
![]() |
Oleh Mawar Kusuma
Yogyakarta, Kompas - Biaya masih menjadi kendala utama bagi lulusan sekolah lanjutan tingkat atas untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Mahalnya uang kuliah sebenarnya bisa disiasati dengan menjadikan Universitas Terbuka sebagai salah satu alternatif kuliah.
Kualitas Universitas Terbuka dipastikan sama dengan perguruan tinggi negeri lainnya, perbedaan hanya terletak pada cara belajar. Hingga kini, hanya sebanyak lima persen mahasiswa Universitas Terbuka merupakan lulusan baru dari SLTA (fresh graduate). Universitas Terbuka sejajar dengan perguruan tinggi negeri (PTN), jarak jauh itu hanya cara belajarnya.
Kualitas sama karena bahan ajar dibuat oleh dosen dari PTN, tutur Kepala Universitas Terbuka Yogyakarta Adi Suryanto, Kamis (3/7). Ijazah dari Universitas Terbuka sudah diakui dan bisa digunakan untuk mencari pekerjaan. Rendahnya minat siswa fresh graduate, lanjut Adi, lebih karena mereka belum terbiasa belajar secara mandiri.
Dunia pembelajaran di Indonesia masih didominasi oleh budaya tatap muka. Para lulusan SLTA juga masih remaja sehingga cenderung ingin banyak bersosialisasi secara intensif dengan rekan sebaya. Sembari bekerja Selain menawarkan biaya murah, pendidikan di universitas terbuka bisa dilakukan sembari bekerja.
Mahasiswa baru universitas terbuka dikenai biaya registrasi Rp 75.000, biaya administrasi Rp 60.000, dan biaya pendidikan Rp 20.000 per SKS. Jumlah peminat untuk program pendidikan dasar, misalnya, terus meningkat dari 3.750 mahasiswa pada semester satu tahun 2007 menjadi 6.521 orang pada semester yang sama tahun 2008.
Tingginya biaya kuliah pula yang mendorong 55 orang lulusan SLTA dari Kebumen, Jawa Tengah, untuk tidak melanjutkan pendidikan ke tingkat lebih tinggi. Mereka memilih bekerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW) ke Malaysia melalui sebuah perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia di Yogyakarta.
Tidak ada biaya buat kuliah, lebih baik cari kerja ke Malaysia, tutur Fitrianingsih yang baru saja lulus dari sebuah sekolah menengah atas di Kebumen dan nantinya akan mendapat gaji Rp 3 juta per bulan. Orangtua seorang calon TKW Solihin mengaku tidak berharap salah seorang dari tujuh anaknya bisa meneruskan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.
Meski belum pernah menyurvei biaya kuliah, dia sudah menebak bahwa dana yang dibutuhkan tidak akan terjangkau oleh seorang petani seperti dirinya. Saya tidak khawatir melepas anak ke Malaysia. Kakak-kakaknya yang merantau ke Jakarta juga baik-baik saja, ucap Solihin.