinik-klinik bengkel tubuh, kita menyaksikan apa yang pernah dimaklumatkan filsuf poststrukturalis Francis Michel Foucauld tentang narasi klinis, yang berupaya melakukan subversi dan represi atas tubuh dengan disiplinisasi atas tubuh melalui kuasa dan pengetahuan.
Dan pada hari ini, melalui narasi itulah masyarakat urban tampil bersolek melalui pencitraan-pencitraan diri yang melampaui kehendak, bahkan rasionalitas dirinya, sehingga tampilan wajah masyarakat urban pun bergeliat dalam kemeriahan lanskap kota dan perilaku masyarakat pesolek di tengah keriuhan dan keterasingan dirinya dari realitas primordial.
Normalitas dan keteraturan sosial di dalamnya sekaligus menunjukkan tingkat abnormalitas. Dalam perwajahannya yang elok nan seksis tubuh-tubuh manusia modern seolah tengah mengalami proses aktualisasi diri meski selalu muncul ironi di dalamnya. Di suatu massa ribuan, bahkan jutaan manusia, tampil sebagai individu yang seakan ingin tampil otentik, tetapi dalam keotentikannya sekaligus muncul abnormalitas dalam modus eksistensinya.
Penyimpangan-penyimpangan itu tampak secara vulgar dalam bentuk budaya narsisme, hedonisme, dan konsumerisme sehingga dalam batas tertentu keteraturan dan normalitas dunia kehidupan modern pun melahirkan budaya schizophrenia sebagaimana tampil dalam bentuk kapitalisme.
Tak ada lagi batasan teritori, bahasa, dan etnisitas dalam kultur urban. Semuanya melebur dalam gairah perayaan sekaligus pengorbanan yang lahir dari efek globalisasi. Manusia-manusia urban kini tampil sebagai ikon yang seolah telah meninggalkan batas tradisi dan bahasa serta perubahan modus produksi dan aktualisasi di dalamnya sehingga etalase kota pun diriuhkan oleh heterogenitas budaya.
Anomali kultur urban
Di atas kemegahan itu, dalam kultur urban semua modus dan ekspresi tidak pernah steril dari arus industrialisasi dan komoditas, melalui kuasa kapitalisme. Sehingga ironi, absurditas dan kesenjangan tampil dalam wajah kota nan megah dengan etalase dan konstruksi arsitektural modern, terutama bagi mereka yang tak mampu mengikuti arus logika kapitalisme yang sedang dimainkan semangat zaman.
Di tengah keriuhan kita duduk di kafe-kafe mal, manusia-manusia yang hilir mudik dalam perjumpaan seperti tampil saling bertukar penat dan keluh kesah, dan dalam kerumunan itu kita menemukan tampilan di mana digit perjumpaan teringkus oleh media atau alat komunikasi yang melintasi batas teritori. Keterasingan individu dan absurditas menghayati ruang dan waktu pun kian tampak ketika perjumpaan wajah dalam setiap momen dan peristiwa itu tak selalu menunjukkan perjumpaan dalam wajahnya yang polos dan terbuka ketika dalam momen dan peristiwa perjumpaan antarmanusia. Setiap individu tak lagi bertindak otentik sebagaimana individualitasnya. Bahkan, ketika desir malam datang, energi hormonal dari perjumpaan datang menjadi pertukaran yang khas dalam potret masyarakat kini.
Sehingga tubuh sering kali mengalami reprostitusi bahkan kapitalisasi sehingga melahirkan individu yang terasing dari setiap perjumpaannya dengan yang lain. Tak pernah ada ruang yang steril dari arus komoditas dalam setiap perjumpaan itu. Karena perjumpaan dalam wajah kepolosan individu telah bergeser ke arah pencitraan-pencitraan diri yang meniscayakan komoditas. Semua menjadi medan pertempuran citra dalam keseharian yang partikularnya. Sehingga individu selalu berwajah ganda dalam setiap perjumpaannya.
Mimang Ismail, Penekun Budaya pada Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Paramadina Jakarta