Senin, 8 September 2008
Sajak sajak
Minggu, 29 Juni 2008 | 00:58 WIB

Sindu Putra

Ning

Ning, sungai mati yang membagi Mataram

di jejak airnya bayanganmu menyala

mengenakan pakaian kupu-kupu

di batu laharnya aku dapatkan namamu

setua epitaf, dengan tombak cahaya yang redup

mengalir di jalan air yang kering

pemandangan yang amis membasahimu

pasar hewan, rumah potong ayam,

tempat pelelangan ikan, dan

perempuan-perempuan memindang layur

Ning, sungai hening yang memberimu

sebagian Mataram

apa yang kau tanam ke laut

sampai kau panen kesepian ini!

tanganku yang birahi

dengan sisa malam

menjangkau air matamu

yang padam

Sindu Putra

Pengantin Mataram

OL SP

sekardiu itu, oooooooodatang juga ke Mataram

seekor kuda perkawinan

maka, malam pun terus pertama

seorang anak yang belum akilbaliq

dengan riang menunggangnya

pahamkah bocah itu dengan upacara ini:

seekor kuda dengan sayap tersembunyi

dengan penunggang rahasia

membawa dua manusia ke pelaminan

lihat, betapa tidak takut anak itu

pada makhluk dengan mata melotot,

lidah menjulur, ooooootaring mencuat

sebegitu berani, oooooolayaknya kau

dengan pernikahan pertama ini

seberani saat kau melarikan gadis itu

gadis yang tidak pernah gusar dengan perceraian

lantas apa lagi yang berganti seusai ijab qabul

kaki langit masih sama ragam hiasnya

mata belalang, sayap kupu-kupu, cangkang penyu

dan tanah bertambah penyesaknya

rumah ular, rumah buaya, rumah berkarang boma

namun, tinggal kalian berdua, akhirnya

berdua saja menunggang sekardiu itu

kuda dengan sayap-sayap yang tak terlihat

hanya sekarang, penunggangnya sepasang pengantin baru

Sindu Putra

Tiga Perempuan Melukis

Paox Iben

dengan bagian tubuhnya yang paling sepi

tiga perempuan melukis, oooooooodan

ciumlah, ooootangan yang tafakur

perempuan itu, oooo tidak lagi memilih

potongan kukunya, oooooooorontokan rambutnya

sisa perona pipi oooooooooooatau penghapus cat bibir,

maka, dari siapa perempuan-perempuan itu mendapatkan warna

bagaimana mereka mencairkannya, hingga melekat di kanvas

aku perhatikan, perupa-perupa perempuan itu

memperoleh warna-warna yang tua, o tidak saja

dari garam, obau kapur barus, o atau amis pindang

bahkan juga dari serbuk semen, okarat baja, obalon listrik

aroma mesin pendingin, oooooooo atau minyak pelumas bekas

bidang gambarnya menyala

tidak ada tanda kota yang terlewatkan

pasar yang digusur, ooodapur yang terbakar atau

kembang kertas di salon kecantikan

juga agar hidup pulau ini

kedelai sawah, oladang lamtoro, o kebun tembakau

bunga beaq ganggas,o kolam ikan air tawar, oobatu jambu mete

di ruang-ruang kosong tempatnya melelehkan malam

tangan lembabnya menumpukkan, osaling serap, osilang menyilang

ranjang yang payau, o televisi yang membisu 24 jam

debu di kaki penjual sayur keliling, ookulkas yang membeku

kabel telepon, otinta printer, obangkai komputer, olampu lalu lintas

dari lipatan tangan, operempuan-perempuan itu mengumpulkan warna

dengan tangan, operempuan-perempuan itu membentuk waktu:

segitiga, okubus, oobulan sabit, oomatahari gerhana

panen raya, paceklik, o busung lapar, o pesta perkawinan

malam pertama, ogagal panen, omas kawin, opengemis

pasar hewan, otempat pelelangan ikan, obak sampah, okantor, ojalan raya...

tiga perempuan itu melukis

Sindu Putra

Penyair dalam Diriku

mati penyair dalam diriku

pemamah bunga layu

yang terkubur di seumur hidupku

tidak lagi mematahkan penuh birahi

kata-kata yang telah ditawarkan

jadi, masihkah aku tuliskan puisi!

dan tanganmu yang kiri, oooooo dibisukan

mataku ooooookelaminku oooooo tubuhku

membentuk pasar 1000 tahun

yang meluap hingga Mataram,

aku perhatikan, ooooooseorang Umarmaya di dalamnya

di tengah pasar oooooooooooodi tengah jalan

mata memandang agak ke bawah

bermuka masam ooooooooo tubuhnya kurus

berdiri dengan tangan bersidekap

aku tak berkedip memandangnya

dari tangannya kupu-kupu bersarang

kupu-kupu dengan sayap yang sobek

tergelincir oleh bunga yang dimakan ulat

dalam pemandangan yang malam, oo24 jam

di taman rengganis, o taman barong, otaman raksasa

tinggal Umarmaya seorang diri, odalam diriku

bagaimana membedakan dengan sebatang pohon

bila sulit menduga umurnya dan

apa bedanya dengan pulau lampau, okelam silam

seusia puisi, omenjadi epitaf nisan, ootempat namaku

dilupakan, ooooooooonama penyairku

Esha Tegar Putra

Selepas Bertemu

kau lepas lembah arau kau lepas lembah anai

ingatanmu gumpal di lekuk tebing di landai pantai

*

kami lepas lambai kau ingatlah panjang jalan

sajak harum bakal orang mencium titip di tiap kelokan

dan bunyi saluang dan tuah dendang bawalah

agar kau ingat pada ranah tempat raja pernah bertitah

*

di bukit jirek nan penuh jejak sepatu orang-orang bersenapan

kau ceritakan muasal sakit nasi kapau dalam tiap suapan

kami lepas lambai kau ingatlah panjang jalan

tentang tuan yang merebus daun kopi agar dibiarkan

dan bunyi ketipak terompak kuda penarik bendi

suatu kali bakal jadi gaungan lindap dalam setiap diri

*

agar kau nikmat agar kita bersua di lain masa

simpan dulu pandangan lama lepas dulu kedipan mata

isyarat pecah bulan dan terserak di batang kuranji

kulantunkan itu dendang agar kau tak memutus tali

kami lepas lambai kau ingatlah panjang jalan

dari penyeberangan bakal tersiar kabar persuaan

dan melupa dulu melupalah dulu tiap kelokan yang diingat

biar mengurung itu rindu lalu jadi buncah yang teramat

Kandangpadati, 2008

Esha Tegar Putra

Pemetik Pinang

di pekan jumat, sebelum merapi berkepundan dan pertemuan

kita jadi malu muka yang teramat sangat. gelanggang begitu riuh

penuh sorak-sorai, bunyi keok ayam dan ketipak gendang

membikin buncah orang-orang berpesta. “aku mencium wangi

getah gaharu yang melekat di selendang panjang dan dadaku mulai

memendam ramainya permainan gaib. gaib yang melebihi

mabuk-gilanya ramai gelanggang”

begitulah aku yang mengagungkan pertemuan. sebab setampuk

pinang kulihat telah berbungkus kain merah (disulam benang emas)

dan kau jinjing hilir-mudik sepanjang lebuh kampung.

lalu segerombolan perempuan pesolek menjunjung bakul rajut pandan

mengekorimu. aku menatap bibir yang digincu, kening yang

ditepukkan minyak pemanis, jemari kaki dan tangan yang tiba-tiba

kukunya dilentikkan inai. duh, malangku sudah tiba pula kiranya,

melesat begitu saja ke sekujur badan

“malang bersandar di kayu lapuk,

malang bergelantungan di dahan lunak,

batang pinang yang kupanjat bergabuk.”

gumam tertahan akhirnya terpekikkan juga. gerombolan perempuan

pesolek mendengar pekik runcing nan menusuk. kiranya kenapa

mereka kian bergairah mengekorimu? bukanlah aku si pemetik

pinang yang kau jinjing itu! adat terasa masam kujilat, tuah

menggelejang kudendangkan. ketipak gendang di pekan jumat

menabuh sebatang tubuhku. “kan kuisyaratkan bulan

rebah di puncak rumah lewat bunyi pecahan piring,” ucapanmu

membikin temali berbuhul. temali bakal pengebat badanku.

adakah kedipan matamu akan berisyarat, bahwasanya kain merah

pembungkus setampuk pinang akan dihanyutkan ke batang air?

atau berikan aku pekan-pekan yang lain. agar jumpa jadi hal biasa

badan yang kian bertabuhan malang akan kularikan ke lain waktu

di mana bakal bertemu kayu kuat tempat bersandar, dahan tempat

bergayut bergelantungan. juga batang pinang dengan tampuk yang

memendam basah. agar kiranya aku tak gamang memetik nantinya

Kandangpadati, 2008

Esha Tegar Putra lahir di Solok, Sumatera Barat, 29 April 1985. Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas. Bergiat di Komunitas Daun, Rumahteduh, dan Ranahteater Padang.

Sindu Putra lahir di Bali, 31 Juli 1968. Buku puisinya antara lain Kemah Malam Burung Malam (2000) dan Biografi Burung (2005). Tinggal di Mataram, Nusa Tenggara Barat.

A A A
BERITA TERPOPULER

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort