Rabu, 10 Februari 2010
Pembukaan PON XVII Hambar
Pengamanan Ketat, Bendera Kecil Pun Diperiksa

Minggu, 6 Juli 2008 | 02:08 WIB

 

 

 

Samarinda, Kompas - Meskipun lancar dan digelar di stadion megah, acara pembukaan PON XVII 2008 di Stadion Utama Kalimantan Timur, Palaran, Samarinda, Sabtu (5/7) malam, terasa hambar. Hampir seluruh mata acara bersifat seremonial sehingga terkesan kaku dan monoton.

Koreografi ”Polah Gaya” garapan Djaduk Ferianto dengan 920 penari tak banyak menolong.

Ditonton 30.000 warga Samarinda dan sekitarnya, pembukaan PON XVII 2008— yang diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono—itu tidak menyajikan acara spektakuler meski tata cahaya yang disediakan berkekuatan hingga 4 juta watt. Urutan acara tak berbeda dengan penyelenggaraan PON- PON sebelumnya.

Atraksi drumben dari grup Pupuk Kaltim mengawali acara yang kemudian diikuti dengan defile kontingen dari 33 provinsi sebelum Presiden— yang didampingi Ny Ani Yudhoyono— membuka secara resmi kegiatan olahraga empat tahunan itu dengan membunyikan sirene tepat pukul 20.19 Wita.

Defile 33 kontingen yang menjadi peserta PON kali ini diawali oleh tiga maskot, yaitu burung enggang yang merupakan maskot untuk cabang olahraga udara, pesut untuk olahraga air, dan orang utan untuk olahraga darat.

Kontingen pertama yang hadir di hadapan ribuan penonton dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono adalah Bali yang berkekuatan 243 atlet dan diakhiri tuan rumah Kaltim dengan 1.020 atlet. Jumlah itu menjadi yang terbanyak dibandingkan 32 tim lainnya, termasuk juara bertahan DKI Jakarta.

Puncak acara pembukaan tersebut adalah penyalaan obor PON di kaldron yang diwakili oleh atlet taekwondo nasional, Alfons T Liung.

Hingga PON XVII resmi dibuka, sudah 5 set medali diraih secara berurutan oleh Jawa Barat, Kalimantan Timur, DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan Kalimantan Barat melalui cabang catur dan bridge, yang keduanya dipertandingkan di Tarakan. Namun, medali-medali itu belum dikalungkan dengan alasan menunggu acara pembukaan PON.

Tidak instan

Dalam sambutannya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan, prestasi tinggi di olahraga bukan dicapai dengan jalan singkat atau instan, melainkan harus dengan cara pembinaan berjenjang dan berkelanjutan. Dengan begitu, prestasi yang diraih akan dapat menjadi parameter bagi keberhasilan pembinaan olahraga nasional.

Lebih jauh, Susilo mengatakan, PON yang diselenggarakan empat tahun sekali itu diharapkan menjadi barometer untuk mengukur keberhasilan pembinaan olahraga secara berkesinambungan di daerah hingga nasional. Selanjutnya, keberhasilan pembinaan itu nantinya akan tecermin dengan teraihnya prestasi di arena internasional, seperti SEA Games, Asian Games, dan Olimpiade. ”Karena itu, saya berpesan kepada semua atlet, bertandinglah secara sportif, pecahkan rekor nasional atau jika mampu internasional. Jadilah yang tercepat, tertinggi, dan terkuat sehingga dapat mengharumkan nama bangsa di dunia internasional,” ujar presiden.

Ditambahkan, PON XVII 2008 ini bertepatan dengan 100 tahun Kebangkitan Nasional. Hal itu seharusnya menjadi momentum bagi kebangkitan olahraga nasional agar dapat berjaya, tidak hanya di pentas nasional tetapi juga internasional.

