
![]() |
Oleh Eny Prihtiyani
Bantul, Kompas - Sejumlah wisatawan yang berkunjung ke Pantai Parangtritis secara sengaja menolak membayar retribusi. Kendati mereka biasanya anak- anak muda, setidaknya hal itu menandakan sistem pengenaan retribusi wisatawan yang berkunjung ke destinasi wisata dengan status ruang publik seperti pantai patut ditinjau ulang.
Selama musim liburan sekolah, Pantai Parangtritis dipadati wisatawan lokal, terutama anak-anak sekolah. Bila hari-hari biasa kunjungan wisatawan berkisar 3.000 orang per hari, kini melonjak hingga 5.000 orang per hari. Pada akhir pekan bahkan naik sampai 15.000 orang.
Menurut Sumarno, pemungut retribusi di Parangtritis, Kamis (3/7), lonjakan pengunjung mulai terasa pada pertengahan Juni. Selama Juni, total pengunjung mencapai 135.530 orang, lebih banyak dibandingkan Mei, 109.237 orang. Juli ini lonjakan pengunjung kemungkinan masih terjadi.
"Itu belum termasuk mereka yang tidak mau membayar retribusi. Dalam sehari, ada puluhan pengunjung yang tidak mau bayar dan biasanya anak-anak muda. Dari kejauhan, mereka sudah pasang kecepatan tinggi sehingga kami sulit menghentikan," katanya.
Selama liburan ini, ujar Sumarno, terjadi peningkatan armada bus yang masuk ke Parangtritis. Bila Mei tercatat 935 bus pariwisata yang masuk, Juni naik menjadi 1.448 armada bus. Kenaikan juga terjadi pada mobil-mobil pribadi.
Mahal
Besar retribusi Rp 1.750 per orang. Pengunjung berkendara motor ada tambahan Rp 300, mobil Rp 500, bus Rp 1.500. Sebagian pengunjung mengeluhkan tarif retribusi terlalu mahal. Apalagi, mereka masih harus membayar biaya penitipan kendaraan. Mobil biayanya Rp 10.000 dan motor Rp 3.000.
"Kami juga masih harus membayar uang kamar mandi bila ingin ganti baju sebesar Rp 2.000 per orang. Kalau dihitung total, biaya wisata ke Parangtritis tergolong mahal," kata Erwan, pengunjung yang datang bersama keluarganya.
Selain mengeluh soal mahalnya biaya, pengunjung mengeluhkan kebersihan sekitar pantai. Apalagi, setelah penataan kawasan Mancingan untuk tahap I dan II usai, masih menyisakan puing-puing bangunan yang belum dibersihkan. Sampah-sampah juga terlihat berserakan di sekitar pantai.
Parangtritis menjadi obyek wisata andalan Bantul dengan kontribusi pendapatan asli daerah sekitar Rp 1,6 miliar per tahun. Pada saat masa kejayaannya, jumlah pengunjung pernah mencapai 2 juta orang selama setahun. Jumlah itu menurun ke angka 1,5 juta orang per tahun setelah banyak citra negatif yang disandang seperti mahal dan kotor.
Bupati Bantul Idham Samawi, saat meninjau penataan kawasan Mancingan, berjanji terus membenahi kawasan Parangtritis. Kompleks wisata ini akan ditata mulai dari Pantai Parang Endok sampai Pandansimo. "Sepanjang pantai itu akan menjadi satu kawasan, yakni Parangtritis. Untuk menarik animo pengunjung, setiap Sabtu-Minggu diselenggarakan event khusus di Parangtritis," tuturnya.