Jumat, 29 Agustus 2008
Kain tradisional
Berharap Kain Batik Tidak Sekadar Menjadi Tren
Jumat, 4 Juli 2008 | 03:00 WIB

Sekarang saya tidak pernah diejek lagi karena pakai batik. Dahulu, setiap saya pakai batik ke kantor, teman-teman selalu berkomentar, kayak orang tua saja pakai batik. Padahal, di Semarang kan biasa ya. Eh, kini teman-teman saya pun mulai pakai batik. Sekarang batik jadi tren di Jakarta,” kata Arianti, yang usianya belum 30 tahun, beberapa waktu lalu. Setahun lalu ia hijrah dari Semarang, Jawa Tengah, ke Jakarta.

Masyarakat sedang demam batik. Kain tradisional yang semula hanya dikenakan saat acara resmi itu kini dipakai dalam berbagai acara resmi ataupun santai, ke kantor dan jalan-jalan. Pemakainya pun berbagai kalangan, dari tua hingga anak-anak, pejabat hingga masyarakat kebanyakan.

Berbatik ria.

Sejumlah presenter di stasiun televisi swasta pun mulai berbatik ketika tampil siaran. Sejumlah tokoh masyarakat dan artis pun tak segan mengenakan batik ketika tampil di televisi.

Di sejumlah daerah di Jawa, tren pemakaian batik sudah sejak beberapa tahun lalu. Ini terutama sejak pemerintah daerah setempat mewajibkan pegawainya mengenakan pakaian batik di kantor pada hari-hari tertentu. Pemerintah Kota Pekalongan, Jateng, misalnya, sejak delapan tahun lalu mewajibkan pegawainya mengenakan batik setiap hari Sabtu.

”Sejak tiga tahun lalu, aturan itu direvisi. Memakai batik dua kali seminggu, setiap Kamis dan Jumat. Ini dimaksudkan untuk meningkatkan semangat memiliki terhadap produk batik, juga untuk menggairahkan kehidupan perajin batik di Pekalongan,” ujar Kepala Bagian Humas dan Protokoler Pemkot Pekalongan Maryati di Kota Pekalongan, Rabu (11/6).

Di Semarang Pemkot Semarang dan Pemerintah Provinsi Jateng mewajibkan pegawainya untuk mengenakan batik setiap hari Kamis.

Untuk membantu menaikkan omzet perajin batik, mulai akhir 2005 Pemerintah Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, juga mewajibkan pegawainya untuk mengenakan pakaian batik di kantor setiap Jumat dan Sabtu. Kewajiban ini juga untuk melestarikan kain tradisional batik.

Tren batik ini tentu saja menggembirakan bagi perajin dan pedagang batik. Rustiana (37), perajin dan pedagang batik di Pasar Grosir Batik Setono, Kota Pekalongan, misalnya, mengaku omzetnya meningkat sekitar 70 persen. Saat ini ia mampu menjual sekitar 5.000 potong kain batik dan ratusan potong pakaian batik per minggu.

Solo

Di Solo pesanan batik bukan hanya dari dalam negeri, melainkan dari luar negeri, termasuk Malaysia yang mengklaim sebagai pemilik batik.

Menurut pemilik usaha Batik Mahkota di Kampoeng Batik Laweyan, Alpha Febela Priyatmono, ada 4-5 pengusaha batik di Laweyan yang mengirim produknya ke berbagai negara bagian di Malaysia, termasuk dia.

Alpha mengirim batiknya ke Langkawi dan Kuala Lumpur (Malaysia) sejak empat bulan lalu. Ia tidak bersedia menyebutkan volume pengiriman. Namun, yang jelas, ia selalu menyematkan label atau merek di produk batik yang dikirim ke Malaysia. ”Kalau di sana dikeletek (dilepas), ya enggak tahu. Ada juga teman-teman yang mengirim kosongan, tanpa label,” tuturnya.

Perajin batik di Cirebon, Jawa Barat, juga kebanjiran order dari dalam negeri ataupun luar negeri. Katura, pemilik gerai Batik Katura di Kampung Wisata Batik Trusmi, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, mengaku kewalahan melayani pesanan batik tulis. Peningkatan pesanan mencapai 30 persen atau menjadi 130 lembar per hari.

Tingginya permintaan batik akhir-akhir ini, menuntut perajin, membuat lebih kreatif menyajikan variasi motif dan kualitas batik. Pasalnya, peminat batik berasal dari berbagai lapisan masyarakat yang mempunyai selera dan kemampuan ekonomi berbeda-beda.

Menurut Rustiana, saat ini jenis batik yang paling laku di pasaran adalah pakaian perempuan model balon, yang memiliki bentuk lengan melembung. Adapun jenis kain batik yang banyak diminati adalah motif kombinasi daun dan bunga berwarna cerah.

Fatkhur Rahman Noor, perajin batik di Kampung Batik Kauman, Kota Pekalongan, mengatakan, perajin harus berinovasi agar bertahan. ”Dengan menciptakan model dan motif baru, saya juga dapat menaikkan harga jual batik mengingat harga bahan baku kini naik,” kata Fatkhur, yang memproduksi 4.000-5.000 potong pakaian batik per bulan.

Mencapai puncak

Perajin dan pedagang berharap, booming batik saat ini tidak sekadar menjadi tren yang setelah mencapai puncak akan digantikan tren lain. Mereka berharap, masyarakat tetap mencintai dan mengenakan pakaian batik. Untuk itu, selain berusaha lebih kreatif, mereka juga berusaha menjaga kualitas produk.

Katura, misalnya, tetap mempertahankan membuat batik tulis yang proses pembuatannya lama meski risikonya tidak bisa memenuhi seluruh permintaan pembeli. Produksi batiknya maksimal 100 potong per hari, sedangkan permintaan bisa 130 potong per hari. ”Saya tak bisa memaksa perajin untuk memenuhi kuota permintaan,” ujar Katura, yang memiliki banyak pelanggan dari Jepang.

Cirebon

Indrawati, pemilik toko batik dan Lina’s di Jalan Kanoman Nomor 54, Kota Cirebon, juga demikian. Meski permintaan meningkat, ia konsisten menjual batik dengan standar kualitas tertentu. ”Ada yang minta batik cap saja, tentu saja kami tidak bisa menyediakan. Kami hanya memproduksi batik dengan kualitas tertentu,” ujarnya.

Menurut Indrawati, batik dengan standar kualitas tinggi banyak dicari oleh para pembeli, termasuk dari luar negeri, seperti Amerika, Jepang, dan Australia. Batik tulis dengan bahan yang berkualitas bagus akan lebih bernilai seni dan tentunya lebih nyaman dipakai.

Kebijakan pemerintah yang mengharuskan pegawainya mengenakan pakaian batik, perhatian pemerintah daerah terhadap batik dengan membuat berbagai acara bertema batik, dan mengajak tamu daerah ke kampung batik diharapkan oleh para pengusaha dan perajin juga dapat memperpanjang masa naik daun batik. ”Peran figur publik yang mengenakan batik juga mendorong tren batik,” kata Alpha. (EKI/WIE/ENY/NIT)

A A A
BERITA TERPOPULER

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort