
![]() |
|
|
KOMPAS/HERU SRI KUMORO / Kompas Images
Karyawan PT Danliris Sukoharjo, Jawa Tengah, membersihkan mesin pemintal benang yang tidak beroperasi akibat pemadaman listrik secara bergilir, Senin (7/7). |
Sonya Hellen Sinombor dan Idha Saraswati
Sepi melingkupi kawasan pabrik tekstil PT Danliris di Kampung Banaran, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Senin (7/7) sekitar pukul 14.00. Di dalam pabrik gelap dan pengap. Hanya ada dua orang yang sedang membersihkan mesin pemintal.
Suasana di pabrik kayak kuburan. Pabrik tidak berproduksi,” ujar Direktur Umum PT Danliris Djoko Santosa. Pabrik tekstil berskala besar itu mengekspor pakaian jadi dan tekstil ke Amerika Serikat, Eropa, Turki, Korea Selatan, Jepang, dan Australia. Investasi miliaran rupiah itu sekarang terganggu pemadaman listrik bergilir. Sekitar 5.000 karyawan terpaksa diliburkan menyusul pemadaman sementara aliran listrik dari PT PLN.
Pemadaman berlangsung selama delapan jam, mulai pukul 08.00 hingga 16.00. Manajer PT PLN Area Pelayanan Jaringan Surakarta J Wahjono beralasan, pemadaman dilakukan karena ada pekerjaan jaringan yang sudah sesuai dengan jadwal.
Sejak Mei, krisis listrik ini amat merugikan industri kecil, menengah, hingga besar di Jateng. Tanggal 27 Mei, PLN Jateng-DIY mengumumkan pemadaman bergilir itu karena defisit pasokan listrik sistem interkoneksi Jawa-Bali. Deputi Manajer Komunikasi dan Bina Lingkungan PT PLN Distribusi Jateng dan DIY Sri Nugroho Adiwibowo menjelaskan, sejumlah pembangkit listrik tak beroperasi karena pasokan energi primernya terbatas. Pembangkit listrik yang disebut Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Muara Tawar, PLTGU Tambak Lorok, PLTGU Grati, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Cilacap, PLTU Tanjung Jati, serta Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Saguling, dan PLTA Cirata.
Celakanya, listrik terkait dengan industri-industri tekstil dan produk tekstil (TPT) yang padat karya. Data Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jateng menunjukkan, ada sekitar 200 perusahaan di wilayah itu. Karena itu, wajar jika pabrik tekstil, seperti PT Batam Textile Industry, di Ungaran dan Kabupaten Semarang yang merupakan penghasil jeans cemas dengan krisis listrik ini.
Daryono, Manajer Personalia dan Bagian Umum PT Batam Textile Industry, mengatakan, hampir seluruh proses produksi pabrik tekstil bergantung pada pasokan listrik. ”Jika mesin terhenti tiba-tiba, kain setengah pasti rusak.”
Ribuan pengusaha sektor lain juga ikut dirugikan PLN. Tanya saja kepada Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng. PT Multi Mina Mandiri (M3), perusahaan pengimpor ikan teri nasi kering ke Jepang, di Rembang, juga merugi. Penanggung jawab PT M3 Kusnadi mengatakan, ”Listrik berarti pendingin ikan, yang akan menentukan penyortiran kualitas ikan. Kalau listrik padam, seluruh rangkaian seleksi itu berantakan. Pengusaha bisa nangis.”
Saryono, pemilik perusahaan bulu mata palsu PT Tiga Putra Perkasa di Kabupaten Purbalingga, mengakali krisis listrik dengan mengalihkan jadwal kerja 350 karyawannya dari Senin ke Minggu guna menghindari listrik padam tiap hari Senin.
Pengusaha ikan segar dan kering di pusat industri ikan Desa Banyudono, Kecamatan Rembang, mengakalinya dengan membeli es balok untuk menjaga kesegaran ikan. ”Kami hanya mengejar, jangan sampai ikan busuk,” kata Akong (50), pemilik UD Maju Bersama. ”Dulu PT Batam Textile Industry punya genset. Sejak lima tahun lalu kami beralih total ke PLN karena biaya lebih murah. Lha, kok sekarang begini,” kata Daryono.
Kepala Bidang Pengawasan dan Pengendalian Badan Penanaman Modal (BPM) Jateng Nunik Rahayu mengungkapkan, sudah lima investor yang menunda investasinya di Jateng sejak krisis listrik Mei lalu. Kebanyakan yang bergerak di industri tekstil.
Nunik sudah meminta agar Gubernur Jateng Ali Mufiz mencari jalan keluar dengan mempertemukan PT PLN dengan kalangan pengusaha.
Juni lalu, Apindo Jateng, API Jateng, dan PT PLN membuat kelompok kerja dan kesepakatan. Anggota API dan Apindo Jateng bersedia secara sukarela mengurangi pemakaian daya dan pihak PT PLN berjanji untuk tidak memadamkan aliran listrik secara sepihak. Kenyataannya, pemadaman listrik bergilir ternyata tidak sesuai dengan jadwal pemadaman listrik yang diberikan.
API Jateng pun sudah melayangkan protes ke PT PLN, 27 Juni lalu. ”Sudah lama kami ingin mengadakan forum pertemuan itu agar PLN juga melihat dampak kerugian pada kalangan pengusaha,” ujar Ali Mufiz.
Ia menjadi lebih khawatir lagi jika pemadaman listrik itu membuat investasi pengusaha jadi terpendam.(KUM/HEN/MDN/WHO)