
![]() |
jerusalem, kamis - Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, Richard Jones, Kamis (3/7), mengaku tidak yakin AS dan Israel akan benar-benar menyerang lokasi pengembangan nuklir Iran. Untuk saat ini, penggunaan kekerasan dan kekuatan militer bukan pilihan yang tepat, apalagi mengingat kini tengah ada perundingan.
AS dan Israel juga sama-sama sepakat untuk memanfaatkan kekuatan militer sebagai pilihan paling akhir. ”Saya tidak yakin dua sekutu itu akan menyerang Iran,” demikian situs berita internet Israel, Ynet, mengutip kata-kata Jones.
Menteri Luar Negeri Iran Manouchehr Mottaki juga tidak yakin AS dan Israel bisa mengambil risiko menyerang Iran karena hal tersebut diyakini akan memicu konflik yang lebih luas, bahkan dapat terjadi perang Timur Tengah. Selain itu, harga minyak dunia juga akan langsung melejit apabila ada konflik di Timteng.
”Perekonomian AS sedang lemah. AS juga sudah lelah karena terlalu lama ada di Afganistan dan Irak. Israel saat ini juga sedang sibuk dengan politik dalam negeri. Jadi, saya kira keduanya tidak akan menyerang Iran,” kata Mottaki ketika diwawancarai kantor berita The Associated Press.
Meski demikian, Mottaki yakin ada beberapa pejabat di AS yang sangat ingin menyerang Iran. Namun, keinginan itu kemungkinan besar akan dicegah oleh pihak-pihak yang masih bisa berpikir rasional dan tidak mau mengambil risiko membuat rakyat AS makin menderita dengan persoalan baru dan lebih rumit.
Selama ini berkembang kekhawatiran bahwa konflik antara Barat dan Iran tentang isu nuklir ini akan semakin sengit hingga menjadi konflik kekerasan, apalagi jika Israel berusaha menyerang lokasi pengembangan nuklir milik Iran di Natanz. Namun, Presiden AS George W Bush menegaskan, serangan militer tidak akan menjadi pilihan yang pertama dalam menyelesaikan isu nuklir Iran.
Hambat minyak
Meski Iran menggunakan jalur diplomatis dalam membahas isu nuklirnya dengan negara Barat, Mottaki tidak menutup kemungkinan Iran akan menghambat jalur minyak di Selat Hormuz jika Iran benar-benar diserang AS dan Israel. ”Kami harus membela dan mempertahankan keamanan nasional, bangsa, dan sistem revolusioner kami,” ujarnya.
Penerima Nobel Perdamaian pada tahun 2003, Shirin Ebadi, mengingatkan negara-negara Barat untuk tidak menyerang Iran ataupun memberlakukan sanksi ekonomi terkait program nuklirnya. ”Mereka hanya akan menyebarkan penderitaan dan kesengsaraan di Iran. Kami akan berusaha semaksimal mungkin mencegah bencana itu,” ujarnya.
Penasihat kebijakan luar negeri Ayatullah Ali Khamenei, Ali Akbar Velayati, menegaskan, Iran akan bersedia berunding dengan Barat. Namun, belum tentu akan menerima bantuan teknologi dari negara-negara Barat sebagai imbalan penghentian pengembangan nuklir Iran. ”Kami belum tentu terima bantuan itu,” ujarnya. (REUTERS/AFP/AP/LUK)