
![]() |
Jakob Sumardjo
Indonesia sedang dilanda neurotik alias gangguan jiwa karena tidak mampu membedakan mana realitas faktual mana realitas rasional, mana kenyataan mana impian, mana pikiran mana perbuatan, mana regresi mana progresi, mana asal mana tujuan, mana etika dosa.
Impian itu kenyataan dan kenyataan itu impian. Ketika harga BBM naik, orang ribut mencari solusi alternatif, antara lain mengganti bahan minyak. Orang segera menawarkan energi biru yang mengubah air menjadi bahan bakar.
Penemuan genius mendadak bangsa Indonesia ini segera menarik perhatian mereka yang terkena dampak baiknya BBM. Indonesia tidak perlu lagi punya tambang-minyak karena air melimpah. Indonesia akan menjadi pelopor manusia menghentikan bahan bakar minyak diganti energi air.
Ketika orang kota sadar itu cuma impian, mereka kembali lesu menjalani kenyataan. Tetapi, penduduk desa yang melarat tetap sadar diri, kembali ke energi api dan kayu. Bahkan, mengeringkan tahi sapi untuk dijadikan bahan bakar seperti orang-orang Arya 5.000 tahun lalu yang berbuat serupa. Orang desa lebih waras daripada orang kota.
Perbuatan itu pikiran, kata-kata, dan pikiran itu perbuatan. Kasus Kejaksaan Agung dan lainnya dengan jitu menunjukkan sakit jiwa. Perbuatan yang salah dapat dihapus dengan kata-kata karena perbuatan itu tak lain adalah pikiran. Jelas diketahui korup, disuap, menyogok, menyerang, merusak, lalu disulap menjadi kebalikan dengan kata-kata. Sebab dijadikan akibat dan akibat dijadikan sebab.
Siapa bilang saya disuap? Itu kan pinjaman. Siapa bilang saya korup, itu kan bagian kerja keras kami meski modalnya milik negara. Siapa bilang saya menyogok, itu kan hadiah ulang tahun sekaligus kado perkawinan. Siapa bilang saya selingkuh, itu kan bagian dari tugas tournee yang terjadi di mana-mana, bukan kelompok kami saja. Siapa bilang saya merusak dan membakar gedung milik rakyat, itu kan akibat kebijaksanaan yang membuat kami geram dan marah.
Ketidakmampuan membedakan mana sebab dan akibat, mana pikiran dan perbuatan, adalah gejala orang neurotik. Pikirannya membayangkan orang yang lewat di depan rumah sebagian suaminya yang selingkuh, lantas dicaci maki dan dipukuli. Akibatnya, pengecut dinilai pahlawan dan pahlawan pengecut.
Dunia tidak lagi waras
Di zaman Orde Lama, kita mengenal apa yang disebut ”tujuan menghalalkan cara” dan kita dengan setengah mati mengutuknya sebagai sumber dosa nasional. Disadari atau tidak, kini juga terjadi. Karena tujuannya memperindah kota, pedagang kaki lima diburu seperti kriminal. Karena tujuannya suci, yaitu melenyapkan dosa dari tengah peradaban manusia, pelacur jalanan dikejar-kejar. Para penjudi ditangkapi dengan kartu dan alat judinya. Berbagai penginapan langganan selingkuh digerebek. Manusia dipukuli, gedung dibakar, karena tujuannya suci.
Mana etika dan mana dosa sudah sulit dibedakan. Yang etik itu bisa berupa perbuatan ”dosa” karena terlarang dalam etika mana saja. Kini, Anda boleh menjadi Jack Ripper Indonesia, yaitu menyayat dan membunuh para pelacur kapan saja berdasar pikiran dan keinginan untuk membersihkan dunia dari dosa mesum.
Inilah ketidakmampuan membedakan mana keinginan dan mana norma. Keinginan yang baik dapat dicapai dengan perbuatan tidak baik. Kasus ibu meracuni dan membunuh anaknya bertolak dari keinginan yang baik, yakni agar anak-anaknya kelak tidak hidup sengsara di republik yang tak jelas arahnya ini.
Sejak Pujangga Baru
Dosa pikiran itu kita pelajari dari Orde Baru. Pada masa itu barangsiapa kedapatan menyimpan buku marxis dan komunis sudah cukup alasan untuk menangkap dan mengadilinya meski mungkin belum dibaca.
Sejarah pembakaran buku adalah sejarah dosa pikiran. Jika pikirannya sudah sesat, ditanggung perbuatannya juga sesat. Romen George Orwell, 1984, menjadi kenyataan di Indonesia, yakni dibangunnya polisi-polisi pikiran.
Konflik ragresi dan progresi di Indonesia adalah gejala neurotik sejak zaman Pujangga Baru tahun 1930-an. Kemajuan itu dapat dicapai dengan regresi nasional dan kemajuan justru dengan progresi, yakni melupakan sama sekali yang sudah terjadi.
Freud dan pakar-pakar psikonalisis menyatakan, setiap masalah nasional jika mau dipecahkan berarti progresi demi masa depan. Tetapi, setiap pemecahan masa depan, nasional, atau personal selalu dimulai dengan regresi, apa yang sudah terjadi. Bagaimana Anda bisa bergerak maju tanpa pijakan?
Realitas Indonesia sendiri menunjukkan gejala neurotik. Anda boleh mengeluh kemiskinan di Indonesia nomor satu di dunia. Kenyataannya, iklan-iklan menawarkan real estate mewah, mobil mewah, mode mewah, dunia maya adalah dunia nyata.
Perusahaan negara dibentuk untuk menolong rakyat, tetapi yang terjadi sebaliknya, rakyat yang justru harus menolong BUMN. Dunia intelijen itu badan super rahasia, tetapi sering buka dada semuanya. Partai politik mewakili rakyat pemilihnya dan bekerja demi kepentingan rakyat, tetapi di Indonesia terbalik, rakyat-lah yang harus mengurus kepentingan partai. Di Indonesia para bintang film dan pelawak melamar menjadi kepala negara.
Indonesia lebih membutuhkan jasa psikiater daripada pinjaman luar negeri.
Jakob Sumardjo Esais