
![]() |
Yang Berziarah
berperahu dia menuju aku: makam bernisan kayu
di akhir kayuh, peziarah itu sampai dan menggali tubuhku.
salam seluruh salam terucap padamu, makam
yang bersedia terbuka
yang berkenan menampakkan surga: belulang mamalia
yang hilang sumsumnya, yang kini entah di mana sukmanya.
sejahtera paling sejahtera terharap bagimu, tengkorak manusia
yang saat hidup, rahimnya adalah sangkar anakku sebelum menetas di dunia
yang setelah mati, tubuhnya lebur terurai luka
yang di telingaku, saat ini, samar-samar bersuara:
duduklah, peziarah, sebutlah nama yang bagimu paling indah
lalu diam dan dengarlah bekas manusia ini berkisah:
bulan sedang tiada ketika makhluk-makhluk itu memisahkan aku dari engkau dan
inang seluruh cinta: rumah yang dicahayai ratusan lampion, yang halamannya adalah singgasana bagi sebatang pohon. dari rumah itu
diseretlah aku, melintasi pohon itu mengurailah pakaianku, ke semak
penuh batu terhempaslah tubuhku. di situ langit malam hilang biru
sinar bintang begitu abu, awan berhambur bagai debu. debu adalah telur udara.
telur udara adalah yang menetas dalam tulangku. yang menetas
dalam tulangku adalah yang berpencar keluar, menyeruak lewat liang pori-poriku
bersusulan
berlesatan
berkilauan
rekah di angkasa menggantikan purnama: mahkota cakrawala: kuntum seroja di
tengah rawa. kelopak-kelopaknya luruh, larut di peluh. peluh kami: peluh aku dan
makhluk-makhluk itu: air hening yang memerah-menyungai-meriak
di semak penuh batu. makhluk-makhluk itu meraba ragaku di situ, terusaplah
rambutku, dikulumlah bibirku, dihisaplah mantra yang menahun bertapa
di bawah lidahku.
suamiku yang berziarah, dengar dan percayalah
serupa setan, di tubuhku, para penista itu mabuk dalam lenguhan. bagai tangan,
khusuk dan syahdu kelamin makhluk-makhluk itu menyuapkan madu
ke kelaminku
angin yang nampak ada, nampak pula tiada
mungkin ia tertawa, barangkali juga nestapa
menatap aku
di dera perkosa
di tujuh lapis tubuhku, terikat lagi simpul ratusan cakra
dalam tengkorak kepalaku, terbakar ribuan patung dewa
dalam dadaku: gaung raung, gema kidung, mantra penenung
sahut-menyahut bagai kicau yang dilontarkan ribuan burung gunung
angin wahai angin, desir kalbuku malam itu
beritahu aku, di mana sembunyi dewa-dewa
jelaskan padaku, apa makna mantra-mantra
katakan padaku, mengapa malam ini tak ada purnama
ceritakan padaku, dari mana datangnya layang-layang oleng
yang tiba-tiba bersinar, hilang-nampak di angkasa
yang kulihat dari sela-sela air mata
dari celah-celah embun sukma:
sang air, yang bertahun tertampung di guci dalam tubuhku yang kuanggap
kuil suci. air, yang di mataku beraliran tiada henti, ketika di kelaminku
kelamin makhluk-makhluk itu terus-menerus memutih bagai melati…
sesal sedalam sesal terhantar padamu, penghuni makam
sebab peziarah ini cuma air beku di malam menjelang hidupmu khatam
ampun sehimpun ampun terkirim padamu, makam
bila yang berkunjung ini, di kirimu, menumpang rebah walau semalam
di kampung hamba
rumah dan kuil telah terendam
altar sembahyang mengapung bagai benih tak tertanam
dewa sembunyi dari pagi hingga malam
anak-anak, suami-suami, istri-istri, kembung dan mati
tetangga, rumput, bahkan sapi, barangkali
kini sebeku uang dalam peti
kenangan dan angan-angan, haha, hanya remah roti
dipatuki burung-burung api:
unggas yang dihamburkan para malaikat dari dimensi kelima
entah untuk apa
mungkin, agar peziarah ini selalu menderita
supaya aku tetap percaya, bahwa nestapa dan bahagia
(kata para bijaksana) hanya persoalan mengatur nafas saja
bahwa akhirnya saya dan engkau berdua, memang mesti berjumpa
ya, dengan perahu kutinggalkan dusun dan menggapai kamu, makam
di akhir kayuh aku sampai padamu, penghuni makam
bukan hendak melepas laknat, syahwat, apalagi memutus tali karma yang membuat denyut
jatung terasa cepat. tapi, hamba si peziarah ini, sekedar numpang beristirahat menghayati
luruhan keringat yang semakin membulat, terus-menerus memberat seberat memiliki jerawat
di liang pantat.
berperahu, peziarah itu menuju aku: penghuni makam bernisan kayu
di akhir kayuh, suamiku sampai—rebah di kiri kuburku.
maret, 2008
Kidung Sekelompok Asap
angin, terbangkan kami
angin, arahkan kami
angin, sampaikan kami
pada dia yang mengatapi bumi, yang bebas dari busuk dan wangi, yang terlepas dari semua
simpul dan temali.
jangan sangkutkan kami, jangan pencarkan kami, jangan lekatkan kami
di lembut hidung para bayi, di mata remaja yang bening bermimpi, di tangan pendoa yang
menjalin syair-syair suci.
iringi gerak kami, angin
pertemukan tubuh kami, angin
satukan sukma kami, angin
dengan kawan dekat matahari, dengan tempat laut berkaca diri, dengan langit yang tak pernah tertebak—kapan akan menampakkan lengkung pelangi.
maret, 2008
Patung Perempuan yang Tangan Kirinya Menggenggam Guci
suatu hari nanti, akan kulepaskan guci yang tergenggam di tangan kiriku ini ke beberapa
tempat. salah satunya, ke kepalamu. ah, pernahkah terbayang olehmu, pendoa, keindahan
yang terjadi bila datang masa itu?
melihat butir-butir darah merayapi permukaan keningmu, pastilah, setenteram saat kudengar
syair suci yang setiap sore kau kidungkan untukku. kilauan air merah itu akan membuatku
terkenang pada percik hujan yang sering berkilau di ujung sepatumu, setiap kali langkahmu
yang hening namun bergegas itu, memasuki
gerbang rumahku.
menerima jatuhan guci dari tangan kiriku di kepalamu, mungkin, takkan membuatmu
terkejut. tanganmu akan tetap terkatup. kidung di bibirmu juga tak menjadi redup.
ditinggalkan asap dupa yang melangkah pelan-pelan ke negeri terjauh, di kakiku
kau tak bergeming, bersimpuh, menghayati luruhan darah yang merintik bagai peluh.
barangkali kau begitu. mungkin juga kau akan membalasku.
tanganmu akan terbuka, mencari apa saja yang dapat membuatku binasa. di bibirmu syair
suci seketika berganti dengan nama-nama satwa: babi, siamang, ulat bulu, burung puyuh,
ikan gurame, kepiting, cacing tanah, ayam hutan, belalang, kutu air, dan ragam jenis lainnya.
kau akan meradang, amarahmu mengambang di sela-sela perih yang mengembang, karena
guciku jatuh di kepala yang kau sayang-sayang. kepala, yang bagimu adalah peti kenangan
dan angan-angan.
kau tersinggung pada aku dan guciku. kau tak bisa menerima perlakuan seperti yang dialami
kepalamu itu. dengan dingin, kau jadikan aku dan guciku sebagai puing-puing. kau
melangkah, meninggalkan dan tak pernah kembali ke rumahku yang hening.
barangkali kau begitu. tapi, suatu hari nanti, aku akan tetap melepaskan guci yang bertahun
tergenggam di tangan kiriku ini ke beberapa tempat. mungkin ke kepalamu
atau ke yang jenisnya sama denganmu.
april, 2008
Cerita Penghirup Asmara
dua puluh enam tahun lalu
saat mataku menghitung kapal-kapal yang terbakar di tengah samudra, mulutku terbuka,
menghirup asmara yang tiba-tiba terlontar
dari paruh sesosok burung gereja: unggas tak ganas, yang lintas di atas kepala
yang mengepak dan hilang
tertangkap tangan udara.
asmara itu berpencar di lidahku, merayap persis asap meninggalkan tungku
senyap, seolah tak tahu
namun, ternyata begitu mengerti ke mana akan menuju.
dia, yang sepi serupa asap tungku, meluncur ke tenggorokanku, menelan asmara lain yang
berbaris di situ. geraknya sunyi, sehening kibasan sapu saat menyingkirkan sampah-sampah
dari lantai rumahmu.
yang meluncur itu, yang menelan asmara-asmara lain di tenggorokanku itu
berputar dalam dada, memecahkan gelembung-gelembung suara, menyerap ampas-ampas
cahaya, membuka simpul bunga, bunga-bunga yang sekian lama mengatup bagai belukar duri
di kebun anda (bila ada).
sambil menari, makhluk itu pun berlari dalam perutku, menarik usus, tergelincir di anus,
mencari-cari jalan keluar dari tubuhku. dia menjadi gema, bertahun-tahun memantul,
bergulung, meraung, bersama terbit-tenggelam, penghujan-kemarau, basah-kering keringat
dan air mata
sampai di saat ini
yakni, saat sepasang mataku khusuk lagi menghitung kapal-kapal yang membakar samudra,
ketika mulutku tiba-tiba kembali terbuka, menghirup asmara baru yang terlontar dari paruh
sesosok burung gereja, yang lintas di atas kepala, yang mengepak dan hilang
gagal menangkap tangan udara
agustus, 2007
Inggit Putria Marga lahir di Tanjungkarang, 25 Agustus 1981. Ia bergiat di Komunitas Berkat Yakin, Bandar Lampung.