Jumat, 29 Agustus 2008
Sajak-sajak Gunawan Maryanto
Minggu, 6 Juli 2008 | 01:44 WIB

banowati

bahkan tuhan pun lupa:

kenapa aku mencintaimu

aku lupa:

ini cinta atau alpa

ini cinta atau apa

tapi kau telah menggodaku

semenjak kali pertama melintas

di ruang rias

melintas, sebenarnya mengeras

lalu tinggal lagu-lagu senja

mengekalkan pagi-pagi hastina

kita pernah melewatinya, bukan

hanya lupa; kapan

cinta, atau suka, berkembang

layaknya ilalang

membelukar hingga luar pagar

pagar rumahmu

lalu jalan kecil yang memanggil-manggil

kecil, seperti cinta, hanya pas buat berdua

ya, kita bukan tukang kebun

yang awas dengan warna daun-daun

tahu-tahu: sudah bertahun-tahun

perang besar telah lewat

menghancurkan rumahmu

seluruh kesepianmu

seluruh yang pernah kaumiliki

wajah dan suaramu segera menua

layaknya logam berkarat

memberat

kau belum setua itu, kau tahu

kau hanya terlalu lama mencinta

orang yang tak kaucinta

aku ingin mengajakmu duduk di sebuah malam

bercakap banyak hal sambil menikmati angin

memain-mainkan rambut ikalmu yang tak tebal

tapi batok kepalamu tak berisi apa-apa

hanya prasangka

perasaan-perasaan berlebihan

bagaimana aku bisa membuatmu bahagia

aku bahkan tak bisa membuatmu ketawa

satu-satunya yang mungkin kulakukan

satu-satunya hal yang kuinginkan kaulakukan

aku benar-benar tak tahu

bagaimana harus mengakhiri ini

selain dengan meninggalkanmu

sendiri malam ini

tapi jelas aku tak bisa bertahan

dengan seluruh ledakan-ledakan

kemarahan dan keputusasaan

aku tak ingin tubuhku kering dan berkeping-keping

setelah seluruh penyamaran dan pertempuran

yang melelahkan dan menghabiskan

seluruh tanya-jawab kita berhenti sebagai upaya

membangun hubungan yang banal dan mokal

tanya-jawab kita sekadar menunggu senja

dengan lintasan-lintasan burung yang tak pernah kekal

surem-surem dewangkara kingkin ooo suramnya matahari yang berduka

lir manuswa kang layon oooooo.ooooo seperti manusia mati

ilang sirna denya memanise oooooooo hilang sudah keindahannya

ooo ooooooooooooooooooooooooooooo ooo

tapi kau telanjur menggodaku

bau tubuhmu telah melekat di paru-paruku

menjelma radang di malam-malam panjang

bagaimana bisa aku meninggalkanmu

dalam keadaan seperti itu

bagaimana aku bisa meninggalkanmu

dalam kesedihan serupa itu

bahkan tuhan pun lupa:

kenapa aku mencintaimu

Jogjakarta, 2008

bagong

: ki hadi sugito

aku hanya bayang-bayang

samar dan kehitaman

lahir dari sebuah kesepian

: semar yang panjang

lahir kelewat malam

ketika kanak-kanak sudah pulang

dan terbenam dalam mimpinya

ooo,

kau tahu, mereka tak benar-benar pulang

dari nonton wayang

mereka sembunyi dalam tubuhku

kau dengar suara mereka

kau dengar canda mereka

salah satunya adalah anakmu

bayang-bayangmu

yang pergi menghindarimu

aku hanya bayang-bayang

dari seorang lelaki dari seorang perempuan

yang sedang sedih yang sedang tertawa

dari seseorang yang tak pasti

seseorang yang tak sanggup kaunamai

selain samar selain semar

Jogjakarta, 2008

surtikanti

di malam pengantin

dua lelaki berkejaran

sepanjang tubuhku sepanjang malam

berlarian di kancing baju, cincin,

giwang, liontin,

dan jam tangan

tapi cuma satu yang berdiam dalam anganku:

lelaki dengan benih matahari di kedua matanya,

dengan deras sungai gangga dalam jantungnya,

yang menyimpan kesedihanku diam-diam

maka diamlah seluruh mandaraka

biarkan malam menyembunyikan cintaku

menggelapkan kekasihku

dari anjing jaga dan peronda

Jogjakarta, 2008

aswatama

dalam tubuhku tinggal seekor kuda liar

serta jurang lebar

yang tak bisa kauseberangi dengan nalar

juga cinta yang tiba-tiba

spontan dan tanpa pilihan

di luar diriku adalah terowongan panjang

dan di belakang; cahaya benderang

dari kemaluan seorang perempuan telanjang

dan kini aku berjalan di bawah kematian

di bawah kekalahan sebuah bangsa

selama-lamanya

setelah terpaksa kulesakkan senjata

di kandungan seorang perempuan

kini aku hanya seekor coprinae

bersembunyi dalam tahimu

Jogjakarta, 2008

tobong 1

kita ke tobong malam itu

menyaksikan masa lalu

masa laluku

: dua perangkat gamelan berkarat

empat penari sekarat

mungkin kau mencoba menghiburku

melupakan kekinian yang sedemikian

menyedihkan

tapi apa yang lebih menyedihkan

dari tobong yang kosong

dagelan ketinggalan jaman

dan wajah-wajah yang terlalu lelah

butuh bedak yang lebih tebal lagi, bukan?

sudah kelewat malam

separuh kursi tetap tak berpenghuni

adegan cinta berlalu begitu saja

terlalu dingin untuk bisa menggetarkanmu

tapi tak ada yang pulang selain kita

atau aku yang lupa

: tobong ini adalah rumah mereka

jogjakarta, 2008

tobong 2

rembang banjir darah

dengan kapur putih di papan tulis

berdiri sendirian di pinggir jalan

seperti sebuah janji yang tak ditepati

malam ini patih joyo sudirgo akan kembali

setelah 20 tahun terbuang di pulau bone

akankah kau juga akan kembali

beberapa motor dan lelaki di depan tobong

mengancam dalam gelap

mengancam kesepian kita yang lembab

dan mulai ditumbuhi jamur

lalu kita masukmemasuki gerbong kesepian itu

lebih jauh lagi

lelaki-lelaki itu menyusul kemudian

menabuh gamelan

mengusap-usap kematian

semuanya sibuk dengan dirinya

dengan asap rokoknya masing-masing

dengan teh, kacang, dan perasaan gamang

juga kita, yang jauh dan asing

gegaraning wong akrami ooopegangan orang berumah tangga

dudu bandha dudu rupa o.oobukan harta bukan rupa

amung ati paitane ooo.ooooohanya hati modalnya

semuanya seperti hanya bayang-bayang

yang terlihat kadang-kadang

dan lekas-lekas hilang

jogjakarta, 2008

Gunawan Maryanto lahir di Yogyakarta, 10 April 1976. Ia menulis puisi dan prosa, bergiat di Teater Garasi dan BlockNot Institute. Pada tahun 2004 ia menerima Hadiah Sih dari Jurnal Puisi.

A A A
BERITA TERPOPULER

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort