
![]() |
Surat untuk Redaksi YTH hendaknya dilengkapi fotokopi KTP/SIM/Paspor yang masih berlaku. Kompas tidak mengembalikan surat-surat yang diterima.
***
Terjepit di antara Kepentingan Bank dan Pengembang
Saya pembeli satu unit apartemen bersubsidi Gading Nias Residences dari pengembang PT Agung Podomoro Group. Pembelian melalui kredit pemilikan apartemen dari Bank DKI sesuai dengan rekomendasi bagian pemasaran, Susan. Bank DKI termasuk bank yang berpartisipasi memberikan fasilitas kredit pemilikan apartemen dengan subsidi bunga sebesar 2,5 persen.
Pada 13 Juni lalu, saya melakukan akad kredit dengan Bank DKI. Saat itu baru saya tahu bahwa bunga kredit yang dikenakan kepada saya dan juga kepada konsumen lain adalah bunga nonsubsidi alias bunga komersial yang besarnya lebih dari 10 persen per tahun. Ini tidak sesuai dengan informasi awal yang saya terima bahwa dengan fasilitas kredit pemilikan apartemen melalui Bank DKI dan Bank BTN, saya akan mendapat bunga khusus dengan subsidi hingga 2,5 persen per tahun.
Dengan bunga nonsubsidi, besar angsuran yang harus saya bayar membengkak hingga mencapai Rp 1.660.000 per bulan untuk masa kredit 10 tahun. Bila dihitung, besar bunga kredit yang dikenakan kepada saya mencapai 10,65 persen per tahun. Lalu saya membandingkannya dengan pengalaman seorang teman yang juga membeli unit serupa, tetapi melalui KPA dari bank lain dengan kondisi kredit yang sama. Angsurannya Rp 1.465.000 per bulan atau selisih Rp 200.000 per bulan dibandingkan dengan angsuran saya.
Mengapa bunga kredit Bank DKI jauh lebih besar daripada bank lain yang sama-sama merupakan bank partisipasi dalam program apartemen bersubsidi? Mengapa pada saat akad kredit akan dilaksanakan pihak Bank DKI baru menjelaskan kepada konsumen mengenai pengenaan bunga nonsubsidi? Bagaimana tanggung jawab moral Agung Podomoro Group selaku pengembang dan pihak yang merekomendasikan kredit via Bank DKI? Posisi konsumen terjepit di antara kepentingan pihak bank dan pengembang.
Lies Kurnia Jl Pulo Asem Utara X/47, Pulogadung, Jakarta Timur
Perbedaan Tanggal Kedaluwarsa
Saya anggota Century Healthcare dengan nomor kartu 0003748010. Pada 14 Juni lalu, saya membeli suplemen Squa Plus (isi 100) produk Sea-Quill di Century Healthcare, Plaza Buaran, Jakarta Timur. Di rumah, saya amati kode produksi dan tanggal kedaluwarsa di bagian bawah dus berbeda dengan yang tertera di bagian bawah botol.
Pada dus tertera kode produksi SQ 022307 Exp Date Feb 11, sedangkan pada botol tertera SP072407 Exp 07/10. Ini sangat membingungkan. Saya hanya bisa berasumsi, ada pemalsuan. Mohon tanggapan pihak terkait. Saya tidak mau mengonsumsi produk palsu.
Haryono Bumi Kelapa Dua, Jl Bidar 4/2, Tangerang
Indosat Tak Kembalikan Pulsa
Saya pengguna kartu IM3 (085629746xx) dari Indosat. Sudah lebih dari empat tahun. Tanggal 12 Juni pukul 05.33 saya telepon ke nomor Mentari dengan durasi 19 menit 16 detik. Pulsa terpotong normal. Dengan saldo pulsa sekitar Rp 92.000, kemudian saya menelepon ke nomor IM3 pukul 06.04. Pada menit ketujuh mati dengan sendirinya.
Karena masih ada yang ingin saya bicarakan, saya menelepon lagi. Alangkah terkejutnya saya mendengar suara operator, ”Maaf pulsa Anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini”. Saya cek, ternyata pulsa Rp 0,00. Hanya dalam tujuh menit, pulsa Rp 92.000 habis.
Saya menghubungi operator. Penerimanya bernama Lusi dan berjanji akan mengembalikan pulsa saya dalam 7 x 24 jam. Sampai saat ini belum ada pengembalian pulsa seperti yang dijanjikan.
Ali Wijayanto Kebasen RT 008 RW 003, Banyumas, Jateng
Ada Masalah di ATM Bersama
Saya nasabah BNI Cabang Tangerang dengan nomor rekening 0137646006. Pada 1 Juli pukul 10.00, saya melakukan transfer dari ATM BNI dengan fasilitas ATM Bersama ke rekening saya sendiri di Bank Bumi Putera. Jumlahnya Rp 1.336.000. Saat itu transaksi di ATM tidak berhasil. Tak lama kemudian saya mencetakkan buku tabungan di BNI dan dana rupanya terpotong. Saya cek di buku Bank Bumi Putera saya, dana tersebut tidak masuk.
Saya menghubungi Sentral Pengaduan BNI. Penjelasannya, dana tersebut merupakan transaksi normal dan saya harus menunggu hasil dalam 14 hari. Ini sangat merugikan nasabah. Janji tepat waktu dan online, ternyata 14 hari.
Juliani Jl Delima Jaya I, Rempoa, Tangerang
PLN Merusak Jalan
Saat ini sedang dilaksanakan penanaman kabel PLN di bawah jalan umum. Dimulai dari PLN Gandul, Depok, dan konon berakhir di Pondok Indah, Jakarta Selatan. Sudah sekitar tiga bulan pengguna Jalan Cinere Raya terganggu karena jalan beraspal telah dirusak dengan lebar sekitar 1,5 meter oleh proyek PLN.
Secara kasat mata dapat terlihat bahwa mutu penutupan bekas galian sangat buruk. Jauh di bawah mutu sebelum jalan itu dirusak PLN. Tak lama lagi proyek PLN itu akan merambah Jalan Karang Tengah, Jakarta Selatan. Terkait hal itu, Wali Kota Jakarta Selatan agar segera menurunkan tim teknis Dinas PU untuk mengkaji mutu penutupan kembali Jalan Cinere Raya oleh PLN.
PLN rupanya, selain menggilir pemadaman, juga merusak jalan.
Soebagyo Jl Buana Pesanggrahan I, Cinere, Depok
Rumah Zakat Mengecewakan
Tertarik dengan informasi dan promosi Rumah Zakat tentang mudahnya membayar zakat dan program-program penyaluran dana zakat masyarakat, saya dan suami memutuskan menggunakan organisasi ini sebagai penyalur zakat mal dan kurban kami. Penyebaran promosi dan informasi oleh Rumah Zakat sangat intensif dan beragam: mulai dari spanduk di sisi jalan strategis, poster, pamflet di musala kantor, iklan TV, sampai internet.
Melalui situs resmi www.rumahzakat.org, saya mendapatkan informasi berbagai program penyalur zakat seperti bantuan ambulans bagi orang tak mampu, paket pendidikan, paket peduli pangan, paket bantuan bencana alam, paket air bersih, dan masih banyak lagi.
Kurun pertama, sekitar September 2007, kami membayar sebagian zakat mal kami melalui transfer via BCA sejumlah Rp 8.010.000 dengan rincian penyaluran dana untuk berbagai program dalam bentuk paket. Berbulan-bulan kami tak pernah mendapat laporan yang dijanjikan. Hanya beberapa kali petugas yang mengaku dari Rumah Zakat menelepon menjanjikan laporan akan datang dan menawarkan mengikuti program penyaluran dana yang lain.
Sri Redjeki Jl Letnan Sutopo Komp III/B5/G, BSD City, Tangerang
Hati-hati Business Club Executive Card
Pada 29 April lalu, Business Club Executive Card membujuk saya melalui telepon bahwa saya akan mendapat banyak fasilitas dan manfaat dengan menjadi anggota BC VIP. Tertarik dengan penawaran itu, saya transfer Rp 2.950.000 pada 3 Mei.
Saya telah menerima satu bundel BC dengan kartu tanpa nama, tanpa nomor, dan tanpa kode batang dengan masa kedaluwarsa 05/09. Saya tidak mendapat manfaat dari BC karena tiga lembar voucher tiket pesawat Jakarta-Surabaya tidak berlaku bagi saya yang tinggal di Yogyakarta. Kalau berniat baik, BC tentu memerhatikan tempat tinggal saya sehingga mengeluarkan voucher tiket Jakarta-Yogyakarta dan sebaliknya atau Yogyakarta- Surabaya dan sebaliknya.
Saya sangat kecewa dengan penawaran BC yang tidak memberi informasi lengkap. Berhati-hatilah dengan tawaran BC, terutama Anda yang bermukim di Bandung, Jakarta, Semarang, Surabaya, Jember, dan Malang.
Ermi Suhasti Condongcatur, Sleman, Yogyakarta
Internet Speedy Mengecewakan
Saya pelanggan Telkom Speedy yang ada di Bandar Lampung dengan nomor 1118021 00317. Saya menggunakan layanan internet tersebut karena waktu yang diperlukan untuk berjelajah dan mengunduh data sangat cepat dibandingkan dengan Telkomnet instan.
Akhir-akhir ini saya kecewa. Sejak 1 Juni, kecepatan jaringan internet Speedy di tempat saya tidak bisa diandalkan lagi. Waktu yang saya perlukan membuka halaman web dan mengunduh data kadang lebih lambat dibandingkan waktu layanan Telkomnet instan.
Dengan menggunakan layanan www.speedtest.net, saya tahu kecepatan mengunduh hanya 89 kbps-245 kbps. Artinya, kecepatan jaringan internet Speedy yang saya dapatkan hanya hingga 300 kbps. Angka ini sangat jauh di bawah yang diiklankan: hingga 1.024 mbps. Hal ini sudah saya laporkan ke bagian gangguan layanan Speedy, tetapi belum ada perbaikan.
Marko Tridarma Jl Pagar Alam 229 LK III, Segalamider, Bandarlampung
Kesalahan Proses Pindah Nomor
Menanggapi surat Petrus Wibisono di Kompas (21/6) ”Kartu Fren Mengecewakan”, kami menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami. Telah terjadi kesalahan saat proses perpindahan nomor Fren Bapak Petrus dari layanan prabayar menjadi pascabayar. Kami telah melakukan koreksi atas kesalahan tersebut. Yang bersangkutan tidak perlu melakukan pembayaran atas tagihan yang telah dibebankan.
Tim layanan pelanggan kami telah menjumpai Bapak Petrus dan menjelaskan hal ini. Yang bersangkutan dapat menerima penjelasan kami. Layanan Fren Pascabayar telah kembali dapat dinikmati. Informasi lebih lanjut dapat diperoleh dengan menghubungi pusat pemanggilan kami di 888 dari Fren atau 0888 185 6868 dari nomor PSTN/seluler lain.
Dodie Putranegara Corporate Communications PT Mobile-8 Telecom Tbk
Telah Dikoreksi ke Rekening
Sehubungan dengan surat Abdul Fatah di Kompas (1/7) ”ATM BCA Merugikan Nasabah”, kami terangkan bahwa petugas BCA telah menjelaskan kepada kepada Bapak Abdul Fatah pada 2 Juli lalu bahwa telah dilakukan koreksi ke rekening dimaksud. Permasalahan telah dipecahkan.
Dwi Narini Manajer PT BCA Tbk Sekretariat Perusahaan
Biro Humas Memiliki Standar Kebersihan
Menanggapi surat Ibu Luly di Kompas (21/6) ”Ulat dan Salad di Hoka Hoka Bento”, kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Kami langsung menghubungi yang bersangkutan untuk menjelaskan permasalahan yang terjadi. Beliau dapat menerima penjelasan sehingga permasalahan sudah selesai. Kami memiliki standar kebersihan yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.
Luky Setyaka PT Eka Bogainti, Jakarta