Pengamanan ketat

Pengamanan yang dilakukan oleh aparat keamanan gabungan dari Kepolisian Daerah Kalimantan Timur dan Komando Daerah Militer VI Tanjungpura terhadap kontingen cukup ketat. Menurut para petugas keamanan, hal itu dilakukan untuk menghindari kecolongan seperti saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghadiri peringatan Hari Keluarga Nasional di Provinsi Maluku beberapa waktu lalu. Saat itu, penari cakalele sempat mengibarkan bendera Republik Maluku Selatan.

”Kami tidak ingin kecolongan seperti itu lagi. Protapnya sekarang seperti itu,” kata petugas keamanan tadi.

Selain memeriksa isi tas secara acak, para petugas keamanan juga memeriksa berbagai bendera yang digunakan kontingen pada pelaksanaan parade. Dengan saksama, para petugas keamanan bersenjata lengkap memeriksa satu per satu bendera yang digunakan, termasuk bendera kecil yang akan dibawa oleh kontingen Provinsi Jambi.

Karena kurangnya koordinasi antarpanitia, sebagian atlet yang ingin mengikuti acara pembukaan justru tak mendapat tempat duduk di stadion. Para atlet sebuah tim dari Papua Barat memilih duduk-duduk di tangga dekat kantin pintu D. Mereka mengaku sudah tiba di stadion sekitar pukul 15.00 Wita.

Manajer tim memilih mengajak para atlet pulang ke tempat tinggal mereka. ”Sebenarnya bisa saja masuk ke dalam, tetapi penuh sekali. Kami tak tahu, ada tidak pintu khusus untuk atlet. Kami tak mendapat informasi cukup dari panitia, bahkan untuk datang ke sini pun kami sewa mobil sendiri. Kalau tahu begini, lebih baik kami tak berangkat ke sini,” kata manajer yang minta tak disebutkan namanya itu.

Atlet lebih banyak

Jumlah atlet yang mengikuti PON XVII kali ini, 7.608 atlet dari 33 provinsi, jauh lebih besar daripada penyelenggaraan PON XVI empat tahun lalu di Sumatera Selatan yang diikuti sekitar 6.000 orang dari 30 provinsi. Bahkan, jika dilihat jumlah ofisial yang kali ini menyertai atlet pada PON XVII, yaitu 3.691 orang, itu saja hampir sama dengan jumlah atlet pada PON XII di Jakarta tahun 1989 yang 3.912 atlet. Jika dijumlahkan seluruh anggota kontingen dengan wasit, dewan hakim, technical delegate, dan tenaga teknis, peserta PON di Kaltim ini mencapai jumlah lebih dari 13.000 orang.

Jumlah atlet terbanyak datang dari tuan rumah, Kaltim, dengan 1.020 orang yang mengikuti seluruh 43 cabang olahraga, seperti juga Jawa Timur. Kontingen andalan lain tidak mengikuti semua cabang yang diperlombakan. DKI Jakarta dan Jawa Barat mengikuti 42 cabang, sedangkan Jawa Tengah hanya 40 cabang.

Dibandingkan dengan PON XVI, yang mempertandingkan 41 cabang olahraga dan memperebutkan 625 medali emas, 625 perak, dan 790 perunggu; PON di Kaltim ini juga lebih besar. Jumlah cabang olahraga yang dipertandingkan naik menjadi 43 cabang dan medali yang diperebutkan meningkat menjadi 749 medali emas, 749 perak, dan 954 perunggu.

Pada PON XVI, DKI Jakarta menjadi juara umum dengan perolehan 141 medali emas, 111 perak, dan 114 perunggu. Prestasi DKI Jakarta itu diraih dengan menggusur Jatim yang pada PON XV 2000 di kandang sendiri berada di posisi teratas dengan 132 emas, sementara DKI Jakarta hanya 116 emas. Padahal, sejak PON VII di Surabaya tahun 1969, DKI selalu menjadi juara umum.

Selama 20 tahun antara PON VII 1969 dan PON XII di Jakarta 1989, tiga besar peraih medali selalu diisi DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Barat secara berurutan. Baru pada PON XIII di Jakarta 1993, Jabar mengungguli Jatim hingga PON XIV di Jakarta 1996. (lsd/han/iya/riz/mhd/fit)

Share on Facebook
Nilai 5 A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: