
Minggu, 15 Juni 2008 | 01:53 WIB
Deddy Arsya
Anak Ayah
”ayah seorang petapa. di gua tersunyi ia pernah bernyanyi.
di lain usia, ayah seorang satria. berpedang panjang.
mengalahkan puluhan orang dalam sekali tebang.”
”kata ibu, ayah telah memutuskan bunuh diri di suatu
rembang.”
”ayah merasuki tubuh seekor anjing milik peburu itu. aku membuka jendela. aku sering melihat anjing itu. ia
menatap dengan mata yang lembab. peburu itu terus
mengejar lembah dan gua dalam hutan itu.”
”kini ayah seekor naga merah pada lukisan di dinding
kamar ibu. kini ayah layang-layang yang bergoyang-
goyang di langit lapang. kini aku berusaha mencarinya di
rumah ibu: pada doa-doa yang diucapkan ke telingaku
menjelang larut.”
”di suatu petang, di suatu perang yang lain. aku hidup
dalam kematian ayah. ibu telah lama mati dalam
pikiranku. dulu ibu sering membisikkan sesuatu ke
telingaku. seperti salak anjing peburu itu. ia sering
meninggalkanku sendirian di dipan. di lemari baju yang
terbuka lebar. di dasar belanga yang mendidih aroma lada
dan pala, serai, ruku-ruku, gardamunggu, segala bumbu.”
”hantu hanya ada dalam perutmu!”
”kata ibu, aku tak perlu takut. juga pada mata anjing itu.
tapi dalam tidur, aku kadang harus berhadapan dengan
bisikan ibu, melebihi sepasang mata anjing itu, yang
bernyanyi: doa-doa seperti milik setan, jangan pernah
mengucapkan keinginan!”
”aku mewarisi mata ayah!”
”diam-diam aku duduk di dalam cermin. tetapi
menemukan mata ibu yang bundar: sepasang mata anjing
yang lembab itu terus bernyanyi pelan-pelan. tentang
sepasang mata anjing lain yang mengawasiku dari balik
cermin.”
Deddy Arsya
Mata Kail
”bangunkan aku sebelum jam lima pagi. aku akan ke
lubuk itu menyelami mata kail yang tersangkut. mungkin
sebuah batu besar di dasarnya telah membuatnya begitu. mungkin seekor ikan jantan telah melilitkan talinya pada
batu itu.”
”jam dua belas pas. aku belum ingin tidur. aku terbayang
mata kailmu. menjadi besar, menjadi malam yang
berguntur, mengejarku. mata kail yang basah. dan hujan
pun menggigil di dalam tubuh kita setelahnya.”
”terlalu cepat rasanya. besok kau bukan istriku lagi.
seorang lain telah kutemukan dalam wujud ikan. di gua di
lubuk itu, di dasar air itu. di sana kami akan tinggal,
membuat anak yang banyak, membangun masa depan dan impian.”
”kau pun telah menemukan seekor kura-kura berpunggung hijau. yang akan melindungimu dari tatapan mata siapa
pun. di dalam akuarium itu, ia akan menyala melebihi apa
saja.”
”suatu hari nanti, kau pun akan menikah. dengan teripang, ubur-ubur, atau umang-umang.”
”dan aku akan menjadi sepasang matahari yang rapuh di
kemudian hari. di kemudian hari yang dekat. sedekat ibu
jari dan telunjuk. masa lalu tertinggal jauh. sejauh
cakrawala tak tertatap.”
”setelah jam lima pagi itu, kau kubangunkan. dengkurmu
masih basah di telingaku. seperti hujan itu. tapi aku tetap bersikeras pada diriku. sudah waktunya. sudah waktunya.
maka aku siapkan mantel hujanmu. menyeduh kopi dan
emping tanpa gula yang kemarin juga. sudah demikian
acap aku berkata tentang cita-cita padamu. tentang cinta.
pindah rumah, dipan yang berderit tiap dinaiki. semuanya.
maka aku memilih diam. melebihi batu, yang katamu diam
terpaling. tapi kataku…. kita berdebat panjang. dalam
erang meninggi. terus meninggi. dan kita sama-sama
terhempas.”
”sedikit terlambat, katamu. mestinya sebelum jam lima
pagi, mata kail itu sudah harus ditemukan. ia buta untuk
membedakan apa saja. buaya-buaya raksasa itu akan
datang dari arah muara. menghampiri mulut gua. dan kita
tak akan menemukan apa-apa selain sia-sia.”
”ikan itu akan mati di ujung tali. tinggal gelembung di permukaan. mencibir kita sekehendaknya. dan kau akan terluka oleh cintamu sendiri. oleh mata kailmu sendiri.”
”antara batas insang dan kuat selammu.”
”demikian usia kesetiaan.”
”dan aku menebak bau air. lalu kita tercekik mimpi
masing-masing. seperti ikan di dasar itu. hanya malam
yang perlahan jadi hangat. hanya kematian yang perlahan
jadi akrab.”
”mata kail itu menyilang dalam tenggorokan. mata kail itu
menjadi ganas dan lapar. sesudahnya tak akan ada yang
berkata-kata selain tanya.”
”kau inginkan ikan-ikan yang mengepak dalam akuarium
itu. miniatur-miniatur pohon, rumah berpagar putih, kincir
air yang bergerak lambat, sapi-sapi yang gemuk dan kurus,
taman-taman berbunga lili, pohon mangga yang tinggi
mencucuk, hutan-hutan berwarna asap, dipan yang lebar
dan panjang, televisi 21 inci yang penuh hujan. semuanya.
bagaimana aku tak tahu tentang itu?”
”aku mendengar langkahmu di malam hari. aku
mendengar air di akuarium itu beriak sendiri, dan mata
kail itu telah dilemparkan ke tengah-tengah yang paling
jauh. ke bibir gua. ke mulut buaya-buaya raksasa.”
