
![]() |
Sindu Putra
Ning
Ning, sungai mati yang membagi Mataram
di jejak airnya bayanganmu menyala
mengenakan pakaian kupu-kupu
di batu laharnya aku dapatkan namamu
setua epitaf, dengan tombak cahaya yang redup
mengalir di jalan air yang kering
pemandangan yang amis membasahimu
pasar hewan, rumah potong ayam,
tempat pelelangan ikan, dan
perempuan-perempuan memindang layur
Ning, sungai hening yang memberimu
sebagian Mataram
apa yang kau tanam ke laut
sampai kau panen kesepian ini!
tanganku yang birahi
dengan sisa malam
menjangkau air matamu
yang padam
Sindu Putra
Pengantin Mataram
OL SP
sekardiu itu, oooooooodatang juga ke Mataram
seekor kuda perkawinan
maka, malam pun terus pertama
seorang anak yang belum akilbaliq
dengan riang menunggangnya
pahamkah bocah itu dengan upacara ini:
seekor kuda dengan sayap tersembunyi
dengan penunggang rahasia
membawa dua manusia ke pelaminan
lihat, betapa tidak takut anak itu
pada makhluk dengan mata melotot,
lidah menjulur, ooooootaring mencuat
sebegitu berani, oooooolayaknya kau
dengan pernikahan pertama ini
seberani saat kau melarikan gadis itu
gadis yang tidak pernah gusar dengan perceraian
lantas apa lagi yang berganti seusai ijab qabul
kaki langit masih sama ragam hiasnya
mata belalang, sayap kupu-kupu, cangkang penyu
dan tanah bertambah penyesaknya
rumah ular, rumah buaya, rumah berkarang boma
namun, tinggal kalian berdua, akhirnya
berdua saja menunggang sekardiu itu
kuda dengan sayap-sayap yang tak terlihat
hanya sekarang, penunggangnya sepasang pengantin baru
Sindu Putra
Tiga Perempuan Melukis
Paox Iben
dengan bagian tubuhnya yang paling sepi
tiga perempuan melukis, oooooooodan
ciumlah, ooootangan yang tafakur
perempuan itu, oooo tidak lagi memilih
potongan kukunya, oooooooorontokan rambutnya
sisa perona pipi oooooooooooatau penghapus cat bibir,
maka, dari siapa perempuan-perempuan itu mendapatkan warna
bagaimana mereka mencairkannya, hingga melekat di kanvas
aku perhatikan, perupa-perupa perempuan itu
memperoleh warna-warna yang tua, o tidak saja
dari garam, obau kapur barus, o atau amis pindang
bahkan juga dari serbuk semen, okarat baja, obalon listrik
aroma mesin pendingin, oooooooo atau minyak pelumas bekas
bidang gambarnya menyala
tidak ada tanda kota yang terlewatkan
pasar yang digusur, ooodapur yang terbakar atau
kembang kertas di salon kecantikan
juga agar hidup pulau ini
kedelai sawah, oladang lamtoro, o kebun tembakau
bunga beaq ganggas,o kolam ikan air tawar, oobatu jambu mete
di ruang-ruang kosong tempatnya melelehkan malam
tangan lembabnya menumpukkan, osaling serap, osilang menyilang
ranjang yang payau, o televisi yang membisu 24 jam
debu di kaki penjual sayur keliling, ookulkas yang membeku
kabel telepon, otinta printer, obangkai komputer, olampu lalu lintas
dari lipatan tangan, operempuan-perempuan itu mengumpulkan warna
dengan tangan, operempuan-perempuan itu membentuk waktu:
segitiga, okubus, oobulan sabit, oomatahari gerhana
panen raya, paceklik, o busung lapar, o pesta perkawinan
malam pertama, ogagal panen, omas kawin, opengemis
pasar hewan, otempat pelelangan ikan, obak sampah, okantor, ojalan raya...
tiga perempuan itu melukis
Sindu Putra
Penyair dalam Diriku
mati penyair dalam diriku
pemamah bunga layu
yang terkubur di seumur hidupku
tidak lagi mematahkan penuh birahi
kata-kata yang telah ditawarkan
jadi, masihkah aku tuliskan puisi!
dan tanganmu yang kiri, oooooo dibisukan
mataku ooooookelaminku oooooo tubuhku
membentuk pasar 1000 tahun
yang meluap hingga Mataram,
aku perhatikan, ooooooseorang Umarmaya di dalamnya
di tengah pasar oooooooooooodi tengah jalan
mata memandang agak ke bawah
bermuka masam ooooooooo tubuhnya kurus
berdiri dengan tangan bersidekap
aku tak berkedip memandangnya
dari tangannya kupu-kupu bersarang
kupu-kupu dengan sayap yang sobek
tergelincir oleh bunga yang dimakan ulat
dalam pemandangan yang malam, oo24 jam
di taman rengganis, o taman barong, otaman raksasa
tinggal Umarmaya seorang diri, odalam diriku
bagaimana membedakan dengan sebatang pohon
bila sulit menduga umurnya dan
apa bedanya dengan pulau lampau, okelam silam
seusia puisi, omenjadi epitaf nisan, ootempat namaku
dilupakan, ooooooooonama penyairku
Esha Tegar Putra
Selepas Bertemu
kau lepas lembah arau kau lepas lembah anai
ingatanmu gumpal di lekuk tebing di landai pantai
*
kami lepas lambai kau ingatlah panjang jalan
sajak harum bakal orang mencium titip di tiap kelokan
dan bunyi saluang dan tuah dendang bawalah
agar kau ingat pada ranah tempat raja pernah bertitah
*
di bukit jirek nan penuh jejak sepatu orang-orang bersenapan
kau ceritakan muasal sakit nasi kapau dalam tiap suapan
kami lepas lambai kau ingatlah panjang jalan
tentang tuan yang merebus daun kopi agar dibiarkan
dan bunyi ketipak terompak kuda penarik bendi
suatu kali bakal jadi gaungan lindap dalam setiap diri
*
agar kau nikmat agar kita bersua di lain masa
simpan dulu pandangan lama lepas dulu kedipan mata
isyarat pecah bulan dan terserak di batang kuranji
kulantunkan itu dendang agar kau tak memutus tali
kami lepas lambai kau ingatlah panjang jalan
dari penyeberangan bakal tersiar kabar persuaan
dan melupa dulu melupalah dulu tiap kelokan yang diingat
biar mengurung itu rindu lalu jadi buncah yang teramat
Kandangpadati, 2008
Esha Tegar Putra
Pemetik Pinang
di pekan jumat, sebelum merapi berkepundan dan pertemuan
kita jadi malu muka yang teramat sangat. gelanggang begitu riuh
penuh sorak-sorai, bunyi keok ayam dan ketipak gendang
membikin buncah orang-orang berpesta. “aku mencium wangi
getah gaharu yang melekat di selendang panjang dan dadaku mulai
memendam ramainya permainan gaib. gaib yang melebihi
mabuk-gilanya ramai gelanggang”
begitulah aku yang mengagungkan pertemuan. sebab setampuk
pinang kulihat telah berbungkus kain merah (disulam benang emas)
dan kau jinjing hilir-mudik sepanjang lebuh kampung.
lalu segerombolan perempuan pesolek menjunjung bakul rajut pandan
mengekorimu. aku menatap bibir yang digincu, kening yang
ditepukkan minyak pemanis, jemari kaki dan tangan yang tiba-tiba
kukunya dilentikkan inai. duh, malangku sudah tiba pula kiranya,
melesat begitu saja ke sekujur badan
“malang bersandar di kayu lapuk,
malang bergelantungan di dahan lunak,
batang pinang yang kupanjat bergabuk.”
gumam tertahan akhirnya terpekikkan juga. gerombolan perempuan
pesolek mendengar pekik runcing nan menusuk. kiranya kenapa
mereka kian bergairah mengekorimu? bukanlah aku si pemetik
pinang yang kau jinjing itu! adat terasa masam kujilat, tuah
menggelejang kudendangkan. ketipak gendang di pekan jumat
menabuh sebatang tubuhku. “kan kuisyaratkan bulan
rebah di puncak rumah lewat bunyi pecahan piring,” ucapanmu
membikin temali berbuhul. temali bakal pengebat badanku.
adakah kedipan matamu akan berisyarat, bahwasanya kain merah
pembungkus setampuk pinang akan dihanyutkan ke batang air?
atau berikan aku pekan-pekan yang lain. agar jumpa jadi hal biasa
badan yang kian bertabuhan malang akan kularikan ke lain waktu
di mana bakal bertemu kayu kuat tempat bersandar, dahan tempat
bergayut bergelantungan. juga batang pinang dengan tampuk yang
memendam basah. agar kiranya aku tak gamang memetik nantinya
Kandangpadati, 2008
Esha Tegar Putra lahir di Solok, Sumatera Barat, 29 April 1985. Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas. Bergiat di Komunitas Daun, Rumahteduh, dan Ranahteater Padang.
Sindu Putra lahir di Bali, 31 Juli 1968. Buku puisinya antara lain Kemah Malam Burung Malam (2000) dan Biografi Burung (2005). Tinggal di Mataram, Nusa Tenggara Barat.