
![]() |
banowati
bahkan tuhan pun lupa:
kenapa aku mencintaimu
aku lupa:
ini cinta atau alpa
ini cinta atau apa
tapi kau telah menggodaku
semenjak kali pertama melintas
di ruang rias
melintas, sebenarnya mengeras
lalu tinggal lagu-lagu senja
mengekalkan pagi-pagi hastina
kita pernah melewatinya, bukan
hanya lupa; kapan
cinta, atau suka, berkembang
layaknya ilalang
membelukar hingga luar pagar
pagar rumahmu
lalu jalan kecil yang memanggil-manggil
kecil, seperti cinta, hanya pas buat berdua
ya, kita bukan tukang kebun
yang awas dengan warna daun-daun
tahu-tahu: sudah bertahun-tahun
perang besar telah lewat
menghancurkan rumahmu
seluruh kesepianmu
seluruh yang pernah kaumiliki
wajah dan suaramu segera menua
layaknya logam berkarat
memberat
kau belum setua itu, kau tahu
kau hanya terlalu lama mencinta
orang yang tak kaucinta
aku ingin mengajakmu duduk di sebuah malam
bercakap banyak hal sambil menikmati angin
memain-mainkan rambut ikalmu yang tak tebal
tapi batok kepalamu tak berisi apa-apa
hanya prasangka
perasaan-perasaan berlebihan
bagaimana aku bisa membuatmu bahagia
aku bahkan tak bisa membuatmu ketawa
satu-satunya yang mungkin kulakukan
satu-satunya hal yang kuinginkan kaulakukan
aku benar-benar tak tahu
bagaimana harus mengakhiri ini
selain dengan meninggalkanmu
sendiri malam ini
tapi jelas aku tak bisa bertahan
dengan seluruh ledakan-ledakan
kemarahan dan keputusasaan
aku tak ingin tubuhku kering dan berkeping-keping
setelah seluruh penyamaran dan pertempuran
yang melelahkan dan menghabiskan
seluruh tanya-jawab kita berhenti sebagai upaya
membangun hubungan yang banal dan mokal
tanya-jawab kita sekadar menunggu senja
dengan lintasan-lintasan burung yang tak pernah kekal
surem-surem dewangkara kingkin ooo suramnya matahari yang berduka
lir manuswa kang layon oooooo.ooooo seperti manusia mati
ilang sirna denya memanise oooooooo hilang sudah keindahannya
ooo ooooooooooooooooooooooooooooo ooo
tapi kau telanjur menggodaku
bau tubuhmu telah melekat di paru-paruku
menjelma radang di malam-malam panjang
bagaimana bisa aku meninggalkanmu
dalam keadaan seperti itu
bagaimana aku bisa meninggalkanmu
dalam kesedihan serupa itu
bahkan tuhan pun lupa:
kenapa aku mencintaimu
Jogjakarta, 2008
bagong
: ki hadi sugito
aku hanya bayang-bayang
samar dan kehitaman
lahir dari sebuah kesepian
: semar yang panjang
lahir kelewat malam
ketika kanak-kanak sudah pulang
dan terbenam dalam mimpinya
ooo,
kau tahu, mereka tak benar-benar pulang
dari nonton wayang
mereka sembunyi dalam tubuhku
kau dengar suara mereka
kau dengar canda mereka
salah satunya adalah anakmu
bayang-bayangmu
yang pergi menghindarimu
aku hanya bayang-bayang
dari seorang lelaki dari seorang perempuan
yang sedang sedih yang sedang tertawa
dari seseorang yang tak pasti
seseorang yang tak sanggup kaunamai
selain samar selain semar
Jogjakarta, 2008
surtikanti
di malam pengantin
dua lelaki berkejaran
sepanjang tubuhku sepanjang malam
berlarian di kancing baju, cincin,
giwang, liontin,
dan jam tangan
tapi cuma satu yang berdiam dalam anganku:
lelaki dengan benih matahari di kedua matanya,
dengan deras sungai gangga dalam jantungnya,
yang menyimpan kesedihanku diam-diam
maka diamlah seluruh mandaraka
biarkan malam menyembunyikan cintaku
menggelapkan kekasihku
dari anjing jaga dan peronda
Jogjakarta, 2008
aswatama
dalam tubuhku tinggal seekor kuda liar
serta jurang lebar
yang tak bisa kauseberangi dengan nalar
juga cinta yang tiba-tiba
spontan dan tanpa pilihan
di luar diriku adalah terowongan panjang
dan di belakang; cahaya benderang
dari kemaluan seorang perempuan telanjang
dan kini aku berjalan di bawah kematian
di bawah kekalahan sebuah bangsa
selama-lamanya
setelah terpaksa kulesakkan senjata
di kandungan seorang perempuan
kini aku hanya seekor coprinae
bersembunyi dalam tahimu
Jogjakarta, 2008
tobong 1
kita ke tobong malam itu
menyaksikan masa lalu
masa laluku
: dua perangkat gamelan berkarat
empat penari sekarat
mungkin kau mencoba menghiburku
melupakan kekinian yang sedemikian
menyedihkan
tapi apa yang lebih menyedihkan
dari tobong yang kosong
dagelan ketinggalan jaman
dan wajah-wajah yang terlalu lelah
butuh bedak yang lebih tebal lagi, bukan?
sudah kelewat malam
separuh kursi tetap tak berpenghuni
adegan cinta berlalu begitu saja
terlalu dingin untuk bisa menggetarkanmu
tapi tak ada yang pulang selain kita
atau aku yang lupa
: tobong ini adalah rumah mereka
jogjakarta, 2008
tobong 2
rembang banjir darah
dengan kapur putih di papan tulis
berdiri sendirian di pinggir jalan
seperti sebuah janji yang tak ditepati
malam ini patih joyo sudirgo akan kembali
setelah 20 tahun terbuang di pulau bone
akankah kau juga akan kembali
beberapa motor dan lelaki di depan tobong
mengancam dalam gelap
mengancam kesepian kita yang lembab
dan mulai ditumbuhi jamur
lalu kita masukmemasuki gerbong kesepian itu
lebih jauh lagi
lelaki-lelaki itu menyusul kemudian
menabuh gamelan
mengusap-usap kematian
semuanya sibuk dengan dirinya
dengan asap rokoknya masing-masing
dengan teh, kacang, dan perasaan gamang
juga kita, yang jauh dan asing
gegaraning wong akrami ooopegangan orang berumah tangga
dudu bandha dudu rupa o.oobukan harta bukan rupa
amung ati paitane ooo.ooooohanya hati modalnya
semuanya seperti hanya bayang-bayang
yang terlihat kadang-kadang
dan lekas-lekas hilang
jogjakarta, 2008
Gunawan Maryanto lahir di Yogyakarta, 10 April 1976. Ia menulis puisi dan prosa, bergiat di Teater Garasi dan BlockNot Institute. Pada tahun 2004 ia menerima Hadiah Sih dari Jurnal Puisi.