
![]() |
Industri Kreatif ”Quo Vadis”?
Juli 2007 saya dan seorang seniman dari Malaysia diundang Artist In Residency Program of Malihom and ABN AMRO di Penang, Malaysia. Program itu ditujukan bagi seniman internasional dan berjalan selama enam bulan.
Karena saya juga pematung, mereka ekstra membangun satu bengkel dengan peralatan las cukup memadai. Tujuan utama program mempertemukan seniman internasional dengan seniman lokal agar terjadi interaksi.
Periode enam bulan itu selalu ditutup dengan pameran bersama di galeri ABN AMRO Penang. Setiap tiga periode, yang artinya enam artis, beberapa karyanya juga dipamerkan di Kuala Lumpur dan Singapura.
Kebetulan Alpha Utara Gallery di Penang telah mengundang saya berpameran tunggal di sana pada April lalu. Setelah pameran selesai, karya saya berupa patung dari besi bekas dan lukisan dikirim via laut menuju Tanjung Priok, Jakarta.
Sejak 22 Juni barang itu tiba di Tanjung Priok, tetapi sampai kini belum bisa dikeluarkan. Berbagai macam surat diminta oknum EMKL, mulai dari surat undangan galeri sampai cap imigrasi Malaysia yang membuktikan saya pernah ke negara itu.
Meski sudah saya berikan, masih saja setiap hari orang itu minta hal lain. Bahkan surat undangan pameran dari Alpha Utara Gallery harus dilegalisasi KBRI setempat.
Sampai hari ini saya dapat kabar, biaya gudang di Tanjung Priok membengkak menjadi Rp 12 juta. Jadi, saya bisa mengeluarkan karya saya dengan cepat asal bayar Rp 65 juta kepada sebuah perusahaan EMKL yang akan mengurus.
Saya tanya balik, bila uang itu saya transfer kepada mereka, apakah ada kepastian barang saya akan sampai ke rumah?
Mereka menjawab, pokoknya transfer dulu karena uang itu untuk biaya operasional agar proses pengeluaran lancar.
Uang sebanyak itu di luar batas impian saya. Apalagi itu uang tidak resmi dan tidak pernah ada yang bisa memberikan garansi bahwa barang akan sampai ke rumah saya.
Anehnya, semakin mereka tahu saya tidak paham mengenai urusan semacam itu, semakin mereka gunakan kesempatan sebaik-baiknya untuk mendapat uang sebanyak-banyaknya.
Kalau begini kinerja penjaga pintu gerbang di negeri ini, bagaimana kita akan bersaing dengan seniman negara tetangga?
Ibu Mari Pangestu, Menteri Perdagangan, yang kita cintai ini, sedang giat memperkenalkan industri kreatif. Bagaimana kita bisa memperkenalkan hasil kreativitas anak bangsa kepada dunia apabila pintu gerbangnya kecil sekali dan selalu dipersulit agar semakin sempit?
Adakah yang bisa membantu saya, seniman yang buta sama sekali mengenai urusan semacam ini? Teguh Ostenrik Seniman, Tinggal di Jakarta
***
Gembok Koper Dirusak di Bandara Soekarno-Hatta
Baru-baru ini saya tiba dari luar negeri dan berada di Bandara Soekarno-Hatta untuk menunggu bagasi keluar hampir dua jam lamanya. Saya melihat banyak bagasi koper para tenaga kerja wanita (TKW) yang dirusak gemboknya. Ternyata teman saya juga gemboknya hancur dan barangnya hilang, sedangkan gembok koper saya pun dicoba untuk digergaji, tetapi tidak berhasil. Ada banyak bekas guratan gergaji.
Saya jadi teringat peristiwa kedatangan saya sekitar tiga bulan lalu dari luar negeri, ketika gembok koper tujuh teman saya dirusak. Saya tidak bisa membayangkan bisa-bisanya pihak bandara yang dikelola oleh Angkasa Pura mempekerjakan para pencuri.
Tidak heran koper keluar lama sekali karena ada petugas yang berusaha merusak gembok koper dan, menurut mereka, ada barang yang menarik untuk dicuri. Ketika melapor ke Bagian Kehilangan (Lost and Found), mereka bahkan menuduh bahwa pihak perusahaan penerbangan tidak bertanggung jawab.
Apa kata turis asing yang berwisata ke Indonesia? Kasihan nasib para TKW yang barangnya hilang itu. Apakah kita harus senang atau waswas jika tiba di Jakarta karena takut barang kita hilang, yang harusnya aman di koper yang tergembok? Bagaimana pihak Angkasa Pura menangani masalah keamanan bagasi untuk kedatangan dalam dan luar negeri? Caroline Jalan Taman Bendungan Jati, Tanah Abang, Jakarta
***
Perbaikan Compaq Mengecewakan
Saya pengguna laptop Compaq Presario V 3000 seri V3430TU(SN.2CE7291NHO) dan mengalami kerusakan LCD tampilan awal putih. Pada 26 Mei 2008 saya membawa laptop itu ke tempat saya membeli di MDP Palembang. Pihak toko mengatakan bahwa LCD akan dikirim ke Jakarta untuk diganti dengan yang baru mengingat masih dalam masa garansi resmi yang tinggal dua bulan lagi (dibeli pada September 2007).
Setelah selesai diperbaiki, laptop saya ambil pada 25 Juni 2008. Namun, tidak lama kemudian laptop mengalami kerusakan yang sama, tetapi tampilannya berubah menjadi hitam. Laptot itu diperbaiki lagi, tetapi saya selaku konsumen dirugikan oleh pelayanan service Compaq. Walaupun sisa garansi saya sebentar lagi habis, bukan berarti pihak Compaq melepaskan tanggung jawabnya begitu saja. Mohon perhatian dari Compaq Indonesia. Reza Kerisnadi Jalan Kapten Hasan Basri RT 01 RW 01, Prabumulih, Sumatera Selatan