
![]() |
|
|
KOMPAS/ELOK DYAH MESSWATI / Kompas Images
Ari, Cindi, dan Yani melakukan simulasi penyuluhan HIV/AIDS di depan sesama peer educator HIV/AIDS dalam Jambore Akbar Sahabat Sumber Informasi di Bumi Perkemahan Eagle Hill, Cilember, Megamendung, Puncak, Kabupaten Bogor, 1-3 Juli 2008. |
Di depan tenda-tenda biru, Cindi, Ari, dan Yani dengan lantang melemparkan beberapa pertanyaan kepada 30-an kawan-kawan sebayanya. Mereka bertanya: AIDS disebabkan oleh virus—benar atau salah? HIV menular melalui bersalaman atau bersentuhan—benar atau salah?
Begitulah. Satu demi satu murid-murid usia 13-17 tahun itu silih berganti menjawab pertanyaan Cindi, Ari, dan Yani. Latihan memberi penyuluhan itu merupakan bagian dari Jambore Akbar Sahabat Sumber Informasi di Bumi Perkemahan Eagle Hill, Cilember, Megamendung, Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, 1-3 Juli 2008.
Kegiatan tiga hari ini dilaksanakan oleh World Vision, bekerja sama dengan mitra lokalnya, Wahana Visi Indonesia. Para peserta Jambore, sekitar 160 siswa, merupakan pendidik sebaya (peer educator) HIV/AIDS yang memberi penyuluhan kepada rekan-rekan sebaya, baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan mereka tinggal.
Jambore ini merupakan reuni akbar pertama sejak mereka mengikuti pelatihan penyuluhan HIV/AIDS pada Februari dan Maret 2007. Selama setahun lebih, mereka telah melakukan penyuluhan di kelas-kelas di sekolahnya atau sekolah lain, juga di RW-RW di kelurahan dan kecamatan di lingkungannya.
Belasan ribu
Hampir 18.000 warga Indonesia terjangkit HIV/AIDS. Sebagian besar di antaranya berusia remaja. Karena itu, upaya melibatkan remaja untuk memberikan pemahaman bahaya narkoba dan HIV/AIDS kepada rekan sebayanya adalah terobosan.
Asep Suryana (15) dari SMP 150 Jakarta Timur memberi penyuluhan di depan kelas ketika masa orientasi siswa baru. ”Saya masuk dari kelas ke kelas, juga ke sekolah lain,” kata Asep.
Mira Harkatiningsih (14), siswa SMP Negeri 263 Jakarta Timur, justru selalu diminta mengisi kelas yang ”kosong”, yang gurunya berhalangan hadir. Dia mengisi jam ”kosong” itu.
Cindi Widia Lestari (13) dari SMP 49 Cimanggis terbilang sangat tegas dan berani menyuluh teman sebaya. ”Rokok itu pintu gerbang pemakaian narkoba. Kalau sudah mencandu narkoba, bisa terkena HIV/AIDS karena jarum suntik narkoba,” katanya.
Yang unik adalah pengalaman Titta (16), siswa SMAK Wonokromo Surabaya. Dia pun memberi penyuluhan kepada teman- teman di RW-nya di Kelurahan Banyuurip. Ia juga memberi penyuluhan ke RW lain.
”Agak susah mengumpulkan teman-teman. Kami dianggap sok pintar. Kalau sudah begitu, kami harus sabar, tapi lama-lama mereka sadar, informasi itu penting,” katanya. Apa pun hambatannya, kekuatan mereka adalah bahasa yang sama dengan peer group-nya. (LOK)