
Senin, 21 Juli 2008 | 01:40 WIB
Setiap daerah memiliki suvenir yang khas. Jika Anda pergi ke Bali tentu akan membawa suvenir kerajinan tangan khas Bali seperti patung garuda atau topeng leak. Namun, jika Anda pergi ke Sumatera Selatan, suvenir apakah yang menjadi ciri khas selain pempek dan songket?
Peluang itu dilihat oleh Maruk Yulianto (30) yang lebih akrab disapa Yayan. Yayan bersama teman-temannya yang tinggal di kawasan Jalan Lunjuk Jaya, Palembang, pada tahun 2003 merintis usaha membuat suvenir khas Sumsel yang belum pernah dibuat. Suvenir itu berupa miniatur perahu layar zaman kerajaan Sriwijaya, miniatur jembatan Ampera, dan miniatur rumah adat Sumatera Selatan.
Menurut Yayan yang ditemui Kompas, Minggu (20/7) di rumah sekaligus tempat memajang miniatur produksinya di kompleks perumahan OPI Jakabaring, pembuatan berbagai miniatur yang khas Sumatera Selatan itu dimulai dari hobi.
”Saya hobi mengumpulkan suvenir dari berbagai daerah dan luar negeri. Lalu saya terpikir membuat suvenir khas Sumatera Selatan karena pada waktu itu belum ada yang membuat,” kata alumni Teknik Kimia Unsri itu.
Awalnya, Yayan bersama teman-temannya hanya mampu membuat satu miniatur setiap hari. Produksi miniatur saat itu belum dilakukan dengan profesional dan terkesan setengah-setengah. Para pembuatnya masih mengalami kesulitan secara teknis maupun pemasaran.
”Order pertama kami datang dari Real Estat Indonesia (REI) Sumsel tahun 2003. Waktu itu kami mendapat pesanan 50 buah miniatur perahu jukung,” kata Yayan yang lahir di Palembang, 13 Juli 1978.
Setelah satu per satu teman-temannya meninggalkan bisnis membuat miniatur karena mempunyai pekerjaan lain dan berkeluarga, tinggal Yayan yang masih bertahan melanjutkan bisnis tersebut.
Yayan, yang pertama kali memiliki ide dan desain pembuatan miniatur itu, merasa sayang meninggalkan bisnis yang telah dirintisnya sejak awal. Kini bisnis yang dirintis Yayan menggunakan nama Putra Sriwijaya Art.
Melalui berbagai upaya mengikuti pameran di Palembang, produk miniatur buatan Yayan semakin dikenal. Pada tahun 2004, Yayan kembali mendapat order untuk membuat miniatur perahu Sriwijaya sebanyak 100 buah. Miniatur itu diberikan kepada tamu penting saat Pekan Olahraga Nasional (PON) XVI di Sumatera Selatan.
Usaha keras Yayan tidak sia-sia karena PT Pupuk Sriwijaya (Pusri) bersedia memberikan kredit lunak untuk mengembangkan usaha pembuatan miniatur.
Saat ini Yayan disibukkan dengan pesanan miniatur yang dipesan sebuah perusahaan farmasi di Palembang. Pesanan itu harus diselesaikan dalam waktu tiga bulan.
”Untuk sementara, pembuatan miniatur di luar pesanan dihentikan. Kami kewalahan memenuhi target membuat miniatur sesuai pesanan,” ujar suami Dewi Ariyanti itu.
Menurut Yayan, kendala yang dihadapi usahanya hampir sama dengan kendala yang dihadapi usaha kecil pada umumnya, yaitu kekurangan modal. Yayan mengatakan, telah berusaha mencari kredit ke perbankan namun persyaratan agunan yang diberikan terlalu berat bagi usaha kecil.
”Seharusnya agunan jangan berupa sertifikat tanah atau rumah, itu terlalu berat. Lebih baik agunan untuk usaha kecil adalah usaha itu sendiri,” kata Yayan.
Yayan memiliki cita-cita untuk memasarkan produk miniatur khas Sumatera Selatan lebih luas. Sejumlah produknya telah diekspor melalui pihak ketiga, tetapi Yayan masih belum puas. Yayan ingin memperluas sendiri pemasaran produk miniaturnya tidak hanya melalui pameran atau dari mulut ke mulut. (WAD)