Jumat, 29 Agustus 2008
86 Tahun Taman Siswa
Tantangan di Masa Depan Makin Berat
Jumat, 4 Juli 2008 | 15:03 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS - Seiring bertambahnya usia, Perguruan Taman Siswa kini dihadang tantangan yang tidak mudah di masa depan. Di tengah arus dunia yang telah terkontaminasi, Taman Siswa diharapkan tetap bertahan dengan ajaran-ajaran luhur Ki Hajar Dewantara.

Demikian mengemuka dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-86 Perguruan Taman Siswa di Taman Siswa, Yogyakarta, Kamis (7/3). HUT diikuti tiga perwakilan dari 129 cabang Taman Siswa di berbagai wilayah nusantara lewat teleconference.

Ketua Umum Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa Ki Tyasno Sudarto menuturkan, tantangan Taman Siswa di masa depan adalah tetap mempertahankan nilai luhur yang selama ini dianut di tengah merebaknya nilai-nilai materialistis, liberalis, serta kapitalis.

"Di tengah arus yang deras ini, Taman Siswa harus berperan dalam memberikan teladan bagi masyarakat. Karena itu, Taman Siswa harus mempertahankan ajaran tentang berjiwa dan berpikir merdeka seperti yang diajarkan Ki Hajar Dewantara. Ini tidak mudah," ujarnya.

Lebih terbuka

Taman Siswa dituntut lebih terbuka dan komunikatif pada masyarakat. Selama ini, menurut Ki Tyasno, Taman Siswa cenderung tertutup. Akibatnya, tak banyak dampak yang dirasakan masyarakat sekitar.

Ki Tyasno menambahkan, manajemen yang masih tradisional harus dikembangkan menjadi manajemen yang modern, bersih, dan benar. Salah satu usaha pengembangan dengan diversifikasi usaha untuk mencari profit.

"Untuk berkembang menjadi lebih baik, tentu dibutuhkan modal yang tidak sedikit. Oleh karena itu, pengembangan bisnis yang masih sejalan dengan nilai luhur Taman Siswa harus dimaksimalkan. Misalnya membuka toko buku, percetakan, atau rumah sakit," tuturnya.

Dalam teleconference pada beberapa cabang Taman Siswa di Mojokerto, Pematang Siantar, dan Jakarta, Ki Tyasno berpesan meningkatkan solidaritas antarkeluarga Taman Siswa. Hal yang tidak kalah penting adalah memajukan kedisiplinan dalam hal kebersihan, waktu, dan tindakan.

Pengajar, ujarnya, harus dapat memberi contoh bagi para siswa. Ini mengacu pada ajaran Ki Hajar Dewantara, "Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani", bahwa guru harus bisa memberi dorongan, memberi ide, dan menjadi teladan.

Salah seorang anggota Majelis Luhur Taman Siswa, Ki Prijo Mustiko, mengatakan, Taman Siswa tak boleh jadi sekadar simbol, tapi menjadi badan perjuangan pembangunan di masyarakat. "Oleh karena itu, gerakan Taman Siswa tidak boleh terbatas pada kegiatan formal saja," katanya. (A02)

A A A
BERITA TERPOPULER

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort