Jumat, 29 Agustus 2008
wisata
Festival Bunga di Tomohon
KOMPAS/JEAN RIZAL LAYUCK / Kompas Images
Jumat, 4 Juli 2008 | 03:00 WIB

Jean Rizal Layoek

Aster boleh jadi bunga favorit pecinta bunga Tomohon, tetapi gladiol banyak dicari orang. Gladiol memiliki spesifikasi warna-warni sebagai bunga hiasan di gedung pesta atau di rumah dengan ukuran lebih besar.

Kota Tomohon, Sulawesi Utara, tidak hanya mempertontonkan aster dan gladiol dalam Festival Bunga Tomohon (Tournament of Flower) yang digelar selama sepekan, Minggu (29/6). Inilah ajang bunga terbesar di Tanah Air yang diikuti 47 kota di Indonesia.

Aster menjadi bunga favorit petani karena sebanyak 1,36 juta potong aster dihasilkan oleh petani setempat pada tahun 2005. Sementara itu, produksi bunga gladiol sebanyak 2,4 juta potong pada tahun yang sama.

Akan tetapi, keanekaragaman bunga Tomohon tidak terbatas pada aster dan gladiol. Masih banyak kuncup bunga yang menarik, antara lain anggrek, anthurium, anyelir, krisan, mawar, kreklely, amarilys, dan sosida. Bunga kreklely malah banyak diburu orang sebagai bunga pengantin.

Bunga menjadi land mark kota yang berada di 400-2.000 meter di atas permukaan laut ini. Di mana-mana, jika pergi ke Tomohon, kita dengan mudah melihat bunga di sepanjang jalan, terutama di wilayah Kakaskasen. Bunga menjadi sumber hidup, boleh jadi salah satu sumber ”ketahanan pangan” masyarakat Tomohon di tengah gejolak ekonomi bangsa.

El Paat, petani bunga di Kakaskasen, mengatakan, harga bunga melonjak di kalangan petani. Jika sebelumnya bunga krisan dihargai Rp 50 per potong, kini menjadi Rp 500. Malah menjelang Tournament of Flower harga Krisan mencapai Rp 2.000 per kuncup.

El Paat sendiri memiliki kebun bunga hampir 1 hektar dengan aneka bunga yang kini siap panen. ”Kami menanam macam-macam bunga,” ujarnya.

Wali Kota Tomohon Jefferson ”Epe” Rumajar mengatakan, bunga telah memberi dampak ekonomi cukup signifikan bagi warganya. Sejak dia mencanangkan Tomohon sebagai Kota Bunga pada tahun 2005 telah muncul rasa suka petani terhadap bunga. Tak heran jika bunga yang dulu nyaris dilupakan dan dibuang orang kini menjadi favorit di kalangan masyarakat Sulawesi Utara, khususnya Tomohon.

Rumajar mencatat, sekitar 5.000 petani serius berbisnis bunga. Sementara itu, data yang diperoleh, luas tanam komoditas tanaman hias di Kota Tomohon mencapai 86,28 hektar, luas panen 65 hektar. Adapun produksi tanaman hias pada tahun 2006 sebanyak 6.889.843 tangkai.

Kota Tomohon kini identik dengan bunga. Festival bunga digelar selama seminggu, menghebohkan karena menyaingi Festival Bunga Pasadena. Setidaknya 10 juta kuncup bunga akan menghiasi mobil-mobil dari berbagai daerah di Indonesia dalam parade bunga sepanjang 10 kilometer.

Seorang misionaris, N Graafland, yang menginjakkan kaki di Tomohon, 14 Januari 1864, melukiskan Tomohon sebuah desa perlintasan yang dipenuhi roda pedati dengan tunggangan kuda berjalan cepat-cepat.

Tomohon mulai menjadi sebuah kota pada tahun 2003, dengan jumlah penduduk 90.000 jiwa. Sebanyak 70 persen penduduknya adalah petani, didominasi petani bunga. Tomohon tumbuh sebagai kota desa yang makmur dengan sejumlah keunggulan komparatif.

Kota yang diapit dua Gunung Api Lokon dan Mahawu ini memiliki sumber daya alam panas bumi yang kini diubah sebagai sumber listrik di Sulawesi Utara dengan kekuatan 50 megawatt. Luas wilayah Kota Tomohon adalah 147,2178 kilometer persegi atau 14.721,78 hektar.

Berkontur pegunungan dan berhawa sejuk, Tomohon menjadi tempat yang pas untuk bercocok tanam. Bukan saja tanaman hortikultura, melainkan juga bunga-bunga hias alias florikultura. Memanfaatkan bekal kesuburan tanah yang diberikan alam, Pemerintah Kota Tomohon mencanangkan proyek jangka panjang yang bertujuan menjadikan kota di Sulawesi Utara ini sebagai Kota Bunga.

Beberapa pengamat bunga di Manado mengatakan, iklim dan struktur tanah Kota Tomohon sangat sesuai untuk pengembangan berbagai potensi pertanian.

Sesungguhnya, Tomohon dikenal sebgai salah satu penghasil sayuran (hortikultura) dengan wilayah pemasaran Indonesia bagian timur.

Namun, salah satu potensi pertanian yang dikembangkan oleh penduduk Kota Tomohon sejak dahulu adalah budidaya tanaman hias (floriculture). Berdasarkan hasil penelitian dari Balitbang Pengembangan Tanaman Hias Direktorat Tanaman Hias Departemen Pertanian RI, Kota Tomohon terletak pada garis Wallace yang menyebabkan beberapa jenis tanaman hias yang spesifik di Indonesia tumbuh di Kota Tomohon.

Budidaya tanaman hias dalam hubungan dengan perekonomian memiliki backward linkage dan forward linkage dengan kegiatan lainnya. Selain itu, kegiatan di bidang pertanian, khususnya budidaya tanaman hias, memiliki keunggulan berbanding (comparative advantage) dengan kegiatan lainnya.

Budidaya tanaman hias adalah kegiatan yang memiliki keterkaitan lintas sektor yang mampu membangkitkan multiplier effect yang sangat signifikan bagi tumbuhnya mata rantai usaha, terutama usaha kecil menengah sehingga membantu penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat.

Oleh karena itu, bunga Tomohon kini menjadi eye catching dan pantas disaksikan dan dibeli.

A A A
BERITA TERPOPULER

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort