
![]() |
|
|
Kompas/Wisnu Widiantoro / Kompas Images
Warga menikmati berbelanja sayuran yang dijual pedagang Pasar Modern, Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang. BSD merupakan salah satu pasar tradisional terbersih. Di pasar itu, Sabtu (19/7), Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mencanangkan Hari Pasar Bersih Nasional. Dalam pencanangan itu dilakukan pula kerja bakti membersihkan 717 pasar tradisional di seluruh Indonesia. Kerja bakti itu dilakukan lebih dari 7.000 karyawan jaringan Kantor Cabang Danamon Simpan Pinjam. |
TANGERANG, KOMPAS - Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menyatakan sudah waktunya pasar-pasar tradisional di Jakarta dan kota-kota di Indonesia dikelola secara profesional. Salah satu pasar tradisional yang dapat dijadikan contoh adalah Pasar Modern di BSD, Serpong, Kabupaten Tangerang, Banten.
”Pasar tradisional di BSD ini dikemas modern dan profesional. Pasar tradisional ini mampu memikat banyak warga untuk berbelanja meskipun di sekitar pasar ini terdapat enam raksasa ritel. Pasar tradisional ini tetap hidup dan selalu ramai. Pemerintah daerah di berbagai kota di Indonesia patut mencontoh pengelolaan pasar di BSD,” kata Mari Elka Pangestu seusai mengunjungi Pasar Modern BSD, Sabtu (19/7). Hadir antara lain Wakil Bupati Tangerang Rano Karno dan Direktur PT BSD Soegito Hartanto.
Menurut Mari, dalam dua tahun terakhir ini, setiap kali bertemu dengan pengurus asosiasi pasar, dia sering mengingatkan agar pasar-pasar tradisional direvitalisasi dan dikelola secara profesional. Departemen Perdagangan memiliki buku pedoman pengelolaan pasar tradisional sebagai buku pegangan bagi pemerintah daerah.
”Sebenarnya biaya bukan menjadi kendala. Yang terutama adalah komitmen pemerintah melakukan revitalisasi pasar. Kalaupun dana tersedia, pasar tradisional harus dapat dikelola dengan profesional dan dijaga dengan baik. Pemda harus memberikan insentif kepada pengembang yang membangun pasar tradisional seperti di BSD ini. Sebab, retribusi dari pasar tradisional cukup besar kontribusinya bagi pendapatan asli daerah,” kata Mari.
Dalam waktu dekat, Departemen Perdagangan mengeluarkan pedoman mengelola pasar tradisional yang baik dengan memerhatikan lingkungan sosial ekonomi sekitarnya. ”Kami punya dana untuk revitalisasi pasar dan harus ikuti pedoman yang sudah disusun,” ujar Mari Pangestu.
Mari menambahkan, data-data menunjukkan, 60 persen masyarakat berbelanja di pasar tradisional, atau 26 kali dalam satu bulan. Yang penting, frekuensi orang berbelanja di pasar tradisional tidak berkurang.
”Saya sendiri minimal seminggu sekali berbelanja di pasar tradisional, baik memantau perkembangan harga maupun membeli bahan kebutuhan sehari-hari,” katanya.
Potensi pasar tradisional di Indonesia, menurut Mari, sangat besar. Tercatat 12,6 juta tenaga kerja terserap di sektor ini atau sekitar 10 persen dari jumlah tenaga kerja nasional.
”Pasar tradisional bukan sekadar tempat berbelanja, tetapi juga menjadi pasar wisata. Seperti di Pasar Modern BSD ini, pada malam hari menjadi lokasi wisata kuliner, tempat orang mencari makan. Yang seperti ini yang harus dikembangkan,” kata Mari Pangestu.
Diingatkan, peran pemda merevitalisasi pasar tradisional sangat besar dan pemda memang bertanggung jawab untuk melakukan tugas ini dengan dana APBD. Departemen Perdagangan memiliki dana revitalisasi pasar tradisional. Tahun lalu dikucurkan dana Rp 80 miliar untuk merevitalisasi 80 pasar. Tahun 2008 disediakan dana Rp 112 miliar untuk merevitalisasi 104 pasar tradisional.
Rano Karno menambahkan, Pemerintah Kabupaten Tangerang baru saja membentuk perusahaan daerah pasar. ”Tahun 2009 akan dibangun sembilan pasar tradisional baru dengan standar seperti di BSD ini,” kata Rano Karno. (KSP)