
![]() |
Oleh Winarto Herusansono
Muhtadi (30), warga Kelurahan Karangjati, Wiradesa, Pekalongan, cekatan memainkan mesin obras. Ketrampilannya itu membuatnya bisa menyelesaikan pengobrasan tepian kain model celana jins kurang dari lima menit.
Dia bekerja di CV Bivi's Jins, usaha kecil garmen di Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, yang sudah dilakoni 15 tahun. Muhtadi mengaku, saat ini ia merasa senang karena order permintaan pakaian jadi tengah naik.
"Kalau order banyak, saya bisa membawa pulang penghasilan Rp 200.000 per minggu. Order naik kemungkinan karena biasanya tiga bulan menjelang puasa bulan Ramadhan banyak permintaan dari pelanggan," kata Muhtadi yang memiliki anak perempuan usia enam tahun.
Kalangan pengusaha dan perajin garmen yang kebanyakan menghasilkan celana panjang jins, baju, begitu pula perajin batik dan produk tekstil di Kabupaten dan Kota Pekalongan sudah hafal, empat bulan jelang Ramadhan adalah kebangkitan usaha mereka.
Bisnis membaik karena order pakaian terus mengalir, dari pedagang maupun pengusaha di sejumlah kota seperti Solo, Surabaya, Palembang, Bandung, dan kawasan pedagang Pasar Tanah Abang, Jakarta. Mereka membutuhkan stok pakaian banyak untuk menyambut Hari Raya Idhul Fitri 2008.
Sekarang ini saja, gencarnya permintaan pakaian dari pedagang luar kota, per minggu tak kurang 500 kodi dikirim dari Pekalongan. Kiriman itu menggunakan angkutan truk, satu truk membawa produk kurang lebih senilai Rp 100 juta, total perputaran uang bisa mencapai Rp 5 miliar hingga Rp 7 miliar per minggunya.
"Perajin berharap, peningkatan order pakaian tidak hanya karena menjelang Ramadhan nanti. Order akan makin meningkat, harapan bila ada pula kepedulian para politisi yang mulai giat kampanye. Jumlah politisi kan banyak di 34 partai politik peserta pemilu," kata perajin muda, M Hudaya asal Kranji, Pekalongan.
Kiprah politisi supaya peduli produk garmen dan batik asal Pekalongan, idenya mencuat saja pada obrolan santai ketika suatu sore sejumlah pengusaha muda berkumpul di tempat usaha Bivi's Jins di Kelurahan Paesan. Ada Imam Ismanto (Ketua Apindo Pekalongan), H Yusuf Achmad (Ketua Paguyuban Perajin Garmen Pekalongan Raya), Bivi Yusuf, M Hudaya, Nadinfiyanto, dan perajin muda Gatot Wibowo.
"Kalau Pak Soetrisno Bachir asal Pekalongan mau beli pakaian untuk dibagikan konstituen, waduh perajin sangat senang. Lha politisi lain juga bisa mengikutinya. Apa endak bisa kebiasaan politik uang diubah jadi sarung politik? Artinya belilah sarung dan berikan ke masyarakat, calon pemilihmu," kata M Hudaya yang dikenal perajin sarung khas Pekalongan.
Tawaran M Hudaya itu juga disambut H Yusuf Achmad yang mengatakan, bila itu terwujud ini bentuk kepedulian kaum politisi. Meniti karier politik sambil menggairahkan dunia usaha kecil dan menengah di mana saja, khususnya Pekalongan.
Perajin lain asal Doro, Pekalongan, Gatot Wibowo, mengemukakan, ide sarung politik itu menarik. Usahanya siap memenuhi order para politisi, kalau perlu jangan hanya sarung, tetapi juga celana jins.
"Saya punya produk jins dengan merek Nando Jeans, produk ini sudah dikenal di Pasar Tanah Abang, Jatinegara, maupun Solo. Kalau perlu kasih merek si Polan Jeans, sesuai nama politisi yang memesan," kata Gatot.
Sebagai perajin kecil garmen, Gatot memiliki sekitar 50 pekerja yang selama enam hari membantu menyelesaikan celana jins dan pakaian. Mereka bekerja tanpa mengenal giliran kerja (sif), kecuali hari Jumat dalam tradisi masyarakat Pekalongan merupakan hari libur kerja.
Politisi obral dana
Satu unit usaha kecil lazimnya memiliki sub-usaha ikutan yang merupakan industri rumah tangga, jumlahnya lebih dari 20 rumah, kebanyakan kaum perempuan yang menerima order dan menyelesaikan.
Contohnya, mereka mengerjakan pemasangan kancing celana, membuat aksesori hiasan penutup kantong. Pekerjaan remeh-temeh ini bisa memberi tambahan penghasilan minimal Rp 60.000 per orang per minggu sesuai volume order yang mereka dapatkan.
Pemahaman politisi pasti obral dana supaya dipilih di Pemilu 2009 saja membuat perajin sangat berharap juga dapat berkah. Gatot Wibowo, M Hudaya, juga puluhan ribu perajin lain mulai sadar mereka tak mau hanya jadi obyek pemilu, tapi calon legislatif yang bersedia membantu usaha pasti jadi pilihan pada Pemilu 2009. Dana Pemilu 2009
Politisi muda asal Partai Golkar Jawa Tengah M Iqbal Wibisono mengemukakan, untuk memenangkan perebutan suara pada Pemilu 2009 tidak kecil dana yang perlu disiapkan. Masyarakat di desa sudah membudaya dengan kebiasaan mereka bersedia menggunakan hak suara asal ada uang transpor.
"Saya menghitung, supaya bisa jadi anggota DPR butuh minimal 70.000 suara atau dukungan 70.000 pemilih. Bila hanya diberi kaus bergambar saya, bila harga Rp 6.000 per kaos sudah dibutuhkan dana Rp 455 juta. Itu baru kaus sebagai identitas, belum lagi untuk membangun komitmen supaya tetap memilih saya," ujar Iqbal Wibisono.
Kenapa harus kaus, menurut perajin Bachtiar, kaus itu hanya menguntungkan pengusaha besar. Kaus harus dipesan di Bandung dan perajin kecil tidak mampu menggarapnya. Lain kalau politisi itu memesan sarung atau celana jins yang menjadi sentral fokus usaha kecil, mikro, dan menengah (UMKM) yang di tiap daerah selalu ada, termasuk usaha kecil konveksi. Imam Ismanto yang juga Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Pekalongan memaparkan, di tengah karut-marut problem bangsa ini, perajin garmen dan produk tekstil Pekalongan terus produksi. Ada sekitar 20.000 unit usaha lebih, usaha kecil menengah.