Senin, 8 September 2008
Pasar Modal
IHSG Turun Tajam, Terburuk di Asia
Jumat, 4 Juli 2008 | 00:58 WIB

Jakarta, Kompas - Indeks Harga Saham Gabungan pada penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Kamis (3/7), ditutup pada level 2.286,61. Itu berarti terpuruk hingga 91,863 poin atau turun 3,86 persen dibandingkan dengan perdagangan pada Rabu (2/7) yang berada di level 2.237,47. Penurunan ini adalah yang terburuk di antara indeks bursa regional yang juga terkoreksi tajam.

Besarnya penurunan IHSG itu mengejutkan dan di luar perkiraan para pelaku pasar modal sebab kemarin tidak ada peristiwa nasional atau global yang signifikan yang dapat memengaruhi indeks. Pemerintah juga tidak mengeluarkan kebijakan apa pun yang dapat berpengaruh signifikan.

Kepala Riset Mega Capital Felix Sindhunata mengatakan, peristiwa yang paling ditunggu pasar pada perdagangan kemarin adalah pengumuman dari Bank Indonesia tentang kenaikan suku bunga BI dari 8,5 persen menjadi 8,75 persen. Namun, kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin itu telah diperkirakan pasar sehingga tidak terlalu memengaruhi perdagangan.

Adapun kenaikan harga minyak dunia yang menembus 145 dollar AS per barrel, menurut Felix, seharusnya memberikan dampak positif terhadap beberapa sektor saham di BEI, seperti pertambangan. Namun, dari 10 sektor saham di BEI, seluruhnya mengalami penurunan.

Saham sektor pertambangan terkoreksi paling besar, yaitu 302 poin atau 8,77 persen, dari 3.444,95 pada Rabu (2/7) menjadi 3.142,907 pada Kamis (3/7). Sejak sesi pertama perdagangan, telah terjadi tekanan jual atas saham-saham perusahaan pertambangan batu bara.

Aksi itu, kata Felix, dipicu oleh informasi yang menyebutkan bahwa permintaan batu bara di Asia akan menurun. Hal ini diperkuat dengan turunnya harga batu bara di Newcastle, Australia, dari 198 dollar AS per ton pada hari lalu menjadi 185 dollar AS per ton pada Kamis pagi.

”Kemarin, bursa Australia yang sebagian besar saham-saham blue chip-nya dari sektor pertambangan terkoreksi sekitar 1,9 persen,” tutur Felix.

Di BEI, saham perusahaan pertambangan batu bara yang turun cukup tajam, antara lain, adalah Bumi Resources turun Rp 1.150 menjadi Rp 7.150, Indo Tambangraya Megah turun Rp 2.800 menjadi Rp 31.700, dan Tambang Batubara Bukit Asam turun Rp 1.200 menjadi Rp 15.250.

Menurut pengamat pasar modal, Adler Manurung, anjloknya IHSG pada Kamis (3/7) antara lain karena terimbas kondisi ekonomi global, khususnya AS, yang diperkirakan masih akan menghadapi krisis berkepanjangan. Analisa sejumlah ekonom dunia menyatakan, beberapa bank di AS akan bangkrut akibat krisis kredit perumahan (subprime morgage).

Faktor penyebab lainnya adalah investor mulai mengubah portofolio investasinya, yakni mengalihkan sebagian dananya dari pasar modal ke deposito dan obligasi. Hal ini dampak dari naiknya suku bunga SBI. ”Ada investasi yang pindah dari pasar modal ke fixed income (pendapatan tetap),” kata Adler.

Adapun bursa di Asia yang juga terkoreksi, antara lain, Indeks Nikkei-225 di Jepang turun 0,16 persen, Indeks Hang Seng di Hongkong turun 2,13 persen, Indeks Straits Times di Singapura turun 0,89 persen, dan Indeks SET di Thailand turun 2,35 persen. (REI)

A A A
BERITA TERPOPULER

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort