
![]() |
Benin, Kompas - Tinjauan lapangan ke Benin, negara di Afrika, di antara negara Togo dan Nigeria, dalam rangkaian lokakarya Media21 Global Journalism Network di Geneva, Swiss, konsentrasi beralih pada pola pertanian organik. Hal ini tidak sesuai dengan tema semula, yaitu Perubahan Iklim Mengenai Dampak Global Terhadap Area Pesisir dan Kepulauan.
”Pada agenda ke lapangan ini sudah terjadi disorientasi. Tidak ada sesuatu yang baru yang saya temukan di sini,” ujar salah satu peserta dari Kenya, Naftali Mungai Kure, Kamis (3/7) di Benin.
Hal senada juga diungkapkan peserta lainnya. ”Peninjauan lapangan semestinya dikembalikan pada tema semula,” kata Syaiful Islam dari Banglades.
Para peserta memulai tinjauan lapangan pada 28 Juni 2008 dengan mengunjungi Pusat Pelatihan Pertanian Organik Songhai Centre di Porto-Novo, ibu kota negara Benin. Berturut-turut, dalam tiga hari ke depan, kelompok masyarakat di tiga wilayah yang dikunjungi terkait dengan pola pertanian organik itu adalah Grand-Popo, Zangnanado, dan Dotan.
Ana Paula de Andrade dari Media21 Global Journalism Network yang turut dalam tinjauan lapangan menjelaskan, tema semula memang Perubahan Iklim mengenai Dampak Global terhadap Wilayah Pesisir dan Kepulauan. Tema itu ingin ditunjukkan melalui rencana kunjungan ke Dubai dan Banglades yang dibatalkan karena alasan dana.
Direktur Songhai Centre Godfrey Nzamujo mengatakan, dua masalah penting mengenai dampak perubahan iklim adalah menjaga keberlanjutan masalah pangan dan energi. Dua masalah ini dapat diupayakan pemenuhannya melalui pola produksi pertanian secara organik.
Di areal yang mencapai belasan hektar di Porto-Novo itu, kata Godfrey, mekanisme pertanian organik dimulai dengan pengelolaan peternakan untuk menghasilkan limbah yang diolah menjadi biogas sebagai energi terbarukan. Dari sana didapat pupuk organik untuk pertanian. Limbah pertanian berbagai jenis komoditas pangan, setelah dipanen, juga ditampung untuk dijadikan biogas. ”Yang tak kalah penting adalah mengelola masalah distribusi air secara daur ulang,” tuturnya.
Dia setiap tahun mendidik sekitar 700 penduduk lokal untuk belajar pola pertanian organik. Di Afrika, yang rentan kekurangan air, masalah air memang sangat vital. Untuk itu, dikembangkan sistem daur ulang air melalui penampungan yang juga dapat digunakan untuk perikanan.
Di Grand-Popo, masyarakat yang mengembangkan pola pertanian organik didampingi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Nature Tropicale. Direktur LSM Nature Tropicale Josea S Dossou-Boudjrendou mengatakan, kebutuhan edukasi masyarakat mengenai pelestarian lingkungan menjadi prioritas.
”LSM Nature Tropicale mendorong program edukasi masyarakat melalui radio dengan sel surya,” kata Josea. (NAW)