
![]() |
Oleh D Zawawi Imron
Di antara teman-teman saya, dalam menghadapi pemilihan Gubernur Jawa Timur ada yang sibuk mencari tambahan jumlah konstituen calon yang dijagokannya. Sebagai pendukung setia dan fanatik, mereka harus berkiprah sekaligus mencari kalimat-kalimat yang tepat agar orang-orang yang memihak lawan bisa berbalik arah untuk satu pilihan dengan ”kita”.
Anehnya, kalau saya bertemu orang di bus atau warung kopi, setiap ditanya tentang pilgub, ada yang dingin-dingin saja. Bahkan ada yang bertanya, ”Kok saya disuruh memilih, saya kan tidak kenal dengan calon-calon itu. Kalau melihat gambarnya saja kan belum berarti kenal?”
Yang lain ada yang berucap, ”Buat apa saya memilih, siapa pun menjadi gubernur, kalau saya tak bekerja tak akan makan.” Sikap itu menunjukkan betapa penting sosialisasi pilgub kepada masyarakat awam. KPU daerah dan pemerintah, saya kira, sudah menyampaikan kepada masyarakat sesuai kemampuan, tetapi massa mengambang dengan aneka variasinya masih banyak.
Orang yang dingin dan tak bergairah menghadapi pilgub itu barangkali tidak semua bermaksud menjadi golput. Kalau mereka diberi penjelasan masuk akal, sangat mungkin untuk menjatuhkan pilihannya kepada salah seorang calon.
Itu artinya kesempatan menambah jumlah konstituen bagi setiap cagub masih luas. Massa yang masih mengambang itu perlu digarap dengan baik agar suaranya tak hilang tanpa bekas. Untuk mengajak dan meraup ”simpati nurani” itu diperlukan tim sukses yang bisa membaca hati nurani rakyat. Faktor bahasa, idiom kerakyatan, bahkan bahasa lokal—yang tidak sekadar bahasa politik—sangat membantu meraih simpati.
Apalagi pada era sekarang, warga sudah banyak yang pandai menakar ucapan seseorang. Masyarakat sudah bisa memilih ucapan dan jargon kampanye, mana yang sungguh-sungguh dan mana kalimat basa-basi, bahasa yang hanya indah di lidah tapi tak akan bisa dilaksanakan.
Sebuah gagasan dan janji baru akan konkret setelah dilaksanakan. Karena itu, bagi seorang calon, meraih kemenangan itu baru sepertiga dari kemenangan. Kemenangan yang total ialah nanti pada akhir masa jabatannya. Jika rakyat merasa diperhatikan nasibnya dan berhasil disejahterakan, itulah kemenangan hakiki seorang gubernur. Kemenangan rakyat sekaligus kemenangan demokrasi.
Artinya, persiapan dan persediaan energi pascakemenangan dan pelantikan nanti harus dilengkapi dengan kecerdasan, kebijakan, strategi, sistem, serta tindakan untuk mengatasi semua persoalan rakyat. Sebagai wilayah dengan penduduk terbanyak di Indonesia, Jatim membutuhkan gubernur-wakil gubernur kredibel. Tidak hanya berjiwa penguasa, tetapi benar-benar berjiwa pemimpin yang siap meneteskan air mata untuk penderitaan rakyatnya.
Ingat, calon yang menang, tetapi tidak bisa memenangi kehendak rakyat, tidak akan menjadi pemimpin yang dihormati. Kandidat yang kalah harus menerima dengan lapang dada bahwa itulah kenyataan kepercayaan rakyat kepadanya, yang harus diterima dengan legawa.
D Zawawi Imron Budayawan dan Penyair, Tinggal di Sumenep