
![]() |
Nasib Pensiunan Perum Perhutani
Saya pegawai Perum Perhutani yang bekerja terhitung mulai 1 November 1969 dan diberhentikan dengan hormat dengan hak pensiun terhitung mulai 1 Januari 2007 dengan masa kerja 37 tahun 2 bulan. Diangkat menjadi pegawai Perum Perhutani terhitung mulai 1 Mei 1978 dan sejak itu diikutsertakan dalam program Jaminan Hari Tua, Jaminan Kecelakaan Kerja, dan Jaminan Kematian yang dikelola PT Taspen (Persero).
Pada 25 Januari 2007, saya menerima uang klaim Tunjangan Hari Tua dari PT Taspen (Persero) yang jumlahnya ternyata masih kurang dari yang seharusnya saya terima.
Dengan surat tanggal 14 Februari, 2 April, 27 September 2007, dan 26 Mei 2008, saya menanyakan kekurangan pembayaran tersebut.
Perum Perhutani dengan surat tertanggal 5 Juni 2007 dan PT Taspen (Persero) dengan surat tertanggal 5 Maret 2007 dan 25 Oktober 2007 memberikan penjelasan yang sama: Perum Perhutani belum membayarkan kekurangan pendanaan atas kenaikan gaji pokok pegawai Perum Perhutani terhitung mulai 1 Mei 2005 dan terhitung mulai 1 Maret 2006 kepada PT Taspen (Persero) yang besarnya masih dalam penghitungan antara Perum Perhutani dan PT Taspen (Persero).
Apabila Perum Perhutani telah memenuhi kekurangan pendanaan tersebut, PT Taspen (Persero) akan membayarkan kekurangan uang Klaim Tunjangan Hari Tua langsung kepada para pensiunan pegawai Perum Perhutani.
Mengingat sudah satu setengah tahun lamanya saya menunggu sejak pensiun dan belum juga ada penyelesaian. Saya mohon dengan hormat kepastian dari Perum Perhutani dan PT Taspen (Persero) kapan kekurangan pembayaran tersebut dapat saya terima.
Hal lain. Pada tahun 2006, Direktur Utama Perum Perhutani menyampaikan bahwa pegawai Perum Perhutani nonpejabat yang purnatugas atau diberhentikan dengan hormat dengan hak pensiun sejak tahun 2007, di samping menerima uang pensiun setiap bulan, juga akan menerima uang pesangon berupa Tunjangan Hari Tua sebesar 40 kali gaji pokok terakhir. Namun, sampai saat ini belum ada realisasinya.
Joesriatoen Perum Griya Purwa Asri Blok I, Kalasan, Sleman
XL Curi Pulsa Lewat GPRS
Saya pelanggan kartu GSM XL nomor 0818029xxxxx. Pada 9 Juni lalu saya mengisi voucher XL elektrik sebesar Rp 100.000. Keesokan harinya, saya menggunakan GPRS untuk koneksi internet dan membuka e-mail via Yahoo-Go. Koneksi via GPRS itu berlangsung beberapa menit dan segera saya matikan. Namun, pada 11 Juni saya terkejut bukan main. Pulsa saya hanya tersisa sekitar Rp 1.900.
Segera saya hubungi Sentral XL. Katanya, saya menggunakan GPRS untuk waktu lama pada hari itu. Padahal, saya menggunakan GPRS beberapa menit saja. Kebetulan posisi saya hari itu pada sebuah mal di Bogor yang menyediakan hotspot gratis Telkomhotspot. Saya langsung menggantinya dengan Wi-Fi.
Sekalipun belum puas dengan jawaban operator, saya mengisi ulang pulsa elektrik XL sebesar Rp 100.000 (12 Juni). Besoknya secara kebetulan saya menengok ponsel saya dan melihat koneksi GPRS berlangsung dengan sendirinya (berdasarkan tanda yang ada di ponsel) tanpa saya operasikan. Bingung dengan keadaan itu, saya langsung mengontak Sentral Pengaduan XL dan menanyakan penyebabnya seraya menghubungkannya dengan kejadian pulsa habis sebelumnya.
Usul si operator sungguh menggelikan. Saya diminta menon-aktifkan fitur GPRS di ponsel saya atau dia yang akan memutuskannya. Saya heran, lantas buat apa fasilitas GPRS XL diadakan? Tambahan lagi, si operator seolah menganggap ponsel saya bekerja otomatis mengoneksi GPRS. Saya pikir, saya sangat paham ponsel milik saya dan telah membuat pilihan when needed (manual) untuk mengaktifkan GPRS.
Sebagai pelanggan XL, saya minta penjelasan bahkan pengembalian nominal pulsa saya yang hilang akibat ketidakjelasan itu kepada pihak XL yang juga menghentikan sambungan GPRS secara sepihak. Mudah-mudahan XL jujur dalam memurahkan tarif pulsanya.
DEDE AN Pulo Empang RT 005 RW 005, Paledang, Bogor
BII Lamban
Pada 19 Mei lalu sekitar pukul 17.00, saya mengambil uang di ATM BII Hypermall Bekasi sebesar Rp 1.500.000. Pada transaksi ini tak ada masalah. Barulah pada penarikan kedua sebesar Rp 800.000, uang tidak keluar meski di monitor tertulis agar saya mengambil uang.
Karena penasaran, saya minta cetak saldo tabungan dan ternyata yang Rp 800.000 sudah terpotong. Segera setelah itu saya laporkan kejadian ini lewat telepon ke Layanan Nasabah BII, diterima oleh Diva. Ia meminta saya mengirimkan bukti cetak ATM lewat faksimile dan surat pernyataan atas kejadian ini.
Bukti cetak ATM saya kirim langsung, tetapi surat pernyataan tidak saya kirim karena saat itu saya ada di mal dan menjelang malam. Diva menyarankan surat pernyataan dikirim keesokan harinya, 20 Mei. Namun, 20 Mei adalah Hari Waisak dan libur nasional. Jadi, saya mengirim surat pernyataan lewat faksimile tanggal 21 Mei.
Pendek cerita, Diva melalui telepon mengatakan bahwa laporan saya sedang dipelajari dan perlu delapan hari kerja. Dari hari ke hari hingga 16 Juni saya menelepon Layanan Nasabah (diterima oleh Sari, Kiki, Rio, Yasir, dan Windi). Mereka semua menjawab surat saya sedang dipelajari pihak BII. Mungkin seluruh jajarannya dari pusat sampai kantor cabang pembantu yang ada di negeri ini mempelajarinya!
SANTOSO Kompleks AL Dewa Ruci, Jl Angin Sejuk V RT 11 RW11 No 39, Cilincing, Jakarta
Dikecewakan Credit Shield Citibank
Adik ipar saya pemegang kartu Citibank Visa Gold nomor 454178001336-xxxx dan Master nomor 542177012783 -xxxx dirawat di RSPP pada 12 Januari-13 Maret lalu dan sekarang dalam perawatan intensif di rumah.
Pada 24 Januari, saya mengirim surat ke Citibank memberitahukan keadaan adik ipar saya dan mengajukan klaim Credit Shield disertai surat keterangan dari rumah sakit dan diagnosis dokter.
Tanggal 15 April debt collector mendatangi rumah saya. Saya minta Layanan Nasabah untuk membuat catatan dalam komputer agar uang pertanggungan dari Prudential cepat dibayarkan dan debt collector tidak datang lagi ke rumah.
Pada 28 April 2008 formulir klaim Prudential saya lengkapi dan kembalikan ke Citibank, tetapi sampai saat ini belum menerima konfirmasi atau uang pertanggungan tersebut dan selalu mendapat jawaban masih dalam proses.
Tanggal 17 Juni kami dihubungi oleh Hanny dari Citibank Pondok Indah. Saya ceritakan bahwa saya masih menunggu uang pertanggungan dari Prudential. Kami sepakat sama-sama berusaha agar masalah cepat selesai.
Pada 23 Juni, debt collector datang lagi ke rumah. Saya menghubungi Hanny lagi dan beliau mengatakan akan mengecek apakah masalah sudah ditangani oleh agen.
Dari kronologi di atas, saya tidak melihat ada koordinasi antara Layanan Nasabah dan bagian debt collector di Citibank. Saya mohon masalah ini dapat segera diselesaikan. Jangan sampai citra Citibank ternoda.
Hendra Gunawan Kompleks Diskum H-6 Cipinang, Jakarta Timur
Keterangan Indosat 3.5G Menyesatkan
Saya guru SD. Akhir Mei lalu, saya berlangganan Indosat 3.5G dan mendapat promosi paket College bulanan Rp 180.000 dengan kuota 1,2 gigabite per bulan.
Pertengahan Juni, saya ke Galeri Indosat di Jalan Pettarani, Makassar, menyampaikan keluhan betapa lambat akses Indosat 3.5G di telepon seluler yang saya gunakan. Saya tanyakan bagaimana cara berhenti berlangganan. Jawabannya, berlangganan beberapa bulan dulu, baru dapat berhenti. Makna ”beberapa” itu tak dijelaskan.
Tanggal 20 Juni, saya kembali ke galeri menanyakan sisa kuota pemakaian Indosat 3.5G untuk nomor saya, +6281425 001XXXX. Semula petugas mengatakan bahwa masih ada sisa 1,5 megabite dan menyarankan sebaiknya kalau mau berhenti berlangganan tanggal 28 Juni 2008 saja. Namun, setelah bertanya kepada temannya, ia meralat ucapan. Pemakaian saya sudah 7 gigabite! Berarti ada kelebihan pemakaian 6 gigabite. Untuk itu saya akan dikenai Rp 3 juta- Rp 4 juta!
Saya sangat terkejut mendengar kabar ini. Petugas mengatakan, biaya sebesar itu mungkin akibat aplikasi Yahoo! Go di ponsel tidak di-log-off . Saya harus menunggu lembaran tagihan pemakaian Indosat 3.5G untuk mengetahui jumlah sebenarnya. Namun, pada hari itu juga saya menyatakan berhenti berlangganan Indosat 3.5G.
Sebagai guru SD, saya merasa dirampok oleh Indosat dengan jumlah uang sebesar itu. Sepulang dari Galeri Indosat, saya mengecek pemakaian saya di portal 3G Indosat (http:// 3g.indosat.com).
Sungguh ajaib, di sana disebutkan pemakaian saya hingga 19 Juni 2008: 7 megabite dan masih ada sisa 1,5 Mb. Saya mengecek pada telepon seluler saya, status transfer data harian sekitar 100kb. Tidak tertera pemakaian yang luar biasa.
TONI SIDJAYA Jl Bungur 14, Makassar
Perawatan Stadion Kraton Pekalongan
Saya salah satu warga Pekalongan yang sudah enam tahun terakhir tinggal dan bekerja di Jakarta. Sebagai warga Pekalongan, saya bangga dengan dibangunnya Stadion Kraton sebagai fasilitas olahraga masyarakat Pekalongan yang memadai seperti stadion olahraga di Jakarta.
Begitu pulang ke Pekalongan untuk sekadar lari-lari pagi sambil menyaksikan stadion ini, saya terkejut melihat kondisi bangunan stadion yang mulai rusak serta tidak terawat. Banyak sampah berserakan di sekitar Stadion Kraton.
Saya jadi bertanya-tanya, apakah stadion olahraga kebanggaan warga Pekalongan ini tidak ada yang ”mau” merawat? Saya berharap segera ada tindak lanjut untuk perbaikan kota Pekalongan yang saya cintai.
Urip Subur Jalan Veteran IB Nomor 29 RT 002 RW 001 Kraton Lor, Pekalongan
Periode Program Sudah Berakhir
Sehubungan dengan surat di Kompas (25/6) ”Janji hadiah Kalbe Farma” yang disampaikan oleh Bapak Yasrul perlu dijelaskan, program penukaran dus Chil School yang tidak diberikan oleh Kalbe Nutritionals karena periode program hadiah dimaksud sudah berakhir bulan Januari 2007.
Kami sudah mengunjungi Bapak Yasrul untuk memberikan penjelasan dan yang bersangkutan menyatakan permasalahan sudah selesai.
Nanywati Utomo Customer Service Manager Kalbe Nutritionals