Minggu, 7 September 2008
Tren Batik Palembang
Punya Keunikan Dibandingkan Batik dari Daerah Lain
Kompas/Wisnu Aji Dewabrata / Kompas Images
Anggota staf Hotel Horison Palembang menunjukkan salah satu pakaian wanita yang menggunakan batik Palembang. Batik Palembang memiliki kekhasan dibandingkan dengan batik daerah lain.
Sabtu, 19 Juli 2008 | 03:00 WIB

Palembang, Kompas - Dalam hal busana, Palembang tidak hanya dikenal melalui songket, tetapi juga melalui batik Palembang. Promosi batik Palembang terus dilakukan, baik di dalam negeri maupun luar negeri, untuk memperkenalkan batik Palembang dan sambutan yang didapat cukup menggembirakan.

General Manager Galeri Dian Pelangi, salah satu produsen dan galeri batik Palembang, M Taufan Rofiq mengutarakan, keunikan batik Palembang adalah warna merah yang mendominasi. Warna merah merupakan warna khas Sumatera Selatan seperti dipakai dalam pakaian pengantin maupun kostum penari tradisional.

Menurut Taufan, batik Palembang memang berasal dari Jawa yang dibawa ke Sumatera sekitar 100 tahun lalu. Akhirnya muncul pemikiran untuk mengadaptasi batik Palembang sebagai busana tanpa meninggalkan cita rasa batik Palembang.

Taufan mengutarakan, batik Palembang menggunakan bahan antara lain sutra, alat tenun bukan mesin (ATBM), organdi, jumputan, katun, dan blongsong. Adapun motif batik Palembang di antaranya kembang jepri, lasem, sisik ikan, gribik, encim, kembang, bakung, kerak mutung, sembagi, dan salahi.

”Kami juga memadukan songket dengan batik yang disebut batik songket. Hasilnya bukan sekadar songket atau batik saja, tetapi gabungan keduanya,” kata Taufan.

Menurut Taufan, dibandingkan dengan batik dari daerah lain seperti batik Riau, Jambi, atau Lampung, sebenarnya batik Palembang yang pertama dikembangkan sejak 17 tahun lalu.

Taufan mengatakan, songket memiliki beberapa kelemahan, yaitu sulit disimpan, berat, dan hanya bisa dikenakan pada acara tertentu saja. Sedangkan batik bisa dipakai dalam segala acara.

Menurut dia, orang Palembang ingin menampilkan cita rasa khas daerahnya. Itu sebabnya, batik dengan cita rasa Jawa kurang laku di Palembang.

”Pangsa pasar utama kami adalah perempuan, khususnya busana muslim. Kecenderungan kaum wanita ingin tampil trendi, namun bingung memakai busana seperti apa,” katanya.

Menurut General Manager Hotel Horison Palembang Choki Soesilo yang juga penggemar batik, batik lebih fleksibel dibandingkan dengan songket. Batik lebih simpel untuk oleh-oleh dan bisa dikenakan pria maupun wanita dalam segala kesempatan.

Mendapat apresiasi

Menurut Taufan, dibandingkan dengan batik dari Malaysia, batik Palembang masih lebih baik kualitasnya. Soal harga, batik Palembang juga jauh lebih murah dibandingkan dengan batik Malaysia karena upah tenaga kerja di Indonesia lebih murah. Harga bahan baku batik di Indonesia pun lebih murah daripada harga bahan baku di Malaysia.

”Batik Palembang ternyata mendapat apresiasi di dalam dan luar negeri. Kami beberapa kali mengadakan pameran di Malaysia dan mendapat sambutan positif,” ujar Taufan.

Taufan menuturkan, pihaknya juga berusaha mematenkan batik Palembang sebelum batik ini dipatenkan negara asing. Hal tersebut pernah terjadi pada songket Palembang yang dipatenkan oleh Malaysia. (WAD)

A A A
BERITA TERPOPULER

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort