Kamis, 18 Maret 2010
Dibenci Keluarga Istri

Minggu, 15 Juni 2008 | 01:57 WIB

 

 

 

Leila Ch Budiman psikolog

Minggu ini kita lihat beberapa pengalaman pembaca yang berhasil mengatasi masalahnya dengan baik. Tanggal 29 Juni yang akan datang adalah kali terakhir saya akan mengasuh rubrik ini sebab sudah saatnya saya eksit setelah nyaris 25 tahun jadi penjaga gawang kolom ini.

 

A di Rembang

Ibu Leila, saya seorang bapak dengan seorang istri dan empat anak. Usia saya sekarang 68 tahun, istri 6 tahun lebih muda. Anak-anak saya juga sudah mapan hidupnya. Saat ini saya merasa hidup dalam keluarga utuh, sehat walafiat dengan rezeki yang barokah.

Dulu kehidupan saya tidak begini. Keluarga istri tidak suka kepada saya. Banyak kepedihan, kata-kata pedas, penghinaan, dan hujatan saya rasakan. Bahkan, saya difitnah dan dianiaya orang. Istri saya selalu minta dipulangkan ke orangtuanya.

Ini bisa saja saya lakukan, tetapi saya masih berusaha mempertahankan keluarga, terutama karena saya teramat sayang kepada keempat anak saya, mereka manis-manis sekali. Juga saya beruntung punya orangtua yang bijak. Mereka menasihati saya untuk bertanggung jawab kepada anak-anak saya. Jadi, saya memusatkan perhatian saya terhadap pendidikan anak-anak sehingga mereka bisa hidup mapan sekarang.

Dalam menghadapi kesulitan yang bertubi-tubi, saya selalu bersimpuh ke haribaan Allah SWT, berzikir, berdoa setiap hari, bertahun-tahun, berwindu-windu. Dari pengalaman tersebut, saya merasa mendapat hikmah kehidupan, yakni kita harus tabah dan tawakal kepada-Nya.

Semoga pengalaman saya yang sederhana ini bisa dipetik manfaatnya bagi mereka yang mengalami kehidupan serupa. Amin.

Bapak A di Rembang,

Terima kasih atas kerelaan Bapak berbagi pengalaman dengan sidang pembaca di rubrik Konsultasi Psikologi ini. Pengalaman Anda kalau hanya dibaca kelihatannya sangat sederhana, tetapi saya dapat membayangkan betapa sukarnya kalau dalam sebuah rumah tangga seorang suami tidak disukai keluarga istrinya. Apalagi jika suami ini diberondong dengan kata dan sikap bermusuhan, difitnah, dan dihina.

Kesulitan ini bukan saja diderita sang suami, tetapi juga si istri. Bahkan mungkin penderitaan si istri lebih berat lagi karena dia harus menghadapi dua front: setia kepada suami akan membuat masalah dengan pihak orangtuanya, setia kepada pihak orangtuanya menimbulkan kesulitan hubungan dengan suaminya.

Beruntunglah Anda mempunyai tiga pendukung kuat yang membuat Anda tahan banting dalam badai kehidupan ini. Yang pertama adalah iman yang kuat kepada Allah. Kedua, cinta yang besar kepada anak-anak membuat Anda berusaha keras mempertahankan keluarga dan mengembangkan mereka sebaik-baiknya. Ketiga, dukungan bijak dari orangtua. Bukan orangtua yang hobi fitnah dan adu domba, tetapi orangtua yang mendamaikan dan mengingatkan kalau salah langkah.

Iman Anda yang kuat senantiasa mengingatkan bahwa hidup dengan aneka gejolaknya hanyalah cobaan dan transit saja bukan akhir yang kekal. Saat terpuruk Anda mohon kekuatan dan pertolongan-Nya, ini menenangkan dan menguatkan Anda untuk melangkah lagi ke jalan yang lurus. Tidak dengan membalas menghina, fitnah, berputus asa, beringasan, dan hancur-hancuran, tetapi tetap berusaha melakukan yang baik baik. Bapak A, karena dulu Anda rajin menebar benih kebaikan, sekarang Anda dapat menuai buah kebahagiaan.

Tanpa anak bisa bahagia – Ny Nat di Ibu Kota

Ibu Leila yang berbudi, saya lihat beberapa ibu yang tidak mempunyai anak sangat menderita dengan keadaannya, sampai berobat ke sana-kemari dengan segala cara, tetapi tetap tidak berhasil. Saya setuju dengan saran Ibu agar lebih memberikan perhatian dan kasih sayang kepada pasangan.

Ini semua pernah saya alami. Sembilan tahun saya menikah tanpa dikaruniai anak. Disibukkan usaha mendapatkan anak, dari dokter ahli kandungan sampai dukun dan tusuk jarum. Semua mengatakan tidak ada kelainan pada saya, tapi si kecil tak kunjung muncul. Usaha kami yang tidak habis-habisnya ini menghabiskan banyak biaya dan waktu. Tekanan dari sekeliling membuat kami seolah-olah mengejar angin.

Dalam kesibukan mengejar angin itu, tanpa sadar ini telah merusak hubungan kami sendiri, komunikasi jadi semakin amburadul. Akhirnya, mungkin suami tidak tahan, dia meninggalkan saya.

Padahal, dalam usaha mengejar angin itu saya telah melepaskan karier saya yang bagus. Hal ini saya lakukan karena banyak tekanan mengatakan, ”Itu karena kamu kecapaian”. Jadi, sudah kehilangan pekerjaan, kehilangan suami dan berstatus janda, berstatus warga negara kelas dua pula.

Pelecehan demi pelecehan dari pria maupun dari sesama wanita telah saya alami. Berat sungguh, Bu. Untunglah saya bertuhan, saya berpegang erat-erat kepada-Nya. Saya punya prinsip lakukan segala sesuatu sebaik-baiknya. Yang menggembirakan, pergaulan saya luas, jadi saya tidak pernah kesepian meski saya jaga kehormatan saya.

Suatu saat teman baik saya memperkenalkan saya dengan kawan lamanya. Awalnya saya ragu, apalagi pria itu jauh di seberang. Tetapi, teman saya ngotot. Singkatnya, setelah berkenalan dia melamar saya. Ajaib, seluruh keluarganya menerima saya.

Satu hal saya ingat terus: saya tidak mau mengejar angin lagi dan sejak awal kami sudah membicarakan tujuan kami masing-masing dalam pernikahan, ternyata sama: Having someone to share with. Pernikahan kami bertujuan memiliki teman untuk bersama-sama mengarungi hidup dalam suka dan duka, dalam untung dan malang.

Semua jadi menyenangkan, komunikasi berjalan dengan baik, dia banyak mendukung saya. Sampai sekarang, setahun lebih saya belum hamil, kami santai saja. Saya tetap berprinsip lakukan apa saja sebaik mungkin. Pengertian dan kasih sayangnya membuat saya bahagia, sangat bahagia. Urusan anak kami serahkan saja kepada Tuhan.

Selamat ya, Nat, terima kasih buat berbagi menggunakan obat mujarab keberhasilan: usaha seoptimal mungkin, juga dapat menerima keterbatasan, tanpa meninggalkan iman kepada yang menciptakan kita semua. ***

Share on Facebook
Nilai 7 A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: