
![]() |
Dari 76 medali yang diperebutkan cabang karate Pekan Olahraga Nasional XVII Kalimantan Timur 2008, berapakah medali yang didapatkan karateka yang berjaya di PON XVI Sumatera Selatan? Sebanyak 34 medali dimenangi karateka peraih medali PON Sumatera Selatan. Bahkan, 19 medali diperoleh karateka yang sama di kelas yang sama.
Tidak heran jika setiap menjelang pertandingan sebagian pelatih karate berujar, ”Jangan takut, itu tidak ada apa-apanya. Dia orang baru.”
Banyaknya medali yang diraih karateka ”lama” membuat Kepala Bidang Bina Prestasi Pengurus Besar Federasi Olah Raga Karate-Do Indonesia Madju Dharyanto menilai karate di PON XVII gagal menemukan karateka baru. ”Yang muncul masih wajah yang itu-itu juga. Tidak ada kejutan,” kata Madju.
Yang sedikit berbeda, Jawa Timur kali ini merebut gelar juara umum dari DKI Jakarta, yang biasanya merajai cabang bela diri ini. Pada PON XVI, Jawa Timur hanya meraih 2 emas, 2 perak, dan 5 perunggu, tetapi kali ini meraih 4 emas, 3 perak, dan 4 perunggu. Karateka awal 1990-an, Umar Syarief, menjadi bintang dengan mempersembahkan tiga medali emas, dari nomor kumite kelas +80kg putra, kumite kelas bebas putra, dan kumite beregu putra.
”Memang terjadi perubahan komposisi perolehan emas. Namun, sebenarnya peraih medali masih muka-muka lama, ada yang berpindah ke daerah lain. Itu fenomena yang terjadi setiap penyelenggaraan PON dan terus terang itu mempersulit kami memonitor pembinaan di daerah karena semua berorientasi meraih medali,” kata Madju.
Madju mengapresiasi keberhasilan Jawa Timur. ”Umumnya pencapaian prestasi para karateka biasa saja. Hanya seorang karateka yang luar biasa, Umar Syarif dari Jawa Timur. Ia berkembang karena mengikuti kompetisi karate di Eropa. Kita harapkan setiap tim giat mencari pengalaman bertanding di negara lain. Daerah yang sekarang juga menarik untuk dilihat adalah Kalimantan Timur karena mereka menampilkan karateka baru,” kata Madju.
Pelatih tim karate Jawa Timur, Bonny Eko Priyambodo, puas dengan keberhasilan timnya menjuarai PON XVII. ”Kami tidak menargetkan diri menjadi juara umum, tetapi kami memang mematok target empat medali emas, sesuai hasil Pra-PON. Kami sempat kehilangan target emas dari nomor kumite kelas -60kg putri, tetapi hari ini kami mendapat penggantinya,” kata Bonny.
Kekecewaan melanda DKI Jakarta, yang gagal memanfaatkan banyak peluang mendulang medali emas. ”Senin lalu kami memiliki enam karateka yang menjadi finalis enam nomor pertandingan. Namun, kami hanya berhasil memenangi satu medali emas, sementara lima emas seperti dibagi-bagikan ke daerah lain. Kami merasa menjadi target operasi karena keberpihakan wasit. Jadi meskipun kami hanya mendapatkan tiga medali emas, saya puas karena karateka sudah berjuang maksimal,” kata Koordinator Pelatih Karate DKI Jakarta Syamsuddin.
Sulawesi Selatan juga meraih empat emas, dua emas dihasilkan dari nomor kata perorangan putra dan beregu putra. Dua emas dari nomor kata itu bahkan persis mengulangi hasil PON XVI. Faizal Zainuddin merebut medali emas kata nomor perorangan dan beregu.
”Kami masih merajai nomor kata putra, baik perorangan dan beregu. Memang secara keseluruhan tidak ada hasil yang mengejutkan dari PON XVII. Peta kekuatan karate di Indonesia masih sama. Kumite juga merata,” kata pelatih tim karate Sulawesi Selatan, Agus Salim.
Pelatih karate Jawa Barat, Ariston Sutandio, juga puas dengan perjuangan karatekanya dalam PON XVII. ”Sejak awal, kami memang menargetkan dua medali emas dan kami berhasil memenuhi target itu. Medali yang lain, khususnya dari nomor kumite beregu putra sesungguhnya merupakan kejutan. Saya sangat puas dengan perjuangan mereka merebut perunggu kumite beregu putra, bahkan perunggu itu menurut saya nilainya sama dengan emas,” kata Ariston.
Ketua Umum KONI Sumatera Utara Gus Irawan Pasaribu amat puas dengan dua emas timnya. ”Donny memang sejak awal ditargetkan meraih emas karena dia peraih medali perunggu SEA Games Thailand 2007 di kelas yang sama. Namun, kami tidak menargetkan Pulungan untuk memenangi emas kumite kelas -55kg. Ini sungguh kejutan,” kata Gus Irawan Pasaribu.
Ungkapan kekhawatiran Madju tampak tidak sejalan dengan kegembiraan pelatih karate daerah. ”Kalau muka lama itu tetap mendominasi, jangka panjang kita akan kesulitan berprestasi di internasional. Saya pikir sangat layak jika kita mempertimbangkan pembatasan umur dalam PON, khususnya di karate,” kata Madju. (Aryo Wisanggeni)