
![]() |
Jakarta, Kompas - Para petani tebu mendesak pemerintah agar menaikkan tarif bea masuk impor gula mentah dan gula putih. Kebijakan ini diyakini akan menolong petani dan industri gula berbasis tebu rakyat dari ancaman keterpurukan.
Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Arum Sabil menyatakan, naiknya harga komoditas pertanian di pasar dunia tidak membuat petani tebu sejahtera. ”Gula petani pada lelang panen musim ini hanya dihargai Rp 5.000 per kilogram, bahkan ada yang menawar di bawah itu,” kata Arum, Jumat (4/7) di Surabaya, Jawa Timur.
Tetap rendahnya harga gula petani membuat petani tebu semakin terjepit dan usaha tani tebu menjadi tidak menjanjikan lagi. Ini berbahaya bagi masa depan industri gula berbasis tebu rakyat dan produksi gula nasional.
”Memanjakan konsumen dengan menekan harga gula petani akan membuat petani tidak bergairah. Dampaknya, produksi gula turun. Lama-lama bangsa ini bergantung pada gula impor dan, kalau harga gula di pasar internasional naik, pertahanan gula nasional akan lemah,” katanya.
Menurut Arum, untuk menyelamatkan petani, pemerintah harus menaikkan tarif bea masuk atau BM gula impor. ”Idealnya BM gula mentah Rp 1.200 per kilogram dan gula putih Rp 1.500. Saat ini BM gula mentah hanya Rp 550 per kilogram dan gula putih Rp 790,” ujarnya.
Naiknya BM impor gula, lanjut Arum, akan meningkatkan pendapatan negara sekitar Rp 3 triliun. Selain itu, revitalisasi pabrik gula bisa berjalan dan petani sejahtera.
Naiknya harga gula di tingkat konsumen dari Rp 6.000 per kg menjadi Rp 7.000-Rp 8.000 per kilogram tak akan memengaruhi inflasi. ”Konsumsi gula nasional per kapita per tahun hanya 17 kg, sedangkan konsumsi beras 139 kg per tahun,” kata Arum.
Direktur Jenderal Perkebunan Departemen Pertanian Achmad Mangga Barani sebelumnya menyatakan, tahun ini pemerintah mengurangi impor gula rafinasi dan mendorong produksi gula rafinasi dalam negeri.
Kebutuhan gula nasional 3,1 juta ton, adapun produksi tahun 2007 hanya 2,4 juta ton, dan tahun 2008 diperkirakan 2,7-2,8 juta ton. (MAS)