
![]() |
Rencana Mengudeta Presiden Arroyo Digagalkan
Otoritas Filipina berhasil menggagalkan rencana kudeta baru terhadap Presiden Gloria Macapagal-Arroyo. Kepala Kepolisian Nasional Filipina Avelino Razon, Kamis (3/7), mengatakan, otoritas menahan seorang pengacara kubu oposisi, tiga pensiunan kolonel, dan seorang mantan polisi terkait upaya kudeta tersebut. Komplotan itu memeras seorang pengusaha asal Jepang hingga 10 juta dollar AS untuk membiayai kegiatan menggulingkan Arroyo. ”Kami memiliki cukup dasar untuk mendakwa mereka merencanakan kudeta,” ujar Razon. Polisi tengah mengembangkan penyelidikan untuk menentukan seberapa besar rencana kudeta baru itu dan menemukan siapa saja yang mungkin terlibat. Jaksa senior Emmanuel Velasco mengatakan, pihaknya memiliki waktu hingga 60 hari untuk memutuskan apakah ada cukup dasar untuk mengajukan kasus itu ke pengadilan. ”Pengacara dan tiga pensiunan tentara juga menghadapi tuduhan menyembunyikan pelarian dan mengganggu proses peradilan,” kata Velasco. Sementara mantan polisi juga dituduh menggunakan identitas palsu. Kelima orang itu tengah makan siang di sebuah restoran di Manila, Rabu, saat polisi mengepung dan menangkap mereka. ”Itu adalah operasi jebakan setelah kelompok tersebut meminta seorang pengusaha Jepang menyediakan dana untuk melakukan upaya penggulingan presiden,” kata Razon. Ketiga pensiunan kolonel itu terkait dengan beberapa upaya kudeta sejak tahun 1989.
55 Sekolah di Thailand Selatan Ditutup
Pemerintah Thailand, Kamis (3/7), menutup 55 sekolah negeri di Distrik Raman, Provinsi Yala, Thailand selatan, menyusul penembakan seorang kepala sekolah dan serangan atas institusi pendidikan oleh kelompok bersenjata. Semua sekolah ditutup hingga batas waktu yang tidak ditentukan. ”Ada 55 sekolah di Distrik Raman, sebagian besar SD dan satu SMP. Sekolah-sekolah ditutup karena para guru takut akan keselamatan mereka setelah pembunuhan kemarin,” kata seorang pejabat bidang pendidikan setempat. Kepala SD Weera Mueanchan tewas ditembak seusai jam sekolah, Rabu, menambah daftar serangan terhadap target-target yang terkait institusi pendidikan. Selain kepala sekolah, seorang sopir bus sekolah dan orangtua yang mengantar anaknya ke sekolah juga menjadi sasaran serangan kelompok bersenjata. Serikat guru merencanakan pertemuan untuk membahas bagaimana meningkatkan keamanan, tetapi waktunya belum ditetapkan. Sekolah dan guru kerap menjadi target serangan karena kelompok bersenjata memandang sistem pendidikan sebagai upaya Bangkok untuk menerapkan budaya Buddha di kawasan yang mayoritas Muslim tersebut. Lebih dari 3.300 orang tewas sejak kerusuhan separatisme pecah pada Januari 2004 di Thailand selatan. (afp/reuters/fro)