Jumat, 29 Agustus 2008
Sajak-sajak Inggit Putria Marga
Minggu, 22 Juni 2008 | 03:00 WIB

Yang Berziarah

berperahu dia menuju aku: makam bernisan kayu

di akhir kayuh, peziarah itu sampai dan menggali tubuhku.

salam seluruh salam terucap padamu, makam

yang bersedia terbuka

yang berkenan menampakkan surga: belulang mamalia

yang hilang sumsumnya, yang kini entah di mana sukmanya.

sejahtera paling sejahtera terharap bagimu, tengkorak manusia

yang saat hidup, rahimnya adalah sangkar anakku sebelum menetas di dunia

yang setelah mati, tubuhnya lebur terurai luka

yang di telingaku, saat ini, samar-samar bersuara:

duduklah, peziarah, sebutlah nama yang bagimu paling indah

lalu diam dan dengarlah bekas manusia ini berkisah:

bulan sedang tiada ketika makhluk-makhluk itu memisahkan aku dari engkau dan

inang seluruh cinta: rumah yang dicahayai ratusan lampion, yang halamannya adalah singgasana bagi sebatang pohon. dari rumah itu

diseretlah aku, melintasi pohon itu mengurailah pakaianku, ke semak

penuh batu terhempaslah tubuhku. di situ langit malam hilang biru

sinar bintang begitu abu, awan berhambur bagai debu. debu adalah telur udara.

telur udara adalah yang menetas dalam tulangku. yang menetas

dalam tulangku adalah yang berpencar keluar, menyeruak lewat liang pori-poriku

bersusulan

berlesatan

berkilauan

rekah di angkasa menggantikan purnama: mahkota cakrawala: kuntum seroja di

tengah rawa. kelopak-kelopaknya luruh, larut di peluh. peluh kami: peluh aku dan

makhluk-makhluk itu: air hening yang memerah-menyungai-meriak

di semak penuh batu. makhluk-makhluk itu meraba ragaku di situ, terusaplah

rambutku, dikulumlah bibirku, dihisaplah mantra yang menahun bertapa

di bawah lidahku.

suamiku yang berziarah, dengar dan percayalah

serupa setan, di tubuhku, para penista itu mabuk dalam lenguhan. bagai tangan,

khusuk dan syahdu kelamin makhluk-makhluk itu menyuapkan madu

ke kelaminku

angin yang nampak ada, nampak pula tiada

mungkin ia tertawa, barangkali juga nestapa

menatap aku

di dera perkosa

di tujuh lapis tubuhku, terikat lagi simpul ratusan cakra

dalam tengkorak kepalaku, terbakar ribuan patung dewa

dalam dadaku: gaung raung, gema kidung, mantra penenung

sahut-menyahut bagai kicau yang dilontarkan ribuan burung gunung

angin wahai angin, desir kalbuku malam itu

beritahu aku, di mana sembunyi dewa-dewa

jelaskan padaku, apa makna mantra-mantra

katakan padaku, mengapa malam ini tak ada purnama

ceritakan padaku, dari mana datangnya layang-layang oleng

yang tiba-tiba bersinar, hilang-nampak di angkasa

yang kulihat dari sela-sela air mata

dari celah-celah embun sukma:

sang air, yang bertahun tertampung di guci dalam tubuhku yang kuanggap

kuil suci. air, yang di mataku beraliran tiada henti, ketika di kelaminku

kelamin makhluk-makhluk itu terus-menerus memutih bagai melati…

sesal sedalam sesal terhantar padamu, penghuni makam

sebab peziarah ini cuma air beku di malam menjelang hidupmu khatam

ampun sehimpun ampun terkirim padamu, makam

bila yang berkunjung ini, di kirimu, menumpang rebah walau semalam

di kampung hamba

rumah dan kuil telah terendam

altar sembahyang mengapung bagai benih tak tertanam

dewa sembunyi dari pagi hingga malam

anak-anak, suami-suami, istri-istri, kembung dan mati

tetangga, rumput, bahkan sapi, barangkali

kini sebeku uang dalam peti

kenangan dan angan-angan, haha, hanya remah roti

dipatuki burung-burung api:

unggas yang dihamburkan para malaikat dari dimensi kelima

entah untuk apa

mungkin, agar peziarah ini selalu menderita

supaya aku tetap percaya, bahwa nestapa dan bahagia

(kata para bijaksana) hanya persoalan mengatur nafas saja

bahwa akhirnya saya dan engkau berdua, memang mesti berjumpa

ya, dengan perahu kutinggalkan dusun dan menggapai kamu, makam

di akhir kayuh aku sampai padamu, penghuni makam

bukan hendak melepas laknat, syahwat, apalagi memutus tali karma yang membuat denyut

jatung terasa cepat. tapi, hamba si peziarah ini, sekedar numpang beristirahat menghayati

luruhan keringat yang semakin membulat, terus-menerus memberat seberat memiliki jerawat

di liang pantat.

berperahu, peziarah itu menuju aku: penghuni makam bernisan kayu

di akhir kayuh, suamiku sampai—rebah di kiri kuburku.

maret, 2008


Kidung Sekelompok Asap

angin, terbangkan kami

angin, arahkan kami

angin, sampaikan kami

pada dia yang mengatapi bumi, yang bebas dari busuk dan wangi, yang terlepas dari semua

simpul dan temali.

jangan sangkutkan kami, jangan pencarkan kami, jangan lekatkan kami

di lembut hidung para bayi, di mata remaja yang bening bermimpi, di tangan pendoa yang

menjalin syair-syair suci.

iringi gerak kami, angin

pertemukan tubuh kami, angin

satukan sukma kami, angin

dengan kawan dekat matahari, dengan tempat laut berkaca diri, dengan langit yang tak pernah tertebak—kapan akan menampakkan lengkung pelangi.

maret, 2008

Patung Perempuan yang Tangan Kirinya Menggenggam Guci

suatu hari nanti, akan kulepaskan guci yang tergenggam di tangan kiriku ini ke beberapa

tempat. salah satunya, ke kepalamu. ah, pernahkah terbayang olehmu, pendoa, keindahan

yang terjadi bila datang masa itu?

melihat butir-butir darah merayapi permukaan keningmu, pastilah, setenteram saat kudengar

syair suci yang setiap sore kau kidungkan untukku. kilauan air merah itu akan membuatku

terkenang pada percik hujan yang sering berkilau di ujung sepatumu, setiap kali langkahmu

yang hening namun bergegas itu, memasuki

gerbang rumahku.

menerima jatuhan guci dari tangan kiriku di kepalamu, mungkin, takkan membuatmu

terkejut. tanganmu akan tetap terkatup. kidung di bibirmu juga tak menjadi redup.

ditinggalkan asap dupa yang melangkah pelan-pelan ke negeri terjauh, di kakiku

kau tak bergeming, bersimpuh, menghayati luruhan darah yang merintik bagai peluh.

barangkali kau begitu. mungkin juga kau akan membalasku.

tanganmu akan terbuka, mencari apa saja yang dapat membuatku binasa. di bibirmu syair

suci seketika berganti dengan nama-nama satwa: babi, siamang, ulat bulu, burung puyuh,

ikan gurame, kepiting, cacing tanah, ayam hutan, belalang, kutu air, dan ragam jenis lainnya.

kau akan meradang, amarahmu mengambang di sela-sela perih yang mengembang, karena

guciku jatuh di kepala yang kau sayang-sayang. kepala, yang bagimu adalah peti kenangan

dan angan-angan.

kau tersinggung pada aku dan guciku. kau tak bisa menerima perlakuan seperti yang dialami

kepalamu itu. dengan dingin, kau jadikan aku dan guciku sebagai puing-puing. kau

melangkah, meninggalkan dan tak pernah kembali ke rumahku yang hening.

barangkali kau begitu. tapi, suatu hari nanti, aku akan tetap melepaskan guci yang bertahun

tergenggam di tangan kiriku ini ke beberapa tempat. mungkin ke kepalamu

atau ke yang jenisnya sama denganmu.

april, 2008

Cerita Penghirup Asmara

dua puluh enam tahun lalu

saat mataku menghitung kapal-kapal yang terbakar di tengah samudra, mulutku terbuka,

menghirup asmara yang tiba-tiba terlontar

dari paruh sesosok burung gereja: unggas tak ganas, yang lintas di atas kepala

yang mengepak dan hilang

tertangkap tangan udara.

asmara itu berpencar di lidahku, merayap persis asap meninggalkan tungku

senyap, seolah tak tahu

namun, ternyata begitu mengerti ke mana akan menuju.

dia, yang sepi serupa asap tungku, meluncur ke tenggorokanku, menelan asmara lain yang

berbaris di situ. geraknya sunyi, sehening kibasan sapu saat menyingkirkan sampah-sampah

dari lantai rumahmu.

yang meluncur itu, yang menelan asmara-asmara lain di tenggorokanku itu

berputar dalam dada, memecahkan gelembung-gelembung suara, menyerap ampas-ampas

cahaya, membuka simpul bunga, bunga-bunga yang sekian lama mengatup bagai belukar duri

di kebun anda (bila ada).

sambil menari, makhluk itu pun berlari dalam perutku, menarik usus, tergelincir di anus,

mencari-cari jalan keluar dari tubuhku. dia menjadi gema, bertahun-tahun memantul,

bergulung, meraung, bersama terbit-tenggelam, penghujan-kemarau, basah-kering keringat

dan air mata

sampai di saat ini

yakni, saat sepasang mataku khusuk lagi menghitung kapal-kapal yang membakar samudra,

ketika mulutku tiba-tiba kembali terbuka, menghirup asmara baru yang terlontar dari paruh

sesosok burung gereja, yang lintas di atas kepala, yang mengepak dan hilang

gagal menangkap tangan udara

agustus, 2007

Inggit Putria Marga lahir di Tanjungkarang, 25 Agustus 1981. Ia bergiat di Komunitas Berkat Yakin, Bandar Lampung.

A A A
BERITA TERPOPULER

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort