
Senin, 21 Juli 2008 | 01:40 WIB
Naiknya harga bahan bakar minyak tidak hanya kalangan dialami usaha besar. Para perajin kecil dengan modal terbatas pun dibuat lebih terpuruk lagi akibat kondisi ini.
Kenaikan harga BBM telah mengakibatkan harga bahan baku makin mahal. Sahim, perajin rotan di Paal V, Kotabaru, Kota Jambi, mengeluhkan harga bahan baku rotan yang ikut naik sekitar 20 persen. Kenaikan ini terjadi seiring keluarnya regulasi baru pemerintah yang menaikkan harga BBM.
Rotan halus kering, misalnya, kini menjadi Rp 600.000 per kuintal. Padahal, harga sebelumnya masih Rp 500.000, sedangkan rotan bulat sepanjang tiga meter harganya kini Rp 2.500 dari sebelumnya Rp 2.000 per batang.
”Ya, kami juga tidak bisa apa-apa. Semuanya ikut naik, sampai-sampai rotan pun tambah mahal,” ujarnya.
Rotan didatangkan oleh pedagang dari Kabupaten Batanghari, sekitar dua jam perjalanan darat menuju bengkel usaha Sahim.
Menurut Sahim, kenaikan harga rotan ini cukup membuatnya dilematis. Pasalnya, dengan naiknya harga BBM seluruh produk sudah otomatis naik juga. Ini mengakibatkan produk rotan kurang diperhitungkan oleh calon pembeli.
”Mereka yang semula ingin membeli perabotan dari rotan, jadi pikir dua kali lagi untuk membeli,” ujarnya.
Oleh karena itu, Sahim tak berani mahal-mahal mematok harga baru perabotan buatannya. Kursi rotan untuk di beranda rumah misalnya, yang biasanya Rp 140.000 per buah, kini dinaikkan menjadi Rp 150.000. ”Walau harga bahan baku naik 20 persen, tidak mungkin saya ikut menaikkan harga jual sebesar itu pula. Bisa-bisa nantinya malah benar-benar tak ada yang mau beli lagi,” kata pria asli Tegalwangi, Pleret, Cirebon ini.
Dalam sebulan terakhir, volume penjualan perabot rumah dari rotan buatannya turun drastis. Sahim biasanya dapat menjual sekitar 40-an unit berupa kursi, meja, pembatas ruangan, atau keranjang. Sebulan ini, tambahnya, hanya maksimal 20 unit yang bisa terjual. Itu pun banyak pembeli yang menawar habis-habisan dari harga produknya.
Dengan kian mahalnya harga bahan baku, sebenarnya Sahim juga membutuhkan tambahan modal. Ini karena selain untuk membayar bahan baku, ia juga harus menaikkan upah kerja bagi dua pegawainya. Sayang, kata Sahim, sejauh ini hal itu belum dapat direalisasi karena ia sendiri mengaku tidak berhasil mengajukan pinjaman modal kepada pemerintah.
”Saya pernah mengajukan pinjaman modal ke Pemerintah Kota Jambi, tetapi dana itu sampai sekarang tidak mengalir. Persyaratannya membuat saya pusing,” ujarnya. (ITA)