Minggu, 7 September 2008
WTO Ancam Lapangan Kerja
Negara Berkembang Diingatkan agar Tak Terjebak
Sabtu, 19 Juli 2008 | 01:15 WIB

Geneva, Jumat - Banyak negara miskin ketakutan akan kehilangan lapangan kerja dan pendapatan akibat persetujuan perdagangan global lewat Putaran Doha (WTO). Sekitar 30 menteri perdagangan dari berbagai negara, baik berkembang maupun maju, berusaha mencapai kesepakatan itu pekan depan di Geneva, Swiss.

Hingga tahun ketujuh pembicaraan mengenai Putaran Doha, masih belum ada titik terang menuju kesepakatan di antara para anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Namun, dalam pertemuan pekan depan muncul tawaran baru, yakni akses lebih besar bagi produk pertanian negara berkembang ke negara maju. Sebaliknya, negara berkembang juga membuka pasar lebih lebar bagi produk-produk negara maju.

”Banyak perunding dari negara berkembang berpikiran, apakah kesepakatan baru itu lebih baik ketimbang tidak berkesepakatan sama sekali?” ujar Timothy Wise, peneliti ekonomi dari Universitas Tufts, di Geneva, Jumat (18/7).

Ada kepercayaan konvensional bahwa kenaikan ekspor akan membantu mengurangi kemiskinan, dengan menaikkan pendapatan di negara-negara berkembang. Namun, secara empiris, negara berkembang lebih dicekoki arus masuk produk negara maju ketimbang kemampuan mengekspor ke negara maju.

Beberapa ekonom beranggapan kesepakatan Putaran Doha membuka akses perdagangan secara tergesa-gesa. Hal itu menyebabkan pasar negara berkembang rentan terhadap aliran deras barang-barang dan jasa asing yang murah. Tentu saja hal ini akan membuat negara berkembang menjadi semakin sulit.

Wise memperkirakan, pemerintah dari negara miskin akan kehilangan empat kali lipat pada pendapatan bea cukai dibandingkan dengan apa yang mereka dapat dari peningkatan perdagangan atau dari potensi ekspor.

Ini kontras dengan misi Putaran Doha, yang diluncurkan di Doha, Qatar, pada 2001. Tujuan Putaran Doha adalah membuat perdagangan dunia bisa meningkatkan pertumbuhan ekspor negara berkembang sebagai upaya mengurangi kemiskinan.

Sedikit keuntungan

Segera setelah pembicaraan mengenai Putaran Doha itu dimulai, Bank Dunia memperkirakan kesepakatan itu, jika berhasil, akan menaikkan pendapatan global sebesar 832 miliar dollar AS. Kemudian Bank Dunia merevisi perkiraannya menjadi 96 miliar dollar AS untuk mencerminkan proposal yang tidak terlalu ambisius dalam pembicaraan itu.

Ini kontras dengan hasil penelitian dari Sistem Riset dan Informasi untuk Negara Berkembang. Disebutkan, hanya sekitar 16 miliar dollar AS atau lebih kecil yang akan dinikmati oleh negara- negara miskin dari kesepakatan baru mengenai perdagangan global ini. Akan tetapi, negara-negara miskin ini juga akan mengalami kekurangan pemasukan sebesar 63 miliar dollar AS akibat penurunan tarif bea masuk.

Amy Barry dari yayasan Oxfam mengatakan, perunding negara berkembang harus bertahan dari tekanan soal janji-janji WTO karena aturan baru perdagangan global tidak akan seimbang. (Reuters/joe)

A A A
BERITA TERPOPULER

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort