
Minggu, 29 Juni 2008 | 03:00 WIB
Leila Ch Budiman psikolog
25 tahun
Sudah nyaris 25 tahun saya mengasuh rubrik Konsultasi Psikologi ini, lumayan lamanya. Kalau saat itu melahirkan bayi, maka setelah 25 tahun bayi itu sudah jadi sarjana dan mungkin sudah menikah pula.
Ketika saya baru menjaga gawang ini, kedua anak saya masih di SD, sekarang mereka sudah Master dan PhD dari Amerika Serikat dan keduanya sudah berkeluarga. Mereka belajar di Amerika bukan karena kami biayai, tetapi karena mereka berusaha sendiri mendapat beasiswa sambil bekerja untuk biaya hidup. Ini tulisan terakhir saya dalam rubrik ini, saya berikan beberapa flash back saat mengasuh rubrik ini.
Bujuk bojomu
Saya ingat, 25 tahun lalu, Mas Larto dari Kompas mendatangi saya di Salatiga. Kami baru dua tahun pulang dari AS. Kegiatan saya mengajar psikologi di dua universitas di Salatiga, UKSW dan IAIN, juga menjadi konselor di Counceling Center UKSW.
Mas Larto menawarkan menggantikan Romo Brouwer yang akan pensiun. Setahu saya, ini adalah kolom konsultasi psikologi pertama di surat kabar Indonesia. Tentu saja saya deg-degan dan kontan menjawab, ”Tidak mau!”
Bukan karena tidak tertarik, tetapi karena enggak pe-de alias minder. Sikap jelek ini saya warisi sejak kecil sebab lahir sebagai anak bungsu dengan tiga kakak cowok yang besar-besar. Posisi ”selalu kalah” ini mengajarkan saya mundur teratur sebelum maju perang. Juga, Romo Brouwer sudah kawakan lulusan luar negeri, sedang saya masih culun, lulusan Universitas Indonesia.
Mas Larto mungkin tertarik karena membaca tulisan-tulisan saya di majalah kampus Counceling Center. Beliau tidak putus asa dan mendatangi suami saya, Arief Budiman, lalu bilang, ”Rief, tolong bujuk bojo-mu biar mau!”
Grogi
Arief berhasil membujuk saya. Kata dia, kesempatan tidak datang dua kali dan apa salahnya mencoba.
Sejak tahun 1983, tiga bulan sebelum mulai, surat-surat untuk Romo Brouwer sudah diberikan kepada saya. Jumlahnya tidak banyak, berkisar 1-4 surat sebulan. Kemudian, saya menjawab surat-surat itu seminggu sekali. Tentu saja saya grogi, selalu merasa tulisan saya tidak sebagus Romo Brouwer.
Tugas mengajar pun—apalagi saat musim koreksi tes dan ujian—membuat saya meminta bantuan beberapa sahabat ”konselor” di sekitar Salatiga yang juga penulis kawakan: Romo Mangunwijaya, psikolog Darmanto Yatman, dan Michael Utama. Saya lega mereka mau ikut mengisi Konsultasi. Tetapi, satu hal mengkhawatirkan saya, surat yang masuk bertambah sedikit. Bahkan, adakalanya dalam sebulan hanya satu surat saja. Mungkin pembaca bingung harus bertanya kepada siapa dan gonta-ganti orang membuat pembaca kurang dapat membina rasa percaya mereka.
Akhirnya saya memberanikan diri tampil apa adanya dan mengasuh rubrik ini dengan jujur dan rasa sayang. Dalam beberapa tahun, surat bertambah banyak. Jumlahnya turun-naik, adakalanya untuk satu subyek saja ditanggapi lebih dari 30 orang.
Siapa yang menulis surat ke rubrik ini?
Umur mereka berkisar dari 13 tahun sampai di atas 70 tahun serta berasal dari aneka pendidikan dan profesi. Populasi terbanyak golongan umur dewasa muda (25-40 tahun). Agaknya, golongan inilah yang paling banyak dilanda stres. Masa ini memang penuh peralihan dan tantangan hidup baru.
Sebagai orang dewasa yang baru mentas, mereka ”dibombardir” berbagai tuntutan masyarakat: pekerjaan, keluarga baru, dan anak-anak yang masih kecil, sementara modal dan pengalaman masih minim.
Ada pula golongan lain yang rajin menulis ke ruang ini, yaitu remaja. Soal yang ditanyakan kebanyakan pacar, kurang pe-de, dan orangtua yang cerewet. Populasi ini berkurang sejak dibukanya ruang Curhat.
Soal yang paling mencekam pemikiran?
Yang paling banyak menggelayuti pikiran, paling sering dikeluhkan dan disampaikan, mengenai orang yang paling dekat di hati. Orangtua mengenai anaknya, istri tentang suaminya dan sebaliknya, anak soal orangtuanya, kekasih mengenai pasangannya. Memang ada banyak bencana dan gejolak sosial. Namun, kalau di dalamnya ada anak, orangtua, pasangan kita, atau diri sendiri, akan terasa lebih hebat dan lebih menyakitkan.
Misalnya, belasan tahun lalu, seorang ibu menulis dengan sedih mengenai bagaimana piala yang dimenangi anaknya ditarik kembali karena anak itu ”tidak bersih lingkungan”. Padahal, ketika tahun 1966, anak itu masih balita. Atau kita sering mendengar tentang homoseks tanpa berpikir lebih jauh. Namun, surat dari beberapa orangtua dan pasangan menyebut dunianya terasa runtuh, seperti ditelan bumi, hancur, ketika tahu anaknya/pasangannya adalah gay atau lesbi.
Segi lain yang menarik, cukup banyak surat ditulis sebagai tanggapan tulisan dalam rubrik ini. Mungkin pembaca banyak yang berhati lembut, ikut memikirkan, menawarkan pertolongan, atau memberi solusi karena pernah mengalami keadaan serupa.
Bagaimana saya memilih surat untuk ditanggapi?
Ini tidak mudah, apalagi karena masalah yang ditanyakan sering kali kurang bervariasi. Atau, kalau lagi ”paceklik”, sedikit surat masuk. Atau banyak surat masuk, tetapi hanya menanggapi satu soal saja. Yang saya pilih untuk ditanggapi biasanya karena persoalannya menarik atau karena tidak biasa, atau berguna untuk banyak pembaca lain.
Jadi, masalah narkoba, kleptomania, dan manik depresif akan lebih cepat ditanggapi daripada soal bentrok dengan mertua dan sulit dapat pasangan.
Sukarnya, saya punya ”guilty feeling” dan sedih karena tidak semua surat dapat ditanggapi dalam ruang terbatas ini. Misalnya, menanggapi satu kasus kleptomania telah mengesampingkan tiga masalah konflik keluarga dan satu kasus narkoba telah menggeser beberapa surat kurang biaya dan sukar mencari pasangan.
Suka duka
Dengan memegang lima pekerjaan lain, selama 15 tahun pertama tidak mudah untuk menulis seminggu sekali dengan menarik buat persoalan yang ”itu-itu saja”. Apalagi, kalau ada yang sakit, ada yang meninggal, perkawinan, atau ceramah di kota lain.
Jadi, adakalanya tugas mengurangi stres ini jadi sumber stres pula. Sampai, kalau tiba saat deadline dan belum ada topik menarik, anak-anak saya bilang, ”Jangan dekat-dekat Mom, dia lagi stres Kompas.”
Kalau akan pergi keluar kota atau ke luar negeri (10 tahun terakhir ini kami tinggal di Australia), separuh koper saya diisi surat-surat konsultasi psikologi dan laptop. Ini mengurangi ruang buat oleh-oleh.
Yang menyenangkan adalah jika penulis surat bilang, ini suratnya yang kedua, ketiga, sebab saran saya telah menolongnya dulu. Atau bertemu dengan seseorang dan mereka, ketika tahu saya Leila Ch Budiman, langsung menjabat tangan saya sekali lagi dengan erat serta mengucap, ”Saya penggemar Ibu, lho,” atau ”Saya banyak belajar dari kolom Ibu,” atau minta foto bareng. Atau telah merasa begitu dekat sampai, meski tongpes, tetap membeli Kompas Minggu. Pengalaman ini dapat mengobati rasa sedih dan guilty feeling saya.
Tidak mudah untuk berpamitan, apalagi karena rubrik ini sudah lama menjadi bagian hidup saya, juga menjadi sebagian identitas saya dan sebaliknya. Kompas pun masih memperpanjang kontrak kerja saya, tetapi saya rasa sudah saatnya pamit. Rubrik ini tidak boleh lelah, dia harus tetap tangkas dan segar.
Akhirnya, saya mohon maaf setulusnya buat para penulis yang belum sempat saya tanggapi suratnya. Semoga soal yang Anda hadapi sudah dapat diatasi dengan baik.
Terima kasih kepada Kompas yang telah memberi kesempatan dan kepercayaan kepada saya buat ikut menolong sesama.