”tapi aku hanya inginkan rumah yang berderak oleh rentak anak-anak. aku hanya inginkan kau cemburu. aku
inginkan.... tak lebih dari itu.”
”mata kail itu menari-nari di dasar air.”
”matahari telah melepaskannya dari mulut ikan. ujung tali
itu telah diseret arus air yang jadi deras dalam sekejap. aku
masih mendengar kepaknya dalam tidurku. aku masih
menghitung berapa banyak rentak yang tersisa di rumah
ini. di lubuk itu, katamu. air di akuarium menjadi asin.
seasin lautan.”
”tak ada kura-kura berpunggung hijau.”
”tak ada ubur-ubur, tak ada teripang, tak ada umang.”
”kita hanya akan memelihara mabuk masing-masing”
TS Pinang
Tangga
satu. kami membiasakan melangkahkan kaki kanan. ini perjalanan yang bisa panjang. kami
menengadah sebab lantai kayu di atas itu telah menunggu. dua. kami melangkah lagi, dengan
kaki kiri. dan di antara pijak satu dan dua, kami mencoba menghafal doa. lalu tiga. kami
bayangkan sungai seribu rupa, di suatu lembah, di surga. empat. lihatlah, betapa banyak yang
harus diingat. dan dalam putaran yang begini padat, mana sempat kami berpindah tempat?
lima. di telapak kaki yang kanan kini, kami teringat nama-nama. enam. kaki kiri. kami tersedak
kenangan silam. tujuh. dada kami yang gemuruh. delapan. kami tersentak, rumah kami ini
mudah tumbang: atap rumbia dan dinding papan!
sembilan. kami melihat di kaca jendela, menempel gambar rembulan.
TS Pinang
Gelagar
gelagar itu membentang dari ubun kepala ke ujung utara di mana puncak kalderamu masih
menyala. gelagar itu menjadi jembatan antara mimpi-mimpi jalang dan totem batu yang
menjulang. gelagar itu seakan menyatukan celah bumi tersebab gegar. gelagar itu, bermula tugu
yang tumbang. bumi gemar gemetar, kami berpeluk gentar.
gelagar itu. membentang dari malam tertinggi hingga siang benderang. sebagai horizon yang
kami tapaki. hati-hati. bagai subuh mengendap mengupas matahari, kami lipat tabir matahati.
singgahlah, akan kami suguh kalian sepiala sepi, semerah anggur api. lalu kita berbincang sekhidmat sakramen suci merayakan cinta dan benci. sambil duduk kita di bentang gelagar itu, sementara di bawah sana jurang terpentang sepanjang benang layang-layang. dan langit yang membayang.
TS Pinang
Kakus
kami tak percaya pada najis, sebab kami tidak membuang limbah, hanya mengembalikannya ke
tanah. di sini setiap pagi, kami menjadi pintu bagi yang tiba di lembar lidah hendak pulang ke
hulu tanah. kami yang tiap hari memburu waktu, tiap pagi terduduk di lubang itu.
kami tak membuang limbah, hanya mengembalikannya ke tanah. dan lubang di kamar yang
pepat ini, selalu mengulang-ulang petuah: ke sana pula kau pulang, kelak di akhir hayat.
TS Pinang
Foyer
kami sering terpaku di ruang ambang antara pintu dan ruang tamu. tak ada akuarium di sini—
sudah cukup banyak ikan berenang di perut kami. di sini kami menghela jeda di sela-sela derum
nafas kami, lalu berhitung berapa langkah lagi untuk sampai di bidang ranjang, tempat kami
berdebat tentang kaki mana sebaiknya naik lebih dahulu: kiri ataukah kanan. ah, kami terlalu
sering berhitung hingga habis jemari kami, buntung oleh bilangan-bilangan setajam pisau
pancung.
di ruang ambang antara pintu dan ruang tamu ini kami sering terpaku. memandang tatap mata seseorang di lukisan dinding, sembari bertanya-tanya mengapa patung buddha itu terpejam matanya. buddha sedang samadi, katamu, dan kami begitu saja percaya. kami mengambang di antara pintu dan ruang tamu ini, bimbang antara menutup pintu di belakang kami atau melanjutkan tualang di padang kasur. tentu saja setelah menyapa patung buddha yang tertidur.
TS Pinang
Patio
seperti pulau, biarlah di dalam rumah kami menggenang danau. sedikit ikan merah jingga dan teratai yang geming tenang, atau rumpun semanggi yang terambang. akan kami letakkan pula seonggok batuan karang dan kerakal dari sungai ingatan kami. meski kami ini pelupa, sesekali kami suka memfosilkan rindu dan air mata, tersimpan di relung batu dan kalbu kata-kata.
di danau di tengah rumah kami itu, kami menyimpan wangi ratus dan aroma kembang
harummalam, juga desir air yang meniru deras darah di pembuluh tubuh kami. kadang-kadang,
mimpi-mimpi kami suka bersampan di situ, memancing ikan-ikan merah jingga, hingga malaikat subuh menculik mereka kembali. membawa juga doa-doa sepanjang malam, ritual kami.
Deddy Arsya lahir di Bayang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 15 Desember 1987. Mahasiswa Jurusan Sejarah Peradaban Islam, IAIN Imam Bonjol Padang. Puisinya termaktub dalam antologi Dua Episode Pacar Merah (2005) dan Herbarium (2007).
TS Pinang lahir di Semirejo, Pati, Jawa Tengah, 1971. Puisinya dimuat di beberapa antologi bersama, antara lain Antologi Bungamatahari (2006) dan Jogja 5,9 Skala Richter (2006). Saat ini tinggal di Yogyakarta.