Rabu, 10 Februari 2010
OBITUARI
Santi, Tiada Lagi di Antara Kita

Senin, 14 Juli 2008 | 03:00 WIB

"Teman-teman, Santi telah meninggal dunia," demikian bunyi pesan singkat di telepon genggam.

Tiur Santi Oktavia (29), yang menulis di Kompas, dengan inisial TAV, akhirnya harus menyerah setelah tujuh bulan terbaring di rumah sakit, berjuang melawan kanker yang kali ini menggerogoti hatinya. Rencananya Santi dimakamkan di TPU Pondok Kelapa, Jakarta, hari Senin ini pukul 16.00.

Bukan sekali ini Santi berjuang melawan kanker. Tahun 2004, Santi berjuang melawan kanker usus. Rangkaian kemoterapi yang menyakitkan dengan tabah dijalani. ”Tenang, masih banyak keajaiban,” katanya.

Lulusan ITB Jurusan Planologi ini bergabung dengan Kompas sejak 2003. Begitu diangkat, ia ditempatkan di Malang, lalu dipindahkan ke Jakarta, di Desk Ekonomi, meliput perbankan, ekonomi makro, dan bursa.

”Santi itu selalu gembira, tidak terbayang ia sudah sakit sejak empat tahun lalu. Santi cepat belajarnya. Tulisannya tak pernah membuat kesal sumbernya,” ujar Direktur Bursa Efek Indonesia Eddy Sugito, yang langsung ke Rumah Sakit Mitra Kelapa Gading, begitu mendengar berita duka tentang Santi.

Santi meliput ke sana kemari dengan sepeda motornya. Suatu kali motornya diserempet motor lain. Ia terpental dan kakinya terluka. ”Santi tergopoh-gopoh datang ke acara klien saya dengan kaki luka, dan minta maaf karena terlambat datang, padahal semua orang maklum jika ia tidak datang karena kecelakaan itu,” ujar Rahmi, konsultan humas yang menangani emiten bursa.

Santi dipersunting Daniel Siregar, fotografer Kontan, awal Desember 2007. Hanya dua pekan ia menikmati masa bahagia sebagai suami istri. Setelah pulang berbulan madu, Santi mengeluh masuk angin dan sakit perut. ”Ada jaringan kanker di hati,” kata Santi. Keluarganya membawanya berobat ke Guangzhou, China.

”Dokter membuat saluran pembuangan racun dari hati,” tutur Santi sepulang dari Guangzhou. Hingga akhir hayatnya, ke mana-mana ia harus membawa kantong pembuangan racun.

Santi adalah pribadi yang perfeksionis. Baginya, setiap karya jurnalistik adalah hasil pergulatan panjang, dengan skeptisisme di setiap kalimat yang ditulis.

Selamat jalan, Santi....” (MAS/JOE)

Share on Facebook
Nilai 5.33 A A A
Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
ulli @ Selasa, 15 Juli 2008 | 14:13 WIB
selamat jalan teman baikku... jiwa yang bebas merdeka, menuju firdaus yang kekal, tempat dimana hanya ada kebahagiaan, sampai bertemu kembali sahabatku... i'll be missing you

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: