
![]() |
Jakarta, Kompas - Masih terjadi kerancuan dalam pemberian insentif bagi industri. Pemerintah hanya menekankan pemberian insentif pajak bagi industri yang melakukan investasi pembangunan pabrik baru. Industri yang berhasil menciptakan teknologi terbaru dalam penghematan energi semestinya juga diberikan insentif.
Direktur Pemasaran PT Toyota-Astra Motor (TAM) Joko Trisanyoto mengungkapkan kebijakan pemerintah itu, Kamis (3/7) di Jakarta, dalam temu media persiapan penyelenggaraan Indonesia International Motor Show (IIMS).
Menurut Joko, pemerintah tampaknya belum mau memberikan insentif pengembangan teknologi yang sesungguhnya dapat memecahkan masalah pemborosan bahan bakar minyak (BBM). Selama ini insentif yang disediakan pemerintah adalah industri yang melakukan investasi pembangunan pabrik baru. Padahal, industri otomotif juga menghendaki insentif bagi produk hemat energi.
Hal itu terkait dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 1 Tahun 2007 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan untuk Penanaman Modal di Bidang Tertentu dan Daerah Tertentu.
Joko menjelaskan, pemerintah tentu menargetkan penggunaan BBM menurun. Apabila pemakaian atau konsumsi BBM menurun karena adanya penggunaan kendaraan yang hemat bahan bakar, penghematan subsidi pasti akan terjadi.
”Konsumsi BBM yang biasanya satu liter berbanding jarak tempuh 10 kilometer, penggunaan kendaraan jenis hybrid bisa mencapai satu banding 25 kilometer. Tentu ini penghematan energinya sangat luar biasa,” ujar Joko.
Inovasi
Joko mengatakan, masyarakat tak akan terdorong menggunakan kendaraan hybrid seperti yang sekarang diproduksi Toyota jika harga kendaraan ini mahal. Maka, pemerintah perlu didorong untuk memberikan insentif sebagai penghargaan terhadap inovasi teknologi yang hemat BBM.
Direktur Jenderal Industri Alat Transportasi dan Telematika Departemen Perindustrian Budi Darmadi menegaskan, ”Kebijakan insentif tidak diberikan berdasarkan produk impor. Insentif diberikan bagi investasi baru dalam pembangunan industri maupun perluasan industri.”
Untuk otomotif, Budi mengatakan, setiap ganti model baru, biasanya setiap 7-8 tahun, industri melakukan investasi baru. Inilah insentif yang diberikan pemerintah. Saat ini Depperin sedang merumuskan persyaratan insentif mobil ekonomis dari sisi emisi, penghematan BBM, bahan baku, dan proses manufaktur. Persyaratan diberlakukan salah satu atau keseluruhannya. (OSA)