Minggu, 14 Maret 2010
Selama Mengayuh, Copenhagen Tak Pernah Terasa Jauh

Minggu, 20 Juli 2008 | 01:26 WIB

 

 

 

Zaki Habibi

Kring… kring… kriiing. Suara serupa bel sepeda itu terdengar dari arah belakang saat kaki melangkah mencari-cari pintu keluar dari terminal kedatangan Bandar Udara Copenhagen, Denmark.

Di dalam terminal bandara? Ya, tetapi rupanya bukan terpasang di sepeda, melainkan pada sebuah alat angkut semacam forklift untuk membawa berbagai barang. Unik juga rasanya. Di sebuah bandar udara modern bergaya kontemporer khas Skandinavia, lengkap dengan lantai parquet-nya, tiba-tiba melintas alat pendukung kerja yang menggunakan bel sepeda.

Sempat terpikir apakah itu sebatas aksesori khas saja untuk menarik perhatian pendatang? Akan tetapi, setelah melanjutkan perjalanan dengan Metro alias kereta bawah tanah menuju ke tengah kota, pikiran saya itu terbantahkan. Tepat di atas stasiun Metro di Forum, di dekat Jalan Vodroffsvej, tempat saya turun, terhamparlah pemandangan khas kota ini. Puluhan sepeda diparkir di salah satu bagian pelataran. Sebagian berjajar rapi, sebagian lainnya berserakan begitu saja.

Sepeda memang menjadi warna khas yang identik dengan kota berpenduduk total 1,8 juta jiwa itu. Pantas bila kemudian bel sepeda menjadi alat yang lebih dari sekadar aksesori tatkala menempel di sebuah alat angkut di bandara. Ini sekaligus merupakan aikon kultural yang menjadi penanda bagi Copenhagen. Tak ubahnya caping bagi Hanoi di Vietnam atau belangkon bagi Jogja di Indonesia.

Jalur khusus sepeda

København, demikian warga Denmark mengeja dan menuliskan nama ibu kota mereka, adalah pusat bisnis dan pengembangan ilmu pengetahuan. Kota ini juga punya predikat sebagai salah satu kota termahal di dunia. Selain itu, Copenhagen menempati peringkat kesembilan dalam daftar kota-kota di dunia yang memiliki tingkat penghasilan tertinggi bagi warganya. Tentu saja, termasuk kota dengan tingkat pajak yang tinggi pula.

Dengan segenap predikat yang serba ter... ter… tersebut, Copenhagen rupanya tetap tumbuh sebagai kota yang tidak mendehumanisasi warganya. Salah satu wujudnya adalah dengan memberikan jaminan penuh bagi moda transportasi bernama sepeda. Tanggal 4 Juni lalu, warga Copenhagen genap seperempat abad telah memiliki jalur khusus bagi sepeda, terutama di wilayah urban yang kemudian menyebar juga hingga ke daerah sub-urbannya.

Dewan Kota secara bertahap menerapkan kebijakan dalam sektor transportasi dan tata ruang kota dengan meletakkan manusia sebagai faktor utama. Dengan kata lain, dalam setiap kebijakan dan implementasi pembangunan kota, kebutuhan manusia sebagai warga kotalah yang menjadi prioritas. Ketika kebutuhan akan sarana transportasi pribadi yang murah, efisien, sekaligus ramah lingkungan seperti sepeda mengemuka, Dewan Kota mendukung melalui pembuatan jalur khusus bagi sepeda.

Seluruh kendaraan di Copenhagen berjalan di sisi kanan. Secara berturut-turut struktur ruas jalan di kota ini adalah trotoar bagi pejalan kaki, lalu jalur khusus sepeda selebar 2,2 meter. Kemudian, di sisi kirinya jalur khusus bus kota dan barulah di tengah adalah jalur cepat untuk kendaraan roda empat atau lebih.

Tidak berhenti sampai di situ, kebijakan infrastruktur juga menyediakan lampu pengatur lalu lintas bagi seluruh pengguna jalan, termasuk pejalan kaki dan pengendara sepeda. Oleh karena itu, amat jarang terjadi pejalan kaki atau pengendara sepeda diserempet mobil karena tidak ada kesemrawutan jalur. Tak ada polisi di setiap perempatan, apalagi ”polisi cepek” di tempat memutar. Semua berjalan dalam otomatisasi berbasis kesadaran pribadi.

Jaminan atas keamanan dan kenyamanan mengendarai sepeda di Copenhagen makin kuat, khususnya sejak Mei 1995. Kala itu diluncurkan program sepeda komunitas bertajuk ByCyklen-City Bikes untuk mendorong agar makin banyak orang bersepeda. Kota menyediakan sepeda-sepeda yang tersebar di titik-titik tertentu yang dapat digunakan siapa saja dengan membayar sejumlah uang tertentu. Seiring waktu, program ini terus berjalan meski terkadang kalah ”bersaing” dengan rental-rental sepeda, utamanya pada musim panas. Saat pelancong banyak berdatangan ke Copenhagen pada musim panas, setiap orang bisa menikmati kota dengan bersepeda hanya dengan biaya sewa 20 krone Denmark atau sekitar Rp 40.000. Untuk berapa lama? Seharian sepuasnya.

Mendamba kota humanis

Sepeda yang tersebar di mana-mana dan telah menyita perhatian saya selama di negeri itu tiba-tiba menerbangkan angan ke kota asal, Jogja di Indonesia. Kota ini juga sempat punya kultur bersepeda yang kental. Meski belum hilang sepenuhnya—semoga jangan—kini kultur sepeda sudah jauh tergerus. Ribuan sepeda motor menyita jalanan, belum lagi jumlah mobil yang juga turut melonjak. Dua tahun lalu sempat ada kebijakan untuk membuat marka baru guna memberi jalur khusus bagi sepeda di sejumlah ruas jalan. Sebuah pusat studi di Universitas Gadjah Mada juga sempat menginisiasi program Sepeda Hijau. Sejumlah sepeda disediakan di lingkungan kampus dengan harapan setiap orang dapat menggunakannya untuk mengurangi penggunaan kendaraan bermotor.

Namun, tidak banyak yang tersisa kini. Jumlah sepeda makin menyusut, entah raib ke mana. Sementara jalur sepeda pun tinggal menyisakan garis putih pemisah tanpa makna. Kala siang jalur sepeda tersebut dilalui sepeda motor dan mobil, sementara saat malam tiba jalur itu menjadi tempat parkir sepeda motor yang pengendaranya mampir makan di warung-warung tenda kaki lima. Mengenaskan, upaya-upaya mulia dan progresif itu muspra atawa sia-sia.

Kita memang tak perlu meniru-niru pola pertumbuhan yang terjadi di kota-kota besar di Eropa, termasuk Copenhagen. Karena memang setiap kota punya kultur pertumbuhannya sendiri. Namun, cukup penting dan berguna kiranya untuk belajar dari pola kebijakan yang diambil Dewan Kota Copenhagen secara lintas sektor dan saling terkoordinasi.

Bagaimanapun, kota adalah sebuah ruang interaksi di antara berbagai manusia dalam pola yang dinamis dan terus bertumbuh. Kultur bersepeda adalah penanda bagaimana modernisasi dan situasi urban ternyata tetap dapat berjalan secara humanis. Kring… kring… kring. Suara bel sepeda itu menggema lagi dan agaknya kita perlu segera sadar dan bersikap sebelum semuanya makin terlambat.

ZAKI HABIBI, Partisipan Konferensi Copenhagen Consensus 2008 the Youth Forum, penulis dan pemerhati persoalan Media and Urban Studies, tinggal di Yogyakarta.

Share on Facebook
Nilai 7 A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: