
![]() |
Jakarta, Kompas - Dalam survei Pusat Penelitian Pelatihan Jurnalisme Kamal Adham di Universitas Amerika, Cairo, pada tahun ini ditemukan, mayoritas jurnalis Arab menganggap dirinya agen perubahan politik. Dari 600 jurnalis atau wartawan yang telah diwawancarai di 13 negara di Arab, sekitar 75 persen responden menilai tugas media di Arab adalah mendorong reformasi politik. Sekitar 95 persen responden juga menilai masyarakat Arab harus segera berubah.
”Ini perubahan besar dari media Arab yang sebelumnya menganggap dirinya hanya corong dari pemerintah. Sekarang mulai berkembang penilaian mereka menjadi agen perubahan politik,” kata Direktur Pusat Penelitian dan Pelatihan Jurnalisme Kamal Adham Universitas Amerika, Cairo, Lawrence Pintak, saat diskusi di Program Pascasarjana Kajian Wilayah Amerika, Universitas Indonesia, Salemba, Kamis (3/7) sore.
Selain reformasi politik, media Arab juga menilai persoalan yang paling penting di Arab adalah hak asasi manusia. Adapun isu Palestina justru ada di urutan paling akhir. Meski dalam survei media Arab menilai dirinya sebagai agen perubahan, Pintak menilai media Arab kenyataannya belum mengubah politik. Buktinya, meski sudah ada stasiun TV Al-Jazeera di Arab selama paling tidak 10 tahun tetap saja belum ada perubahan politik atau pemerintahan Arab.
Ubah kebijakan
Meski belum ada perubahan di politik, lanjut Pintak, media Arab sudah membuat perubahan, terutama dalam memengaruhi pembuatan dan pelaksanaan kebijakan pemerintahan Arab. Perubahan dimulai ketika Al-Jazeera mulai hadir di Arab. Untuk pertama kalinya cara pandang rakyat Arab dalam melihat dunia berubah. Sikap pemerintah juga berubah dengan bereaksi lebih cepat dalam menanggapi suatu masalah yang muncul di media Arab. (LUK)