Jumat, 29 Agustus 2008
Bom Dirakit di Kamar Kos
Keluarga Korban Penembakan Teroris Bersyukur
Sabtu, 5 Juli 2008 | 00:45 WIB

Palembang, Kompas - Bom yang dimiliki oleh kelompok jaringan terorisme di Palembang, Sumatera Selatan, banyak yang dirakit di suatu kamar indekos di kawasan permukiman padat penduduk di tengah kota. Sebagian lainnya dirakit di tempat yang lebih terpencil di pinggir kota.

Hingga Jumat (4/7), sudah 22 bom yang diinventarisasi oleh polisi. Dua di antaranya ditemukan di luar kota, yaitu di Kabupaten Muba dan Ogan Komering Ilir.

Selain itu, polisi menemukan bom di Sekayu, Muba, di tempat Alim alias Omar ditangkap. Polisi menemukan bom itu, Kamis di ruko tempat Omar mengajar bahasa Inggris di Sekayu. Bom dikemas dalam wadah plastik.

Bom lain ditemukan di rumah Ali Mashudi di Desa Bumiarjo, Blok C, Lempuing, Ogan Komering Ilir. Alat peledak itu ditemukan di bawah tempat tidur di kamar Ali.

”Saya tidak tahu aktivitas dia. Kalau pergi, dia tidak pernah ngomong,” kata ayah Ali, Ahmad Komari (70), di rumahnya di Desa Bumiarjo, Blok J.

Bom-bom yang ditemukan polisi hari Rabu lalu di Simpang Dwikora, Jalan Papera, Palembang, dirakit di kamar indekos di Jalan Letnan Murod No 12, Km 5, Ilir Timur I, Palembang. Pemilik rumah indekos itu adalah Muhammad Anwar Al-Sadat (29).

Bom-bom pipa PVC diduga dirakit Sugi—tersangka yang sudah ditangkap—di kamar indekos tersebut. Terkadang, Ali Mashudi ikut membantu Sugi merakit. Setelah jadi, bom-bom itu dipindahkan ke rumah tersangka lain, Abdul Rahman alias Musa alias Ifan, di Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Sukarami, Palembang. Musa tinggal bersama istri dan keempat anaknya.

Kepala Divisi Humas Markas Besar Kepolisian Negara RI Inspektur Jenderal Abubakar Nataprawira, yang dihubungi Kompas semalam terkait perkembangan penyidikan tersangka teroris yang sudah dibawa ke Depok, Jawa Barat, belum bersedia merinci perkembangan terakhir. Abu Bakar berpangkat inspektur jenderal bukan brigadir jenderal seperti diberitakan Kompas (4/7).

Keluarga korban

Keluarga Dago Simamora (58), guru SMP 11 Palembang, yang dibunuh dengan cara ditembak tahun lalu, sudah tahu bahwa tersangka teroris yang ditangkap di Palembang terlibat dalam pembunuhan Dago.

Iko (14), satu dari enam anak Dago, mengatakan, sama sekali tidak menduga bahwa pembunuh ayahnya adalah anggota jaringan teroris. Remaja itu mengaku bersyukur dan senang kasus pembunuhan ayahnya terungkap. ”Setiap hari, ayah mengajar di sekolah. Selain itu, ayah juga sering memberi khotbah di gereja di Jalan Taman Siswa Palembang, tapi ayah bukan pendeta,” kata Iko.

Setelah Dago meninggal, Iko dan keluarganya menggantungkan hidup dari uang pensiun, sementara ibu Iko, Pujidarmi, tidak bekerja. Adapun kedua kakak Iko yang tinggal di Sungai Lilin, Kabupaten Musi Banyuasin, setiap bulan pulang ke Palembang untuk memberi bantuan uang. (WAD/HLN/SF)

A A A
BERITA TERPOPULER

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort