
![]() |
Penanggung jawab KIJP Pakuwon, Dibyo Pranowo, boleh berbangga karena tungku pemanas berbasis bungkil jaraknya menjawab kesulitan dapur sebuah pondok pesantren yang bersiap untuk sebuah hajatan. Tungku itu berbahan beton yang dibuat menyerupai tabung.
Pada bagian atas, bungkil- bungkil jarak pagar kering disusun untuk dibakar. Selain tungku, Balittri bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) juga mengembangkan aneka kompor hingga reaktor biogas berbasis jarak pagar yang aplikatif.
Hitungan mereka, 1 liter minyak jarak murni berkadar air tertentu menghasilkan api 12 jam nonstop, 1 kg bungkil kering menghasilkan 4 jam energi panas, dan 1 kg biji kering menghasilkan 3-4 jam energi panas.
Karena biogas pula, keperluan memasak puluhan pegawai KIJP Pakuwon tak perlu lagi menggunakan gas atau minyak tanah. Jelas menghemat.
Balai penelitian itu juga menghasilkan minyak jarak campuran solar hingga 40 persen (B-40). Umumnya, yang dikembangkan hanya B-10 atau B-20.
Kini, mereka tengah menjalin kerja sama dengan beberapa pondok pesantren sekitarnya. ”Mereka cukup menanami lahan kosong dengan jarak pagar sebagai sumber energi mandiri,” kata Dibyo.
Dari pengalaman itu, kemandirian energi di tingkat masyarakat, tak terkecuali di daerah miskin, tidak subur, dan terpencil, seperti pulau-pulau terpencil, bukan mustahil. Hingga kini, KIJP Pakuwon telah dikunjungi puluhan ribu orang dari dalam dan luar negeri.
Tak sedikit pemerintah daerah yang ingin mengadopsi teknologi mandiri itu. Mulai dari daerah-daerah di Jawa hingga Papua. ”Semoga ini tak hanya menjadi proyek-proyek semata seperti biasa,” kata Dibyo. (GSA/AIK)