
![]() |
Jakarta, Kompas - Pertumbuhan kredit di wilayah luar Jawa dalam setahun terakhir relatif lebih cepat dibandingkan dengan di Jawa. Padahal, Jawa merupakan pusat perekonomian Indonesia. Ini mengindikasikan kegiatan ekonomi secara perlahan mulai bergeser ke luar Jawa.
Turunnya porsi kredit yang disalurkan di Jawa menunjukkan dominasi Jawa terhadap perekonomian Indonesia mulai berkurang. Meskipun hingga kini kegiatan perekonomian nasional masih terkonsentrasi di Jawa.
Data Bank Indonesia menunjukkan, posisi kredit di luar Jawa per April 2008 mencapai Rp 256,5 triliun atau 25 persen dari total kredit nasional yang senilai Rp 1.062 triliun. Porsi kredit itu lebih besar dibandingkan dengan April 2007 yang sebesar 23,9 persen.
Ekonom BRI, Djoko Retnadi, Jumat (4/7) di Jakarta, mengatakan, dalam setahun terakhir, penyaluran kredit di luar Jawa cukup marak.
Hal itu, kata Djoko, dipicu pesatnya pertumbuhan industri pertambangan, perkebunan, dan infrastruktur. Selain didorong pemerintah, pesatnya perkembangan industri energi dan perkebunan juga dipicu meroketnya harga-harga komoditas, seperti batu bara, minyak kelapa sawit, dan komoditas pertanian lainnya.
”Perkebunan kelapa sawit, kakao, karet, penambangan batu bara umumnya berlokasi di Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera. Inilah yang membuat penyaluran kredit di daerah bersangkutan meningkat,” tuturnya.
Mengantisipasi meningkatnya permintaan kredit di luar Jawa, perbankan kini lebih ekspansif membuka cabang di daerah.
Ekonom BNI, Ryan Kiryanto, mengatakan, porsi kredit di luar Jawa akan terus membesar selama harga komoditas pertanian dan pertambangan melambung tinggi. Dijelaskan, jika sebelumnya banyak dana pihak ketiga yang dihimpun di luar Jawa disalurkan ke Jawa, kini situasinya terbalik.
Posisi dana pihak ketiga di Jawa per April 2008 mencapai Rp 1.103 triliun atau 74,5 persen dari total dana pihak ketiga yang senilai Rp 1.482 triliun. (FAJ)